Kadin-Kemendag Bantu Daerah Genjot Ekspor

Kamis, 30/10/2014

NERACA

Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) bekerjasama dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong aktivasi ekspor daerah melalui pembekalan prosedur ekspor, pelatihan dan kegitan promosi hingga bantuan permodalan bagi UKM dan pelaku usaha yang layak dan memenuhi syarat. “Untuk dapat melakukan ekspor UKM dan pengusaha daerah disyaratkan memiliki keahlian logistik, manajemen ekspor, pemasaran, keuangan dan hukum perdagangan internasional,” kata Ketua Komite Tetap Kadin Bidang Modal Ventura dan Pembiayaan Alternatif Safari Azis, dikutip dari Antara, Rabu.

Pengetahuan prosedur ekspor bagi UKM dan para pelaku usaha daerah dinilai masih sangat rendah, padahal potensi daerah untuk melakukan ekspor cukup besar dengan optimalisasi produksi komoditas-komoditas unggulan yang ada.

Kadin Indonesia, kata Safari, telah membentuk lembaga kemitraan pembiayaan Palapa Nusantara Berdikari yang diperuntukan bagi UKM dan para pengusaha anggota Kadin di daerah untuk mengembangkan usaha tanpa terkecuali bagi yang sudah berorientasi ekspor.

Sementara Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Tenggara, Sitti Saleha mengatakan saat ini pihaknya tengah membidik pasar wilayah Afrika, utamanya Nigeria dan Afrika Selatan serta negara-negara timur tengah.

"Peluang besar bagi Sulawesi Tenggara untuk memasuki pasar Afrika dan negara-negara Arab. Kita memiliki arang briket dari tempurung kelapa yang bisa kita ekspor dengan tujuan utama Uni Emirat Arab. Potensi lainnya adalah produksi minyak nilam yang merupakan komoditi ekspor dunia untuk bahan campuran pembuatan parfum," kata Sitti.

Menurut dia, kebutuhan minyak nilam dunia saat ini mencapai 1400 - 1500 ton per tahun yang 90 persen diantaranya dipasok dari Indonesia termasuk diantaranya dari Sulawesi Tenggara.

Sitti menjelaskan, potensi ekspor lainnya adalah rumput laut, tuna, cakalang dan gurita beku yang banyak diekspor ke Jepang, Amerika dan Thailand.

Di sektor pertambangan, daerah Pomala Kolaka mengekspor fero nikel ke Jepang, India, Taiwan dan lainnya. Sementara untuk aspal banyak diekspor ke China. Hingga bulan September 2014, Sitti menyebut Volume aspal yang diekspor mencapai 1,8 juta ton dengan nilai sekita 255 juta dolar AS.

Sitti mengatakan Sulawesi Tenggara juga merupakan salah satu penghasil jambu mete terbaik di dunia. India merupakan negara tujuan ekspor terbesar di dunia dengan kebutuhan mencapai 1 juta ton per tahun. "India hanya mampu memenuhi kebutuhan sekitar 500.000 ton, sementara 500.000 ton lainnya dipasok dari negara lain termasuk Indonesia," pungkas dia.

Secara terpisah, masih dari laman yang sama, Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) T Hasudungan Siregar mengatakan tujuan ekspor daerah tersebut paling banyak ke negara-negara Eropa. "Hampir setiap minggu ada pengiriman komoditas unggulan Sulut ke berbagai negara di Eropa," kata Hasudungan, di Manado, Rabu.

Hasudungan mengatakan negara tujuan ekspor Sulut paling sering dilakukan ke Italia, Belanda, Jerman, Inggris. Negara-negara ini, rutin menjadi tujuan ekspor komoditas unggulan Sulut. Komoditas yang biasanya diekspor ke Eropa seperti tepung kelapa, biji pala, bunga pala, daging pala, cengkih, dan produk perikanan lainnya.

Pada awal Oktober 2014, Sulut telah mengekspor biji pala ke Italia sebanyak 30 ton dengan sumbangan devisa sebesar 361.500 dolar Amerika Serikat (AS). Begitu pula ke Belanda sebanyak 16 ton dengan nilai 300.900 dolar AS.

Untuk produk tepung kelapa diekspor ke Jerman sebanyak 78 ton dengan sumbangan devisa sebesar 166.912 dolar AS, juga ke Italia sebanyak 25 ton dengan nilai 55.000 dolar AS, serta ke Inggris sebanyak 13 ton dengan nilai 28.325 dolar AS.

Juga bunga pala diekspor ke Italia sebanyak 11,27 ton dengan nilai 165.487 dolar AS, dan daging buah pala kering sebanyak 43,56 ton dengan nilai 116.276 dolar AS. Dan komoditas unggulan Sulut yakni cengkih diekspor ke Belanda sebanyak 8.000 kilogram dengan sumbangan devisa sebesar 112.000 dolar AS. Hal ini, katanya, menandakan bahwa komoditas ekspor Sulut sudah sangat diakui masyarakat internasional, dengan kualitas yang cukup tinggi sehingga mampu bersaing dengan pasar dunia.

Pemerintah, katanya, akan terus memfasilitasi dan menjaga agar pasar tujuan ekspor Sulut akan terus bertambah, dengan cara Dinas terkait terus melakukan promosi baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Jauh sebelumnya, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan, Nus Nuzulia Ishak meminta seluruh daerah memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat. “Sinergi dan sinkronisasi pemerintah pusat dan daerah dapat membuat masing-masing pihak lebih proaktif sehingga dapat membantu dunia usaha dalam mencapai target ekspor yang ditetapkan pemerintah,” tegas Dirjen Nus, dalam keterangan pers.

Dia menyampaikan apresiasinya terhadap kinerja ekspor Provinsi Jawa Barat yang menunjukkan capaian yang menggembirakan pada periode Januari-Mei 2014. “Kami sangat mengapresiasi capaian ekspor Jawa Barat yang senilai US$ 11,16 miliar atau naik 2,25% dibanding periode yang sama tahun 2013. Ekspor nonmigas Provinsi Jawa Barat sendiri berhasil mencapai US$ 10,74 miliar, meski mengalami sedikit penurunan 0,61% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya,” ujarnya.