Lele Herbal

Pertamina Bantu Perekonomian Petani

Sabtu, 12/07/2014

Pertamina EP Field Rantau dukung penuh pembudidaya Lele Kelompok Sido Urip. Dimulai dengan pemberian pelatihan budidaya ikan lele yang baik, mulai dari cara pembenihan sampai dengan pembesaran bahkan pendampingan untuk pemasaran dan penguatan manajemen kelompok.

NERACA

Jamu herbal sering kita dengar, namun bagaimana dengan lele herbal? Tidak banyak dari kita yang sering mendengar istilah ini. Penamaan ini bukan lantas ditujukan kepada jamu herbal yang terbuat dari lele atau juga lele yang beraroma wangi dan menyegarkan seperti layaknya herbal.

Semuanya berawal dari Kampung Tanah Berongga, yang terletak di Kota Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang. Usut punya usut ternyata hasil produksi lele yang demikian merupakan hasil inovasi dari Kelompok Tani “Sido Urip”, sebagai pelaku budidaya lele di Tanah Berongga, yang berhasil menemukan ramuan herbal khusus untuk dicampurkan di pakanan lele.

Hasilnya, saat ini daerah ini dikenal dengan produksi lele-nya yang gemuk, berwarna lebih cerah daripada lele pada umumnya, memiliki lendir yang lebih sedikit serta tidak berbau amis. Walhasil, tidaklah heran jika saat ini banyak orang yang berbondong-bondong mendatangi kampung ini secara khusus.

“Semuanya berawal ketika kami memulai budidaya ini, terjadi hal yang tidak kami bayangkan. Benih lele yang kami tabur dan pelihara banyak yang mati. Jujur, kami sangat pusing dibuatnya. Sempat terpikir untuk mengurungkan niat memelihara lele. Namun salah satu rekan kami terinspirasi oleh ramuan jamu yang dibuatnya untuk ayam peliharaannya sehingga membuatnya tumbuh sehat dan lebih kuat menghadapi penyakit. Lantas, ide yang sama kami coba terapkan kepada lele yang kami pelihara. Ramuannya berasal dari buah-buahan dan tumbuh-tumbuhan tradisional, seperti: jahe, buah kedaung, daun sirih, mengkudu, bawang putih, daun sirsak, kencur, kunyit, temulawak serta ditambah garam dan fermentasi gula merah. Total terdapat kurang lebih 11 macam bahan,” ujar Bambang Sutrisno, salah satu anggota kelompok Tani Sido Urip.

Hampir kurang lebih 60% penduduk Kampung Tanah Berongga berasal dari etnis Jawa. Tidaklah heran jika nama kelompok maupun nama anggota sebagian besar identik dengan istilah Jawa. Imbas positif dari budidaya lele kini dirasakan oleh sebagian besar penduduk. Ketika upaya budidaya lele pertama kali dilakukan pada tahun 2011, hanya terdapat 6 buah kolam berukuran 8x6 m dengan anggota sebanyak 14 orang. Kini, terdapat 95 kolam budidaya lele dengan jumlah anggota bertambah menjadi sebanyak 23 orang.

Panen lele dilakukan setiap 2,5 bulan sekali dengan hasil didapat sebanyak 150 kg di kolam yang rata-rata berukuran 3x15 m, dengan jumlah bibit yang disebarkan sebanyak 1500 ekor di setiap kolamnya.

“Dengan hasil tersebut, di setiap panennya kami dapat meraup keuntungan rata-rata sebesar 6 juta rupiah,” ujar Bambang.

Peluang lainnya yang kini coba digarap oleh Pak Bambang dan rekan-rekan adalah penjualan bibit/benih berukuran 3 cm yang dihargai 300 rupiah setiap kilogramnya.

“Apabila kami hitung-hitung, keuntungannya relatif sama dengan budidaya lele yang telah dilakukan selama ini. Untuk setiap budidaya benih, dibutuhkan modal sebesar 1 hingga 1,5 juta rupiah yang mampu menghasilkan produksi sebanyak 20,000 ribu benih. Sehingga apabila dihitung, keuntungan yang kami peroleh sebesar 6 juta. Kami syukuri ini sebagai penghasilan tambahan yang dapat membantu kami,” ujar Bambang lagi.

Pembudidaya Lele Kelompok Sido Urip mendapatkan dukungan penuh dari Pertamina EP Field Rantau. Ide budidaya lele sendiri lahir dari proses pemetaan (mapping) yang dilakukan oleh Pertamina sebelumnya dimana karakter tanah di Kampung Berongga, yang didominasi tanah liat, sangat cocok untuk budidaya lele.

“Kontur tanah demikian membuat air kolam tidak gampang mengering. Begitu juga sehabis panen, proses pengeringan oleh cahaya matahari akan berlangsung lebih cepat, sehingga bakteri-bakteri perusak dapat mati. Dengan demikian kolam dapat menjadi steril, sehingga dapat segera digunakan untuk musim budidaya selanjutnya. Hal ini berbeda dengan kolam di jenis tanah lain, dimana kolam tidak bisa benar-benar kering dengan sepenuhnya,” ujar Jufri kembali.

Guna membantu perekonomian keluarga, para Ibu Rumah Tangga (Ibu RT) di tanah Berongga juga sudah melakukan pengolahan makanan berbahan baku lele. Inovasi lainnya yang berhasil dilakukan oleh Kelompok Pembudidaya Ikan Lele Tanah Berongga ini adalah berupa: pembuatan EM4 sebagai penetralisir keasaman air kolam dan pemanfaatan keong emas yang selama ini menjadi hama bagi petani sawah (berdampak positif terhadap penyelamatan lingkungan melalui berkurangnya penggunaan racun pembunuh keong oleh masyarakat, dimana selama ini dampak negatif yang timbul adalah munculnya kerusakan tanah dan udara akibat terkontaminasi racun).

Hal menarik lainnya, saat ini kelompok pembudidaya Kampung Tanah Berongga, sudah memulai mengembangkan kegiatan budidaya lele dengan mengembangankan akuaponik (perpaduan kegiatan akuakultur dengan hidroponik, dimana kolam ikan tanah dipadukan dengan penanaman sayuran).

“Kami senang bahwa upaya yang kami lakukan mendapatkan apresisasi mendalam serta bermanfaat besar bagi masyarakat Tanah Berongga. Harapan kedepannya, kami berkeinginan agar masyarakat Tanah Berongga dapat memberdayakan dirinya secara mandiri, sehingga kesejahteraan masyarakat dapat semakin meningkat,” tutup Jufri