Perkuat Modal, Bank Sinarmas Rights Issue

Incar Dana Rp 354,35 Miliar

Senin, 27/10/2014

NERACA

Jakarta – Seiring ketatnya likuiditas antar bank saat ini, memacu PT Bank Sinarmas Tbk (BSIM) untuk terus memperkuat modal dan langkah inilah yang dilakukan perseroan berupa penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) atau right issue dengan mengeluarkan sebanyak-banyaknya 1.312.411.310 saham baru dengan nilai nominal Rp 100.

Sekretaris Perusahaan PT Bank Sinarmas Tbk, Yuliani Winarsih Santosa mengatakan, perseroan akan mengeluarkan saham baru sebesar 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan,”Kami akan melakukan right issue dengan harga pelaksanaan sebesar Rp 270 per saham,”ujarnya dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Lebih lanjut, Yuliani menyebutkan bahwa dari hasil penerbitan right issue sebanyak 1.312.411.310 saham baru dengan harga Rp 270 per saham, maka perseroan diperkirakan akan memperoleh dana segar mencapai sekitar Rp 354,35 miliar. Menurut Yuliani, pelaksanaan right issue dilakukan pada 31 Oktober 2014 dan pemberitahuan hasil pelaksanaan right issue pada 4 November 2014.

Sementara Freenyan Liwang, Direktur Utama Bank Sinarmas menambahkan, dalam aksi korporasi tersebut, perseroan bakal memiliki dua pemegang saham baru. Dimana kedua investor ini masuk melalui aksi korporasi penerbitan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non HMETD). Disebutkan, investor yang menyerap saham private placement BSIM ini adalah Asia Value Investments Pte. Ltd dan Clark Quay Investment Corporation Pte Ltd. Masing-masing investor ini mengambil 444,44 juta saham baru BSIM.

Tahun ini, perseroan membidik perolehan fee based income sebesar Rp 500 miliar pada akhir tahun 2014, atau tumbuh 66% dibandingkan posisi Rp 300 miliar pada akhir tahun 2013. "Kami menargetkan porsi fee income sebesar 50% terhadap total pendapatan," kata Freenyan.

Dirinya menuturkan, target tersebut adalah upaya perseroan memperkuat pendapatan non bunga seperti komisi atau fee based income, agar tidak ketergantungan pendapatan bunga untuk memperoleh laba. Disebutkan, rencana kontribusi fee income sebesar 50% ini akan terealisasi pada tahun 2020, dari komposisi fee income sebesar 20% pada tahun ini.

Kemudian untuk memperkuat pendapatan non bunga, kata Freenyan, strategi yang dilakukan adalah meningkatkan transaksi melalui penambahan mesin ATM. Tahun 2014 ini, pihaknya akan menambah 300 mesin ATM baru dengan biaya sekitar Rp 100 juta per ATM untuk satu tahun. Sedangkan, target rata-rata transaksi seluruh ATM mencapai 5.000 transaksi per tahun. "Pemilihan lokasi ATM yang efektif dapat meningkatkan transaksi," tambahnya. Misalnya, ada ATM yang jumlah transaksinya mencapai 40.000 per tahun, namun ada juga yang 4.000 transaksi per tahun. (bani)