Produk Tak Ramah Lingkungan Diprediksi Hilang dari Pasar

Senin, 13/10/2014

NERACA

Jakarta - Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurthi, mengatakan bahwa produk-produk ramah lingkungan nantinya diperkirakan mampu menggantikan produk-produk umum yang lama atau yang tidak ramah lingkungan. "Masanya akan tiba dimana produk yang tidak ramah lingkungan itu akan hilang dari pasar dan digantikan dengan produk-produk yang ramah lingkungan," kata Bayu, di sela-sela Trade Expo Indonesia (TEI) ke-29, di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Bayu mengatakan, dalam pameran Trade Expo Indonesia (TEI) ke-29 yang telah digelar beberapa hari lalu, pelaku industri yang menampilkan produk ramah lingkungan kurang lebih sebanyak 30-40 persen dan salah satu produknya adalah 'biodegradable plastic' yang bahan baku utamanya berasal dari singkong. "Yang dipamerkan di sini mungkin masih baru sekitar 30-40 persen yang betul-betul bisa 'certified green', dan salah satunya adalah 'biodegradable plastic' yang kita hasilkan dari singkong, ini bisa kita lanjutkan, teknologinya sudah ada dan produksinya makin lama makin tinggi," ujar Bayu.

Bayu memberikan contoh, beberapa produk yang hadir pada TEI 2014 dan ramah lingkungan antara lain adalah salah satu perusahaan bangunan yang menggabungkan polimer dengan kayu, dan selain ramah lingkungan juga membuat produk tersebut lebih kuat. "Selain itu ada juga yang memakai pewarna alam bukan buatan atau kimia, itu juga sangat baik dan ramah lingkungan," kata bayu.

Namun, lanjut Bayu, memang harus diakui bahwa beberapa diantara produk yang ramah lingkungan tersebut masih terbilang lebih mahal daripada produk-produk yang sudah beredar saat ini, namun kurang ramah lingkungan. "Kita harus bisa berusaha untuk benar-benar menghasilkan produk-produk yang lebih ramah lingkungan, karena hal tersebut juga merupakan kepentingan dan keinginan kita sendiri," kata Bayu.

Kendati merupakan trobosan, Bayu mengakui bahwa industri dalam negeri yang ramah lingkungan tidak mendapatkan insentif dari pemerintah, namun hal tersebut patut dibanggakan karena para pelaku usaha tersebut memandang hal tersebut sebagai visi masa depan. "Sampai saat ini, yang justru membuat kami bangga adalah mereka tidak ada insentif, karena mereka sendiri yang melakukan dan memandang hal ini sebagai sebuah visi masa depan. Kedepan, tidak bisa tidak, harus green bisnis," lanjut Bayu.

Menurut Bayu, para pebisnis tersebut yang akhirnya mengambil inisiatif dengan prinsip bahwa pada saatnya nanti bisnis yang tidak ramah lingkungan akan kehilangan pasar, mereka justru akan digantikan oleh bisnis yang ramah lingkungan. "Secara bertahap akan terus naik dan pada waktunya nanti akan mendominasi bisnis di seluruh dunia, bukan hanya di Indonesia," ujar Bayu.

Sementara itu, Kepala Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu Industri (BPKIMI) Kementerian Perindutrian, Arryanto Sagala, mengatakan, saat ini pemerintah juga sedang menggenjot green industry. Perusahaan yang mau menerapkan green industry, maka akan mendapatkan insentif dari pemerintah. Seperti, potongan harga untuk pembelian mesin baru bagi industri kreatif.

Berdasarkan, catatan sepanjang 2010 sampai 2013 sudah ada 235 perusahaan yang menerapkan industri hijau. Bahkan, di 2014 ini bertambah 110 perusahaan. Sisi positif dari penerapan industri hijau ini, salah satunya bisa menghemat energi sampai 25 persen. Tetapi, produktifitas meningkat 17 persen. "Kita terus mendorong, supaya industri tanah air bisa semuanya menerapkan sistem green energy," ujarnya.

Pemanfaatan Minim

Marketing Communication Executive PT Inter Aneka Lestari Kimia, Sri Megawati menuturkan, pemanfaatan produk ramah lingkungan di Indonesia masih sangat sedikit. Bahkan industri-industri yang bergerak di sektor perlengkapan rumah tangga seperti plastik masih ragu-ragu menggunakan bahan baku dari alam.

Menurutnya, industri tersebut masih merasa khawatir produknya tidak diterima masyarakat luas karena harga produk ramah lingkungan lebih mahal daripada produk yang selama ini beredar. Padahal, lanjut Sri, masalah plastik yang mulai marak digunakan sejak tahun 1960-an tersebut benar-benar mulai mencemari lingkungan. Bahkan pencemaran plastik rumah tangga sudah meluas hingga ke lautan.

“Industri-industri dalam negeri yang memproduksi plastik dengan bahan alam masih sangat kecil. Mereka masih ragu pada pangsa pasarnya, sebab harganya dua kali lipat dari kantong biasanya. Jadi pada main tunggu-tungguan. Justru pasar luar negeri seperti negara-negara Eropa dan Amerika sudah mulai sadar akan dampaknya. Di darat lama-lama penggunaan plastik menghabiskan tempat. Di laut bikin pencemaran. Kalau mereka sadar kebutuhan akan produk ramah ligkungan menjadi pilihan utama,” ujar Sri Megawati.

Dia menjelaskan bahwa regulasi dan anjuran pemerintah terhadap pemanfaatan produk ramah lingkungan kepada perusahaan, mal, ataupun hotel-hotel memang sudah banyak. Namun jenis produk ramah lingkungan yang digunakan oleh sektor-sektor tersebut, menurut Sri, masih belum jelas. Dia meminta kepada pemerintah baik pusat maupun daerah bukan hanya sekadar kampanye saja, melainkan dibutuhkan peran aktif dalam mengawal pemanfaatan produk ramah lingkungan. Pemerintah harus berani membatasi produk-produk dari perusahaan–perusahaan yang memproduksi barang-barang yang jelas berdampak pada lingkungan.

“Kita butuh desakan pemerintah dan ada regulasi yang jelas. Sebab masih banyak produk-produk yang jelas merusak lingkungan belum ada pembatasan. Sudah ada aturan menggunakan produk ramah lingkungan bagi hotel dan mal. Namun tidak jelas jenis ramah lingkungannya seperti apa. Jadi semua itu bias. Produk mereka banyak yang hanya dikasih aditif saja. Bahannya tetap saja yang tidak ramah lingkungan. Banyak sekali yang hanya ditempeli stiker ramah lingkungan. Kami berharap regulasi yang diterbitkan oleh pemerintah lebih jelas dan aplikatif,” tambah Sri.