OJK Tidak Permasalahkan Soal Kode Saham - Belum Ada Aturan Khusus

NERACA

Jakarta - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka peluang bagi emiten untuk mengganti kode saham, terutama emiten yang mengalami perubahan pengendali dan pergantian fokus usaha. Dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga tidak mempermasalahkan jika perusahaan tercatat melakukan pergantian kode sahamnya,”Jika emiten perlu mengganti kode sahamnya di bursa silakan saja. Tidak ada masalah karena selama ini kan tidak ada peraturannya atau tidak ada payung khusus," kata anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida di Jakarta, kemarin.

Sebelumnya, Direktur Utama BEI Ito Warsito mengungkapkan, pihaknya mempersilakan emiten yang merasa perlu mengganti kode saham. Dirinya menilai tidak perlu ada payung hukum yang khusus untuk merealisasikan rencana itu,”Emiten bisa mengajukan perubahan ticker dan melakukan pembayaran ke BEI. Kami rasa tidak dibutuhkan aturan khusus," ujar Ito.

Setiap perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (emiten) pastinya memiliki kode saham (ticker) dan kebanyakan kode saham yang terdiri dari empat huruf itu matching dengan nama perusahaan tersebut. Misalnya, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk yang menyandang kode saham ADMF, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Jasa Marga Tbk (JSMR).

Selain itu, ada juga PT Astra Internasional Tbk dengan kode sahamnya yang terkenal ASII, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Tabungan Pensiun Nasional Tbk (BTPN), PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Timah Tbk (TINS), danPT Wijaya Karya Tbk dengan kode sahamnya WIKA.

Namun, ada juga emiten di bursa yang kode sahamnya tidak matching (kurang pas) dengan nama perusahaannya. Biasanya aksi korporasi, baik akuisisi maupun merger yang dilakukan emiten mengakibatkan perusahaan tersebut mengalami perubahan bidang usaha dan nama perusahaan sehingga kode saham yang tadinya matching menjadi tidak pas ketika nama perusahaan tersebut berubah (sedangkan kode saham tetap).

Contohnya, PT International Nickel Indonesia Tbk (INCO) mengubah nama perusahaan menjadi PT Vale Indonesia Tbk. Namun, pasca-aksi tersebut kode saham tidak berubah. Ada juga PT MNC Kapital Tbk yang masih menggunakan ticker BCAP, PT MNC Land Tbk dengan ticker KPIG, PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), dan sejumlah emiten lainnya yang sudah berganti nama, tetapi masih menggunakan ticker lama. (bani)

BERITA TERKAIT

Berinvestasi Mudah Gak Pake Ribet - Ketika Semua Kemudahan Berada Dalam Genggaman

Di era digital saat ini, segala sesuatunya sangat mudah dilakukan. Tengok saja inovasi layanan industri keuangan baik itu perbankan hingga…

Geliat Sektor Industri - Anak Usaha Barito Pacific Jual Lahan 12,6 Hektar

NERACA Jakarta – Geliat pembangunan industri akan berdampak besarnya permintaan lahan industri di beberapa kota besar, maka melihat potensi tersebut,…

Danai Pengembangan Bisnis - Dana Brata Luhur Lepas Saham IPO 35 Juta Saham

NERACA Jakarta – Perkuat modal guna mendanai ekspansi bisnisnya, PT Dana Brata Luhur Tbk berencana melaksanakan penawaran umum perdana (initial…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pengumuman Kabinet Baru - Tren IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan

NERACA Jakarta – Pembentukan susunan kabinet baru Joko Widodo –Ma’aruf Amin masih menjadi sentimen positif terhadap laju indeks harga saham…

Penjualan Sunson Textile Tumbuh 4,9%

NERACA Jakarta – Di kuartal tiga 2019, PT Sunson Textile Manufacturer Tbk (SSTM) membukukan penjualan sebesar Rp 317,98 miliar atau…

Bisnis Makin Legit, ROTI Raup Untung 211,7 Miliar

NERACA Jakarta – Di kuartal tiga 2019, PT Nippon Indosari Corporindo Tbk (ROTI) berhasil membukukan untung bersih sebesar Rp 211,7…