Pamor Jokowi Hidupkan Ekonomi RI

IHSG DAN RUPIAH MULAI TERANGKAT

Selasa, 21/10/2014

Jakarta – Begitu maraknya harapan masyarakat, khususnya pelaku pasar modal terhadap kepemimpinan Jokowi dan Jusuf Kalla sebagai presiden dan wakil presiden periode 2014-2019 membuat sentimen positif terhadap laju indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan nilai rupiah. Momen Jokowi Effect menjadi sinyal bagi penguatan perdagangan saham lokal seperti tercermin laju IHSG melesat tajam pada saat pembukaan hingga penutupan perdagangan kemarin (20/10).

NERACA

Diawal perdagangan, IHSG dibuka menguat 39,63 poin atau 0,79% menjadi 5.068,58, dan indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 9,93 poin (1,16%) ke level 864,12,”Sentimen domestik seperti politik tampaknya lebih dominan menopang indeks BEI di tengah sentimen perlambatan ekonomi global. Kondisi di dalam negeri juga didukung oleh saham-saham yang telah jenuh jual," kata Head of Research Valbury Asia Securities, Alfiansyah di Jakarta, Senin.

Menurut dia, pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla dan juga mencairnya ketegangan politik di dalam negeri menjadi salah satu katalis bagi pergerakan indeks BEI. Oleh karena itu, banyak investor memanfaatkan momentum tersebut. Kemudian pasca pelantikan Presiden dan Wapres terpilih, sentimen positif domestik diperkirakan berlanjut dan diharapkan bukan eforia sesaat.

Kemudian pada akhir perdagangan, IHSG masih konsisten mempertahankan penguatannya dan ditutup naik 11,586 poin (0,23%) ke level 5.040,532. Sementara Indeks LQ45 menguat 0,837 poin (0,10%) ke level 855,031. Menguatnya IHSG juga mengerek bagi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dikutip Senin, kurs rupiah terhadap US$ berada di posisi Rp 12.041.

Menurut pengamat Indosurya Securities Wiliam Surya Wijaya, nilai rupiah menguat mengikuti sentimen dunia politik, yakni pelantikan Presiden Joko Widodo. Namun, nilai penguatan rupiah naik tipis."Jadi posisi untuk pelantikan Jokowi jadi Presiden ada tapi sedikit," ujarnya.

Wiliam menjelaskan kenaikan itu tidak berimbas signifikan, jika dilihat dari sektor ekonomi negara saat ini. Wiliam pun mengimbau investor jangan terlalu melihat dampak rupiah menguat terlalu besar akibat Jokowi telah resmi menjadi presiden.

Sementara bagi Kepala Riset Recapital Securities, Andrew Argado, menguatnya IHSG merupakan bentuk respon positif pelaku pasar atas transisi pemerintahan yang berjalan kondusif. Tercatat investor asing membukukan beli bersih (foreign nett buy) sebesar Rp760,617 miliar pada awal pekan ini. Sebelumnya, penguatan IHSG juga sudah terjadi pada akhir pekan lalu seiring dengan mencairnya ketegangan politik dalam negeri pasca pertemuan presiden terpilih Jokowi dengan rivalnya kala pemilu presiden lalu Prabowo Subianto. Oleh karena itu, meskipun IHSG masih ada ruang melanjutkan penguatan, namun pelaku pasar diminta waspadai potensi aksi ambil untung.

Menurut dia, sebagian pelaku pasar di dalam negeri kembali mengambil posisi ambil untung setelah indeks BEI sempat mengalami penguatan hingga lebih dari 1%. Hal itu, dikarenakan pelaku pasar juga mengantisipasi sentimen berikutnya, yakni susunan kabinet pemerintahan baru dan rilis laporan keuangan emiten periode kuartal ketiga 2014,”Sebagian pelaku pasar tidak terlalu terbawa oleh euforia pelantikan presiden karena mereka juga harus rasional masih ada sentimen yang menanti, yakni susunan kabinet dan laporan keuangan emiten Kuartal III tahun ini,”paparnya.

Sementara Presiden Direktur PT Kresna Graha Sekuritas Michael Steven meyakini, euforia Jokowi akan terus berlanjut jika ketegangan politik bisa mencair dan IHSG akhir tahuh diproyeksikan akan bertengger di level 5.500,”Kita lihat IHSG kembali bergerak ke 5.200 pasca Jokowi mengunjungi Prabowo, kami harap rekonsiliasi antar pemimpin ini terus berlanjut sehingga euforia investor terus meluap," katanya usai acara "Peluncuran Buku Solusi Jokowi,”ungkapnya.

Namun Michael menilai masih terlalu dini untuk memastikan pergerakan IHSG saat ini ditengah kondisi perekonomian yang kurang baik, disusul pelemahan rupiah termasuk fundamental ekonomi sendiri dimana defisit transaksi berjalan masih berlanjut.

Faktor Kebetulan

Pengamat ekonomi FEUI Lana Soelistianingsihmenilai adanya penguatan pada pasar saham dan menguatnya rupiah disaat pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) menurutnya faktor kebetulan saja. Mengingat pada saat ini saham dan mata uang secara regional sedang membaik bukan karena dorongan internal. “Kalau efek politik yang berjalan kondusif sehingga saham dan rupiah menguat iya, tapi kalau dorongan ekonomi Indonesia yang lebih baik bukan. Tapi ini pun akan bersifat temporer saja,” ujarnya kepada Neraca.

Namun demikian, menurut Lana tantangan sebenarnya dalam membangun ekonomi ke depan pemerintah baru akan dihadapkan dengan kondisi yang berat terutama tantangan global. “Ekspektasi pemimpin baru sangat tinggi, tapi itu akan menjadi upaya dan kerja keras dalam mengejarnya mengingat tantangan global sedang tidak bagus dan ini akan menjadi kendala tersendiri oleh pemerintah baru,” ujarnya.

Karena apa, pemimpin baru menginginkan pertumbuhan tinggi, suku bunga (BI Rate) turun agar sektor riil bisa dapat tumbuh tapi kenyataannya diproyeksikan the fed akan menaikan suku bunga ini bisa jadi Indonesia ikut naik. Jadi akan sangat sulit diakhir tahun, dan awal tahun 2015 untuk mengejar ekspketasi itu. “Jika melihat kondisi yang ada baik internal maupun melihat global ekspektasi pemerintah baru sangat ambisius, tapi semuanya tidak ada yang tidak mungkin jika memang pemimpin baru memang bekerja keras dan mengeluarkan kebijakan yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi,” ucapnya.

Adapun, menurut Lana ekspektasi pemimpin baru bisa saja tercapai tapi memang harus melihat dulu kondisi dipertengahan 2015 nanti jika memang kondisi global sedang membaik, dipastikan ekspektasi pemimpin baru bisa tercapai. “Proyeksi saya baru akhir tahun 2015 nanti, atau awal 2016 ekonomi bisa lebih membaik,” tandasnya. agus/bani