Kinerja Keuangan Garuda Indonesia Jeblok - Catatkan Rugi Rp 2,63 Triliun

NERACA

Jakarta –Di penghujung tahun ini, performance kinerja keuangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) belum menunjukkan pemulihan dan sebaliknya masih membukukan rapot merah. Tercatat sampai dengan sembilan bulan pertama tahun ini, maskapai penerbangan plat merah ini masih merugi sebesar US$ 219,51 juta atau setara Rp2,63 triliun (kurs Rp12.000). Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (13/11).

Dijelaskan, hingga akhir kuartal tiga perseroan mengalami peningkatan mencapai 1.390% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya US$ 14,73 juta. Hal ini lebih disebabkan karena beberapa pos beban perseroan, seperti beban usaha, dan beban keuangan sepanjang periode tersebut terus mengalami peningkatan.

Dalam sembilan bulan, pendapatan usaha perseroan hanya meningkat 4,1% menjadi US$ 2,8 miliar dibanding periode sama tahun sebelumnya US$ 2,69 miliar. Kontribusi pendapatan usaha terbesar perseroan sepanjang periode tersebut berasal dari penerbangan berjadwal sebesar US$ 2,47 miliar, sementara dari penerbangan lainnya sebesar US$ 220,39 juta dan dari penerbangan tidak berjadwal sebesar US$ 107,12 juta.

Seiring meningkatnya pendapatan usaha, beban usaha perseroan ikut mengalami peningkatan 12,96% menjadi US$ 3,05 miliar dari sebelumnya US$ 2,70 miliar di periode sama tahun lalu. Hasil ini membuat perseroan membukukan rugi usaha sebesar US$ 250,35 juta di periode tersebut dibanding periode sama tahun sebelumnya yang masih mampu membukukan laba usaha sebesar US$ 29,41 juta.

Selain itu, adanya peningkatan pada beban keuangan dari sebelumnya US$ 44,30 juta di periode sembilan bulan tahun lalu menjadi US$ 57,84 juta membuat rugi sebelum pajak di periode tersebut makin tergerus menjadi US$ 298,79 juta dari sebelumnya US$ 2,25 juta.

Kendati kinerja keuangan maskapai penerbangan pelat merah ini masih kurang bagus, namun aset perseroan justru mengalami pertumbuhan di akhir September 2014, yakni menjadi US$ 3,16 miliar dari posisi akhir tahun lalu US$ 2,95 miliar. Adapun untuk ekuitas hingga akhir September 2014 tercatat sebesar US$ 1,04 miliar, atau menurun dibanding akhir 2013 yang tercatat sebesar US$ 1,12 miliar.

Kemudian di kuartal tiga, perseroan juga berhasil mengangkut 20,9 juta penumpang atau tumbuh sebesar 15,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 18,1 juta penumpang. Selain peningkatan penumpang, Garuda juga berhasil meningkatkan muatan kargo yang diangkut pada kuartal II/2014 sebesar 15,4% menjadi 292.888 ton.

Kata Direktur Utama Garuda Indonesia, Emirsyah Satar, sesuai siklus industri penerbangan yang cenderung meningkat pada periode semester II,”Performa perseroan secara keseluruhan mulai menunjukkan pertumbuhan positif pada kuartal tahun ini, terutama pada periode Agustus dan September 2014, seiring dengan meningkatnya permintaan dan juga pelaksanaan penerbangan haji,”ungkapnya.

Pertumbuhan kinerja positif juga dicatatkan oleh entitas anak usaha Garuda yang bergerak di segmen Low Cost Carrier (LCC), Citilink. Seiring dengan program pengembangan Citilink sebagai maskapai yang beroperasi secara mandiri, hingga periode kuartal III tahun ini mencatatkan pertumbuhan jumlah penumpang hingga 39,3% dari sebanyak 3,8 juta penumpang menjadi 5,3 juta penumpang.

Garuda berhasil meningkatkan market share di pasar domestik menjadi dari 27,9% menjadi 29,4%. Pasar penumpang pesawat udara domestik Garuda pada periode Januari-Agustus 2014 mengalami pertumbuhan sebesar 7,4%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan maskapai lain yang justru negatif 3%. (bani)

Related posts