Bioteknologi Mampu Kurangi Impor Pangan

Jumat, 14/11/2014

NERACA

Jakarta – Ketua Masyarakat Bioteknologi Pertanian Indonesia Sidi Asmono menyatakan bahwa pemanfaatan bioteknologi dalam pertanian dapat meningkatkan produktivitas tanaman pangan sehingga Indonesia dapat mengurangi impor. Sidi mengatakan Indonesia sudah meneliti beberapa tanaman rekayasa genetik yang dapat meningkatkan produktivitas petani karena memiliki sifat tahan hama dan penyakit, salah satunya tebu PRG event NXI-4T yang merupakan tebu hasil bioteknologi pertama di dunia.

“Tebu PRG itu dapat meningkatkan produksi hingga 30 persen, coba hitung produksinya bila sudah ditanam selama lima tahun, kita bisa mengurangi impor gula karena produksi tebu nasional sudah mencukupi,” ujarnya seperti dikutip dari Antara, Kamis (13/11).

Selain tebu PRG, berbagai institusi Indonesia seperti Puslit Biogen LIPI, BB- Biogen dan IPB telah membuat penelitian rekayasa genetika, tanaman pangan dan tanaman perkebunan. Mereka merekayasa genetika tanaman dengan tujuan menghasilkan karakteristik tertentu, misalnya jagung yang tahan penggerek batang, tebu yang tahan kekeringan dan padi yang kaya kandungan beta karoten.

Meskipun demikian, pemerintah Indonesia hingga saat ini belum mengeluarkan regulasi yang mengizinkan penyebarluasan benih-benih hasil bioteknologi tersebut untuk ditanam oleh para petani. Butuh berbagai proses pengujian yang membuktikan bahwa benih rekayasa genetik tersebut aman untuk dikonsumsi dan juga bagi lingkungan yang melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Badan POM, Balai Kliring Keamanan Hayati.

Ia menyebut Filipina dan Vietnam sebagai negara di Asia Tenggara yang telah menerapkan bioteknologi dalam pertanian. "Thailand akan menyusul, Kamboja dan Laos juga sudah menyiapkan diri," katanya. Ia berharap pemerintah dapat mempercepat izin implementasi bioteknologi di Indonesia. "Vietnam itu tiga tahun lalu masih di belakang kita, namun proses mereka lebih cepat sehingga kini mereka sudah mendahului Indonesia soal bioteknologi," katanya.

Sementara itu, menurut Ketua Konsorsium Bioteknologi Indonesia (KBI) Misri Gozan, bioteknologi merupakan upaya intervensi yang dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas lahan yang terbatas di tengah meningkatnya kebutuhan pangan seiring pertumbuhan penduduk. "Jumlah penduduk dan persediaan pangan selalu berkejaran, ibaratnya seperti gas dan rem. Bila pangan terbatas maka ada ancaman krisis pangan,” katanya.

Direktur Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis IPB, Dr Arief Daryanto menyatakan mengungkapkan perkembangan teknologi untuk sektor pertanian menjadi hal penting untuk menghasilkan komoditas pertanian dengan kualitas yang lebih baik. “Dampak positif inovasi dan teknologi pertanian, peningkatan produktivitas pertanian,” katanya.

Kondisi tersebut, tambahnya akan mampu mengurangi impor bahan pangan mampu mengurangi impor bahan pangan yang nilainya terus bertambah dari tahun ke tahun. Keuntungan inilah yang juga akan menimbulkan efek berantai ke industri dan sektor lainnya seperti peternakan, perunggasan, makanan olahan dan sebagainya. “Kalau negara lain sudah menerapkan dan hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan bioteknologi memberikan keuntungan ekonomi, kenapa kita tidak menerapkannya,” katanya.

Menurut dia, sudah saatnya bioteknologi diterapkan dalam sektor pertanian Indonesia, agar tidak tertinggal dengan negara tetangga yang sudah menerapkan. Sebab, selain mampu meningkatkan produktivitas, pendapatan petani, juga mampu menghasilkan produksi yang berkualitas. Penerapan bioteknologi, katanya bisa mengatasi hambatan-hambatan pertanian yang dihadapi petani seperti perubahan musim, ancaman serangan hama dan penyakit serta keterbatasan lahan.

Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Direktur PG Economics Limited, Graham Brookes, penerapan bioteknologi di sejumlah negara maju telah mampu meningkatkan produktivitas pertanian. “Seperti contoh di Filipina yang sudah lebih dulu menerapkan bioteknologi, dapat menghasilkan keuntungan sebesar US$135 per hektar pada musim kering dan US$125 per hektar selama musim hujan. Sementara petani Indonesia saat ini hanya mampu menghasilkan US$7 per hektar,” ujar Brookes.

Brookes memaparkan hasil studi terbaru yang dilakukan selama 17 tahun ini mengenai dampak sosial-ekonomi dan lingkungan penerapan bioteknologi. Dalam pemaparannya, Brookes mengatakan, bahwa tanaman bioteknologi telah membantu petani baik di negara maju maupun negara berkembang untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus penghasilan petani. “Hasil studi ini menujukkan, penerapan bioteknologi mampu mendorong peningkatan pendapatan petani hingga total 116,6 miliar dolar dan justru petani meraup keuntungan tertinggi adalah petani dari negara berkembang dengan lahan sempit,” ujarnya.

Ia mengatakan, tanaman hasil bioteknologi senantiasa menjadi investasi yang menguntungkan bagi petani di seluruh dunia. “Sejak pertama diterapkan, 16,7 juta petani dari 29 negara telah menanam biotek di lahan seluas 1,25 miliar hektar atau 25 persen lebih besar dari total tanah di Amerika Serikat, atau Tiongkok dan 90 persen petani berasal dari negara-negara berkembang,” ujar Graham.

Bioteknologi bisa dikatakan sebagai metode pemuliaan tanaman yang lebih modern, yakni dengan cara perakitan tanaman transgenik menggunakan teknologi DNA rekombinan. Hanya gen interest pembawa karakter unggul yang di dipindahkan melalui metode transformasi, sehingga mempercepat seleksi varietas baru yang diharapkan 5 sampai 10 tahun lebih cepat. Sedangkan, bila menggunakan metode tradisional membutuhkan waktu 10 sampai 15 tahun. Teknologi ini dipercaya dapat mengatasi kurangnya produksi pangan nasional dengan meminimalisir angka impor bahan pangan yang semakin merajalela.