Lebaran dan Pilpres, Maraknya Peredaran Uang Palsu

Jakarta - Peredaran uang palsu menjelang lebaran dan pemilihan presiden disinyalir marak. Tingginya kebutuhan akan uang dimomen-momen ini memicu pihak tidak bertanggung jawab memproduksi dan mengedarkan uang palsu tersebut hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Pengamat pasar uang Farial Anwar mengungkapkan dalam dua momentum besar seperti lebaran dan pilpres, peredaran uang palsu semakin marak. Menurut dia maraknya peredaran uang palsu dalam dua momentum bersamaan tersebut sudah menjadi trend dikarenakan para pelaku sudah semakin mudah membuat uang palsu. Kemudahan itu didukung oleh kemajuan teknologi.

Bahkan dengan metode seperti diraba, diterawang dan dilihat sudah tidak bisa lagi membedakan antara uang asli dan palsu. Perkembangan teknologi telah memungkinkan para pemalsu semakin mudah membuat cetakan uang yang sangat mirip dengan aslinya."Penjahat yang buat uang palsu sudah mengedarkan hampir di seluruh Indonesia," kata Farial di Jakarta, Rabu (9/7).

Farial menilai penukaran uang di pinggir jalan saat menjelang lebaran bisa menjadi salah satu potensi peredaran uang palsu karena masyarakat tidak tahu uang tersebut dapat dikategorikan asli atau palsu. Apalagi tidak ada alat untuk mengetahui uang tersebut palsu atau asli. Menurutnya pemerintah harus menertibkan penukaran pinggir jalan tersebut sebab itu bisa menjadi potensi penyebaran uang palsu.

Kendati demikian pemerintah juga masih kesulitan untuk memberantas peredaran uang palsu dikarenakan perilaku masyarakat yang mudah tergoda dengan janji-janji palsu yang disampaikan para pelaku. Janji-janji palsu dapat membutakan masyarakat dan tidak memperdulikan uang tersebut asli atau palsu.

Sementara itu, Direktur Pemasaran dan Pengembangan Usaha Perum Peruri Atje Muhammad mengatakan terkait masalah uang palsu pihak yang lebih berwenang adalah Bank Indonesia. Namun untuk pembuktian lebih lanjut atau tidak itu apakah palsu Perum Peruri bisa membantu Bank Indonesia.

Dia menambahkan selain metode diraba, diterawang dan dilihat, uang palsu bisa dibuktikan dengan pengujian yang lebih mendalam. Misalnya pembuktian dengan tinta yang digunakan, karena dalam masalah tinta dan uang jika mengacu kepada UU hanya BUMN yang ditugaskan oleh negara memproduksi uang dan itu adalah Perum Peruri.

Dia menjelaskan pembuktian berdasarkan tinta bisa dilihat secara jelas karena mesin pencetak uang yaitu Intaglio. Mesin cetak tersebut merupakan mesin cetak security. Mesin tersebut hanya satu-satunya di Indonesia."Mesin tersebut memiliki sistem percetakan khusus yang memiliki sertifikasi dari lembaga internasional yaitu Integraf," tegas Atje.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif bidang Komunikasi BI Tirta Segara mengatakan pihaknya mengakui setiap tahun biasanya peredaran uang palsu menjelang Lebaran akan meningkat. Untuk 2014, situasinya lebih baik, terlihat dari penurunan rasio peredaran uang palsu selama semester I lalu.

Rasio peredaran uang palsu itu didasarkan data terakhir BI hingga Mei 2014, ada penurunan, sebetulnya uang kertas yang dipalsukan terus meningkat sejak awal tahun. Pada Januari 2014, rasionya 1 lembar uang palsu per sejuta uang lembar beredar, lalu meningkat pada Maret menjadi 3 lembar, dan Mei lalu rasionya 4 lembar per sejuta uang kertas beredar.

Tirta juga menjelaskan beberapa alasan mengapa peredaran uang palsu dapat menurun adalah kerja sama intensif bank sentral dengan Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu (Botasupal). Lembaga koordinasi ini berisikan BI, Badan Intelijen Negara, Kepolisian RI, Kementerian Keuangan, serta Kejaksaan Agung. Hasil kerja sama antar pihak ini membuat sistem pengamanan uang kertas membaik."Kita sering kampanye, security feature uang kertas juga semakin baik," ujar dia.

BI melihat masyarakat juga semakin memahami perbedaan uang kertas dan uang palsu. Hal ini membuat tugas bank sentral lebih mudah dalam mengedukasi konsumen. Tapi karena potensi peningkatan peredaran uang palsu masih bisa meningkat dalam waktu dekat, BI menegaskan komitmen menindak setiap temuan. (mohar, rin)

Related posts