Masyarakat Tak Perlu Panic Buying

Hadapi Idul Fitri, Pasokan Kebutuhan Aman

Senin, 14/07/2014

NERACA

Jakarta - Jelang Lebaran Idul Fitri, biasanya masyarakat akan lebih meningkatkan konsumsinya dengan membeli barang secara besar-besaran. Namun begitu, Menteri Pertanian Suswono meminta agar masyarakat tidak perlu panik dalam menyambut Lebaran dengan melakukan pembelian bahan kebutuhan secara besar-besaran sebagai stok.

Pemerintah pun memastikan bahwa pasokan bahan-bahan kebutuhan menjelang Lebaran dalam kategori aman sehingga masyarakat tidak perlu tergesa-gesa dan panik dalam membeli suatu barang. "Stok aman, tapi saya menghimbau kepada masyarakat untuk tidak panik seolah-olah akan habis stoknya. Insya Allah sampai dengan sehabis Lebaran, stoknya memadai," ujar Suswono di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Menurut dia, kepanikan masyarakat sehingga memicu pembelian besar-besaran terhadap bahan kebutuhan pokok malah akan merugikan masyarakat itu sendiri. "Masyarakat sebetulnya dirugikan akan perilakunya sendiri, karena tadi panik, makannya dia tadi membeli dan memborong dalam jumlah besar padahal suplainya tetap," lanjutnya.

Suswono mengungkapkan, jika permintaan meningkat secara mendadak sedangkan pasokan berjalan stabil, maka akan memicu kenaikan harga. Hal ini nantinya akan merugikan masyarakat terutama kalangan menengah ke bawah. "Maka yang terjadi kadang-kadang malah harganya naik. Itu akibat ulah mereka sendiri," tandas dia.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan RI Muhammad Lutfi berserta jajarannya melakukan pemantauan langsung harga dan pasokan barang kebutuhan pokok di Pasar Tradisional Klender SS, Jakarta Timur, Selasa (8/7).

Pemantauan langsung ini dilakukan Kementerian Perdagangan sebagai rangkaian dari program pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan barang kebutuhan pokok masyarakat khususnya pada bulan puasa dan Lebaran 2014. “Kunjungan hari ini merupakan rangkaian dari program pemerintah untuk menjaga stabilitas harga barang kebutuhan pokok masyarakat khususnya bulan puasa dan Lebaran,” jelas Mendag.

Dalam kunjungannya kali ini, Lutfi berharap mendapatkan fakta riil di lapangan terkait dengan perkembangan harga seluruh bahan barang kebutuhan pokok masyarakat pada minggu ke-2 di bulan puasa. Berdasarkan hasil pantauan di Pasar Tradisional Klender SS per 7 Juli 2014 dibandingkan Jumat lalu, 4 Juli 2014, harga barang kebutuhan pokok masih terpantau stabil. Khusus untuk harga komoditas pangan segar hortikultura yang pada Lebaran tahun lalu mengalami kenaikan signifikan, saat ini justru cenderung stabil karena banyaknya pasokan dari sentra produksi.

Picu Kenaikan Harga

Sementara itu, Kepala Disperindag Provinsi Jabar, Ferry Sofwan Arief menilai kenaikan sejumlah harga bahan pokok menjelang Ramadan diduga dipicu oleh panic buying, yakni masyarakat membeli bahan pokok dalam jumlah besar. Kondisi ini justru akan mendorong pedagang menjadi spekulan.

Karena itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) jabar mengingatkan agar masyarakat tidak perlu kuatir dengan kebutuhan bahan pokok karena ketersediaan bahan pokok di pasar aman untuk Jawa Barat. "Jadi kenaikan (harga) kemungkinan dipicu panic buying," kata dia.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak perlu terjadi apalagi karena khawatir menipisnya ketersediaan bahan pokok. Karena di Jawa Barat terdapat 680 pasar tradisional dan 2.900 ritel modern yang buka setiap saat untuk melayani dan menyediakan kebutuhan masyarakat.

Ferry mencontohkan, kenaikan harga di pasar justru menjadi persoalan bagi petani di sentra-sentra produksi. Seperti dari pantauan Disperindag di Cianjur dan Sukabumi, para petani mengaku harga jual ke pedagang turun."Harga cabai keriting yang dijual ke pedagang malah turun. Ini karena suplai sedang melimpah baik dari dalam provinsi maupun luar Jabar," katanya.

Menyikapi hal tersebut, Disperindag Jabar mendorong kabupaten/kota menggelar operasi pasar (OP) khusus komoditas pertanian yang harganya fluktuatif. Hanya saja, sebelum OP dilakukan lebih dulu melihat keinginan harga dari petani. Jangan sampai terjadi kontra produktif agar tidak merugikan petani. "Semisal, OP di daerah yang tidak menghasilkan bawang merah," katanya.

Tahun ini Pemprov Jabar mengalokasikan anggaran Rp10 miliar untuk OP kebutuhan pokok masyarakat seperti beras, gula putih, minyak goreng, telur, dan daging sapi.

Kenaikan harga sembako kemarin terlihat di Kabupaten Bandung dan Cirebon. Di Pasar Kopo Sayati harga komoditas sayuran mulai dari bawang merah, bawang putih, buncis dan wortel juga mulai melonjak. Walau kenaikan tidak terlalu signifikan. Sementara itu harga daging ayam berada di kisaran Rp 32 ribu per kg dari harga sebelumnya Rp 24 ribu per kilogram.

Di Kabupaten Cirebon, sejumlah jenis sembako juga naik harga, namun pasokan relatif lancar. "Ada kenaikan harga pada beberapa komoditas seperti daging ayam, sayuran, dan telur. Rata-rata Rp 1.000-Rp 3.000 per kilogram dalam sepekan," kata Kepala Disperindag Kabupaten Cirebon, Haki.

Haki menyebutkan, telur dan daging ayam merupakan dua komoditi yang terus naik. Saat ini harga daging ayam pun sudah di atas Rp 30.000 per kilogram, padahal biasanya Rp 24.000-Rp 25.000 per kg.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Depok Tata Djumantara. Ia meminta kepada masyarakat untuk tidak panic buying memasuki bulan puasa dan Lebaran, yang bertepatan dengan tahun ajaran baru. Sebab inflasi masih akan mengancam pada momentum Natal dan Tahun Baru.

"Seharusnya, bulan puasa bisa lebih efisien. Untuk itu, kita minta masyarakat tidak usah panik dan tidak melakukan aksi borong belanjaan. Pemkot sendiri, sudah mengantisipasi ketersediaan barang. Selain itu, akan melakukan pasar murah," ujarnya.

Sudah menjadi hal lazim memasuki bulan puasa, harga barang merangkak naik. Kondisi tersebut terjadi merata hampir di semua daerah.

Tata Djumantara mengatakan, pada awal puasa atau Juli 2014 Kota Depok sudah mengalami inflasi sebesar 0,43%. Hal tersebut karena adanya kenaikan dari beberapa komoditas di antaranya beras, rokok kretek, filter, bawang merah, telur ayam ras, dan daging ayam ras.

"Harga pada umumnya naik. Ini seakan menjadi tradisi, saat memasuki bulan puasa gaya hidup masyarakat berubah menjadi konsumtif. Otomatis, dampaknya ketika banyak permintaan dan suplai berkurang maka harga akan naik," ujarnya.