Waspadai Risiko Sovereign

Selasa, 07/10/2014

Oleh : Tumpal Sihombing

CEO – Bond Research Institute

Secara umum ada 3(tiga) hal yang wajib dicermati oleh para perumus kebijakan, pelaku pasar (emiten dan investor) saat menyikapi event emisi obligasi (baik pemerintah maupun korporasi) di dalam negeri, yaitu: Pertama, kondisi fundamental emiten. Di pasar modal yang relatif infant (weak form), akurasi informasi adalah suatu hal yang masih langka. Peringkat adalah sebagian dari informasi dalam proses emisi obligasi. Selain itu, calon investor harus dibekali juga dengan ragam informasi yang relevan dan kritikal. Salah satu informasi yang harus ada adalah rasio antara net earnings emiten terhadap total kewajiban bunga. Semakin besar rasio ini, semakin tinggi tingkat keyakinan calon investor dalam berinvestasi;

Kedua, high-involvement instrument. Efek surat berharga itu beragam, bisa dibedakan berdasarkan industri, peringkat, tenor, peringkat dan hal lainnya. Misalnya perihal terkait jangka, durasi sangat relevan. Durasi adalah tenor efektif obligasi. Semakin pendek durasi, semakin baik bagi investor. Obligasi korporasi domestik secara rata-rata masih di atas 6(enam) tahun, lebih tinggi daripada obligasi pemerintah sebesar 5(lima) tahun. Informasi relevan seperti ini adalah acuan kuantitatif bagi calon investor dalam pemilihan efek, yang dapat meningkatkan keyakinan para calon emiten dalam proses pengambilan keputusan investasi;

Ketiga metode lindung nilai. Suku bunga pasar berubah tergantung pada laju inflasi. Konsekuensi logis, nilai portofolio obligasi yang dimiliki investor selalu berubah. Imunisasi adalah upaya menghilangkan dampak perubahan suku bunga terhadap nilai portofolio asset under management (AUM). Ini merupakan suatu bentuk best practice yang dapat memitigasi risiko investor dalam memegang obligasi. Selain itu, investor juga dapat menerapkan metode hedging terhadap nilai portofolio.

Penambahahan frekuensi/volume pasar surat berharga sebaiknya dilakukan secara pruden dan cost-effective. Jika pelaku pasar dan para investor tak dibekali ketiga hal di atas, merupakan ciri sikap yang overconfident. Dalam sejarah pasar modal Indonesia, tidak jarang terjadi investasi yang overconfident justru berakhir kasus. Edukasi pasar yang dilakukan oleh para pelaku pasar/perumus kebijakan akan ketiga hal di atas merupakan suatu bentuk aksi preventif serta efektif dalam mengurangi kasus gagal bayar emiten dan kerugian investor. Pasar obligasi domestik masih relatif muda dan bernilai sangat kecil bila dibandingkan dengan perkembangan pasar di negara-negara maju seperti US, Jepang serta beberapa negara di Eurozone.

Banyak faktor yang harus dipertimbangkan, terutama di sisi pola-pikir para pelaku pasar/perumus kebijakan domestik yang masih terus berubah belakangan ini. Itu sudah pasti terkait dengan kondisi perekonomian kita. Pasar domestik terus berkembang baik di sisi hard maupun soft-infrastructure, berinteraksi mutualis antara kekuatan pasar vs intervensi pemerintah. Pasar sedang mencari satu pola yang optimal, kuat dan sustained. Dalam ranah surat berharga, dinamika ini terkait erat dengan pertumbuhan ekonomi dan laju inflasi. Paradigma ini selalu memunculkan 2(dua) hal saling kontra dalam perkembangan industri jasa keuangan dan pasar modal domestik, yaitu penambahan volume/frekuensi versus peningkatan risiko gagal bayar.