Defisit Neraca Perdagangan Sentuh US$1,6 Miliar

September Defisit US$270 Juta

Selasa, 04/11/2014

NERACA

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada September 2014 mengalami defisit sebesar US$270,3 juta. Hal itu berdasarkan nilai ekspor yang mencapai US$15,28 miliar sedangkan impor mencapai US$15,55 miliar. Sehingga secara komulatif dari Januari sampai September 2014, neraca perdagangan Indonesia menyentuh angka US$1,66 miliar. Defisit neraca perdagangan yang menyentuh angka US$1,6 miliar dipicu dari neraca perdagangan migas yang pada Januari-September 2014 mencetak defisit sebesar US$9,617 miliar.

Sementara untuk surplus neraca nonmigas pada Januari-September 2014 tercatat mencapai US$7,949 miliar tak mampu untuk mengkompensasi tingginya defisit minyak mentah yang mencapai US$3,127 miliar, dan defisit hasil minyak sebesar US$17,549 miliar. Pada periode sama, neraca perdagangan gas surplus US$11,059 miliar.

Dalam neraca perdagangan RI dengan ASEAN pada bulan September 2014 mengalami defisit sebesar US$34,3 juta. Perdagangan RI pada periode sama, mencetak surplus dengan negara-negara UE sebesar US$213,6 juta. “Defisit dengan Tiongkok paling tinggi mencapai US$1,437 miliar, dengan Jepang juga defisit US$180,6 juta, dan dengan Australia defisitnya US$216,2 juta,” ucap Suryamin di Jakarta, Senin (3/11).

Pada September 2014, Suryamin mengungkapkan bahwa nilai ekspor Indonesia mengalami peningkatan sebesar 5,48% dibandingkan bulan sebelumnya dan naik 3,87% jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu. Impor Indonesia selama bulan itu nilainya juga naik 5,09% dibandingkan bulan sebelumnya dan naik 0,23% dibandingkan bulan September tahun lalu. “Ini merupakan defisit bulan kelima pada tahun ini, tetapi defisitnya makin lama makin mengecil,” jelasnya.

Dia memaparkan, ekspor pada September 2014 mencapai US$15,28 miliar, sedangkan impor pada periode sama mencapai US$15,55 miliar. Dari sisi volume, neraca perdagangan September 2014 mengalami surplus 32,9 juta ton. “Volume ekspor pada September 2014 sebesar 46,04 juta ton, sedangkan impornya 13,16 juta ton,” ujar Suryamin.

Neraca migas mengalami defisit sebesar US$1,029 miliar, sementara neraca nonmigas mencetak surplus sebesar US$758,7 juta. Neraca perdagangan minyak mentah pada September surplus tipis sebesar US$179,5 juta, begitu pula dengan neraca perdagangan gas yang surplus sebesar US$1,005 miliar. “Tetapi, neraca perdagangan hasil minyak mengalami defisit sebesar US$2,213 miliar,” imbuh Suryamin.

Tugas Menteri

Indonesia memang masih dihantui oleh defisit neraca perdagangan. Maka dari itu, dengan terpilihnya Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati berharap agar Mendag bisa mencegah terjadinya defisit neraca perdagangan.“(Rahmat) harus bisa menjalin koordinasi baik dengan Menteri ESDM, Menteri Pertanian, serta Menteri Perindustrian (untuk mencegah defisit neraca perdagangan)," katanya.

Enny mengatakan, surplus perdagangan dari sektor nonmigas sudah mulai habis digerogoti defisit dari impor bahan bakar minyak. Koordinasi dengan Kementerian ESDM menurut dia akan bisa mengendalikan impor BBM. Adapun kerja sama dengan sektor pertanian dan perindustrian, lanjut Enny, dibutuhkan karena perdagangan tak selalu persoalan di sektor hilir. “Nanti, harus dibuat terobosan, mana-mana regulasi dan juga kesepakatan yang harus dievaluasi,” kata Enny.

Namun, lanjut Enny, Rahmat juga harus bisa berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan. Perdagangan di dalam negeri, kata dia, memerlukan banyak pembenahan distribusi agar lebih efisien. “Persoalan logistik ini bagiannya Pak Jonan (Ignatius Jonan). Tentu ini harus diharmonisasikan. Tapi tentu kita berharap RPJMN (Rencana Pembangungan Jangka Menengah Nasional) dan RKAP (Rencana Kerja Anggaran Kementerian) yang konsisten menekan defisit perdagangan bisa menjadi guide,” imbuh Enny.

Dilain sisi, Pengamat Ekonomi Sunarsip menilai bahwa neraca perdagangan 2014 akan tetap defisit. Sebabnya impor Minyak dan Gas (Migas) masih tinggi. Inilah yang menyebabkan surplus akan sulit terjadi. “Jangka pendek agak berat pemerintah dapat menekan defisit neraca perdagangan," ujar Sunarsip.

Sunarsip menjelaskan penyebab defisit sulit terhindarkan karena produksi minyak turun. Benar saja menurut dia, target lifting minyak bakalan terkoreksi. Pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2014 target lifting minyak mencapai 870 ribu barel per hari. Namun Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas (Migas) akan merevisi menjadi 804 ribu barel per hari.