Pilpres Berjalan Aman, Geliat IHSG Kian Melesat

NERACA

Jakarta – Momentum pemilu presiden (Pilpres) menjadi perhatian pelaku pasar modal sejak awal, terlebih bila mengetahui hasilnya. Oleh karena itu, melihat perhelatan pemilu yang diyakini aman dan berjalan damai, keyakinan investor untuk terus bertransaksi saham makin meningkat jelang pelaksanaan Pilpres. Hal ini merupakan respon positif pelaku pasar, terlebih sebagian investor sudah menyakini bila hasil pilpres nanti akan sesuai ekspektasi.

Pengamat pasar modal dari Universitas Pancasila Agus Irfani mengatakan, menguatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) ini lebih dikarenakan situasi politik aman menjelang pilpres yang membuat pasar modal Indonesia kembali bergairah.

Hal ini juga dikaitkan dengan berhasilnya masa kampanye yang aman, kemudian kondisi politik jelang pilpres juga terkendali. Sedangkan kondisi pasar global maupun regional mengalami penurunan dan hal ini tidak begitu mempengaruhi pasar modal di Indonesia dikarenakan gairah pasar modal sedang bergairah jelang pilpres ini,”Kondisi wait and see yang dilakukan oleh para pelaku pasar modal dinilai berhasil sehingga IHSG dapat menguat. Selama ini ada kekhawatiran pertarungan politik akan ketat, sehingga timbul konflik. Namun, saat kampanye hingga sekarang tidak terjadi apa-apa, hasilnya bagus dan damai, sehingga investor kembali masuk ke pasar domestik,” ujarnya kepada Neraca di Jakarta, Selasa (8/7).

Menurut dia, dengan melihat kondisi para pelaku pasar maka mereka lebih menghendaki calon pemimpin Indonesia dari kalangan pengusaha dan bukanlah kalangan militer. Hal ini bisa dicontohkan dari negara Thailand, dimana kepemimpinan nasional dikendalikan oleh militer sehingga secara otomatis terjadi penurunan IHSG, hal ini bisa terjadi di Indonesia.“Apalagi investor asing yang lebih mendominasi pasar modal Indonesia lebih menghendaki pemimpin nasional yang berasal dari pengusaha dibandingkan dari militer. Hal ini dikarenakan para investor asing tidak terlalu menyukai kepemimpinan dari militer,” ujar Agus.

Dirinya menambahkan, kenaikan IHSG ini memang cukup baik, namun kondisi ini hanya berlangsung sementara saja. Kenaikan IHSG akan berjalan dalam jangka waktu panjang atau lama apabila kegiatan politik pilpres benar-benar berlangsung aman dan damai,“Pelaku pasar juga melihat komitmen kedua capres dalam menerima hasil dari pilpres nanti menjadi pendorong kenaikan IHSG. Komitmen tersebut menaikkan kepercayaan investor bahwa situasi setelah pilpres akan berlangsung kondusif. Hal ini dianggap penting yang diharapkan dapat mengerek indeks untuk bisa menguat setelah pilpres nanti,” lanjut Agus.

Sementara Presiden Director Batavia Prosperindo Aset Management, Lilis Setiadi memprediksikan, kondisi pasar saham jika presiden terpilih sesuai ekspektasi market, tentunya euforia akan lebih lama. Namun hal ini tidak akan terjadi jika presiden tidak sesuai ekspektasi market,”Euforia presiden seusai market akan lebih panjang. Karena market senang nih. Kok IHSG sudah 5.000-an aja,”ujarnya.

Namun sebaliknya, jika hasil pilpres tidak sesuai harapan pasar, pergerakan indeks BEI kembali ke awal dan tentunya euforianya tidak berlangsung lama. Maksimum bulanan dan bahkan cuma dua minggu. Menurut dia, kalau pasar sudah panik dan investasi keluar karena presiden terpilih tidak sesuai market akan membuat snowball yang memiliki efek yang lama,”Sehingga pada jual semua dan aksi beli sedikit. Ini membuat balik ke capital market itu butuh waktu dan keyakinan kembali prosesnya, itu enggak sebentar lho. Nah makanya tadi saya bilang, harus ada policy,”tandasnya.

Tercatat mengakhiri perdagangan Selasa kemarin, indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat tajam 35,681 poin (0,72%) ke level 5.024,712. Sementara Indeks LQ45 melaju 10,319 poin (1,22%) ke level 859,412,”Optimisme pelaku pasar terhadap pelaksanaan pemilu presiden yang diyakini berjalan lancar menjadi salah satu faktor positif bagi indeks BEI," kata analis HD Capital Yuganur Wijanarko di Jakarta, Selasa (8/7).

Dia menambahkan, penguatan rupiah terhadap dolar AS yang kembali pada tren penguatan menambah sentimen positif bagi pasar saham di dalam negeri di tengah pelemahan regional. Secara teknikal, lanjut dia, jika IHSG BEI mengalami koreksi setelah mengalami penguatan dalam beberapa hari terakhir namun masih dapat bertahan di atas level 4.980 maka arah selanjutnya indeks BEI dapat menuju 5.200 poin.

Perdagangan kemarin, investor asing memborong saham dalam jumlah besar. Transaksi investor asing tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 1,584 triliun di seluruh pasar. Perdagangan berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 274.043 kali dengan volume 7,868 miliar lembar saham senilai Rp 10,773 triliun. Sebanyak 120 saham naik, 178 turun, dan 92 saham stagnan. mohar/bani

BERITA TERKAIT

Sentimen Negatif The Fed Tekan Laju IHSG

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis ditutup melemah 50,33 poin dipicu sentimen terbukanya…

Aksi Profit Taking Masih Hambat Laju IHSG

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (21/2) ditutup melemah 19,47 poin seiring dengan…

Pasca Rekor Baru, IHSG Diburu Profit Taking

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (20/2), indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

AKIBAT JARINGAN INTERNET BELUM MERATA - Bappenas: Indonesia Belum Siap Ekonomi Digital

Jakarta-Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Prof Dr. Bambang Brodjonegoro menilai Indonesia belum siap menghadapi era ekonomi digital. Pasalnya, infrastruktur penopang…

Perlu Libatkan Lembaga Kajian Rumuskan Kebijakan

NERACA Jakarta – Pemerintah dinilai perlu melibatkan dan mempertimbangkan masukan serta rekomendasi yang konstruktif dari sejumlah lembaga kajian terpercaya dalam…

KEBIJAKAN DESENTRALISASI DINILAI BERMASALAH - Jokowi: Ada 42 Ribu Aturan Hambat Investasi

Jakarta-Presiden Jokowi mengungkapkan, masih ada peraturan di tingkat pusat hingga daerah yang menghambat investasi, bahkan jumlahnya mencapai 42.000 aturan. Sementara…