Indonesia Diminta Diversifikasi Ekspor Produk Kopi

Selasa, 21/10/2014

NERACA

Jakarta – Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil kopi terbaik di dunia. Namun begitu, Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (Dirjen PPHP) Kementan Yusni Emilia Harahap meminta agar adanya diversifikasi produk kopi yang di ekspor. Hal itu, menurut dia, untuk memberikan nilai tambah bagi petani dan pelaku usaha dalam negeri.

Menurut dia, diversifikasi ekspor produk kopi juga akan membuat nama Indonesia lebih dikenal sebagai negara penghasil kopi dan olahannya. “Kita menginginkan nilai tambah bisa dibangun di dalam negeri. Jadi, petani jangan hanya jual green beans (biji kopi yang belum diolah). Mereknya harus ada supaya nama Indonesia juga dikenal,” katanya, seperti dikutip, Senin (20/10).

Ia menjelaskan bahwa potensi kopi Indonesia sangatlah besar. Total produksi kopi Indonesia pada tahun 2013 tercatat sebanyak 723.000 ton yang 90 persennya dihasilkan dari perkebunan rakyat. Kementan bahkan sudah memetakan wilayah-wilayah penghasil kopi serta pelaku usaha dan mendorong adanya sertifikasi perlindungan indikasi geografis.

Lebih lanjut, pihaknya juga terus mendorong peningkatan kualitas kopi, mulai dari perkenalan teknik budi daya kopi yang benar, pelatihan sumber daya manusia, hingga pengawalan penyuluh di lapangan. “Yang tidak kalah penting juga pola kemitraan. Dalam hal ini mitra usaha juga sudah benar-benar ikut berkontribusi untuk peningkatan kualitas tidak hanya di hilir tetapi juga di hulu,” katanya.

Pelaku usaha kopi Rudy J. Pesik mengatakan bahwa cita rasa kopi Indonesia yang unik dan berkualitas tinggi sudah menjadi ciri khas tersendiri di mata konsumen. Pria yang kini sudah memiliki 4.000 gerai kopi di seluruh dunia itu sejak dahulu memang hanya memberikan sajian kopi terbaik untuk para pelanggannya.

Sayangnya, meski Indonesia adalah negara penghasil kopi keempat terbesar di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia, negara ini belum dikenal sebagai pemasok kopi dunia. “Karena dijual dalam bentuk green beans, kopi kita jadi tidak dikenal di luar negeri. Harapannya nanti para produsen bisa menjualnya dalam bentuk sudah dipanggang atau roasted. Itu akan jadi prospek yang besar jadi kita harus promosikan dengan benar,” katanya.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Bali I Dewa Made Buana Duwuran mengatakan bahwa upaya diversifikasi produk kopi untuk diekspor sudah lama dilakukan untuk komoditas kopi Kintamani. Diakuinya, perlu usaha ekstra keras untuk mewujudkan hal itu karena semua proses seperti peningkatan sumber daya manusia, produktivitas hingga pemasaran yang baik harus dilakukan secara serentak. "Untuk mengajarkan petani untuk bisa memetik kopi yang sudah matang dan berwarna merah saja kami butuh waktu lima tahun. Tadinya mereka jual kopi gelondongan yang masih hijau. Memang agak lama prosesnya," katanya.

Meski terus digalakkan, upaya diversifikasi sudah diimplementasikan di beberapa perkebunan di mana petani mengolah sendiri biji kopi itu dan menjualnya dalam bentuk bubuk. "Sekarang sudah ada yang olah hingga bentuk bubuk, tetapi baru beberapa. Harapannya kopi-kopi ini bisa diolah dann diekspor dalam bentuk panggang atau bubuk. Saya rasa akan bertahap prosesnya. Sekarang kami masih menjualnya dalam bentuk kopi beras yang sudah lepas tanduk," ujarnya.

Ekspor Kopi

Sebelumnya, Menteri Perindustrian M.S Hidyata mengungkapkan bahwa nilai ekspor produk kopi olahan tahun 2013 mencapai US$243,87 juta dan tahun 2012 sebesar US$322,62 juta. Ekspor produk kopi olahan tersebut didominasi produk kopi instan, ekstrak, esens dan konsentrat kopi. “Ekspor tersebar ke negara tujuan ekspor seperti Filipina, Malaysia, Singapura, RRC, dan Uni Emirat Arab," kata Hidayat.

Sementara itu, impor kopi olahan tahun 2013 mencapai US$81,88 juta dan tahun 2012 sebesar US$71,19 juta atau naik 15,01%. Hidayat mengatakan bahwa impor kopi olahan terbesar itu diduga merupakan produk bermutu rendah. Tapi, peningkatan impor kopi itu tak mempengaruhi kinerja perdagangan kopi olahan. “Akan tetapi neraca perdagangan produk kopi olahan masih mengalami surplus sebesar US$161,99 juta,” ujar dia.

Seperti diketahui, Indonesia adalah penghasil kopi terbesar ketiga di dunia setelah Brasil dan Vietnam karena mampu memproduksi sedikitnya 748 ribu ton atau 6,6 % dari produksi kopi dunia pada tahun 2012. Dari jumlah tersebut, produksi kopi robusta mencapai lebih dari 601 ribu ton (80,4%) dan produksi kopi arabika mencapai lebih dari 147 ribu ton (19,6%). Luas lahan perkebunan kopi di Indonesia mencapai 1,3 juta hektar (ha) dengan luas lahan perkebunan kopi robusta mencapai 1 juta ha dan luas lahan perkebunan kopi arabika mencapai 0,30 ha.

Produktivitas tanaman kopi di Indonesia baru mencapai 700 kg biji kopi/ha/tahun untuk Robusta dan 800 Kg biji kopi/ha/Tahun untuk Arabika. Sedangkan produktivitas negara tetangga seperti Vietnam telah mencapai lebih dari 1.500 kg/ha/tahun. Di samping itu, Indonesia juga memiliki berbagai jenis kopi specialty yang dikenal di dunia seperti Gayo Coffee, Mandailing Coffee, Lampung Coffee, Java Coffee, Kintamani Coffee, Toraja Coffee, Bajawa Coffee, Wamena Coffee dan juga Luwak Coffee dengan rasa dan aroma khas sesuai indikasi geografis yang menjadi keunggulan Indonesia.