Indonesia Eximbank Luncurkan Fasilitas Asuransi Gagal Ekspor - Tekan Defisit Neraca Jasa

NERACA

Jakarta - Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia atau Indonesia Eximbank menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dengan perusahaan reasuransi Indonesia, yaitu PT Reasuransi Nasional Indonesia, PT Reasuransi Internasional Indonesia dan PT Tugu Pratama Indonesia, serta satu perusahaan reasuransi asing, Amlin Singapore PTE Limited.

Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Eximbank, I Made Gde Erata, persetujuan MoU ini untuk meningkatkan kinerja ekspor Indonesia berupa Fasilitas Asuransi Gagal Ekspor dalam bentuk Treaty Marine Cargo Insurance (Perjanjian Asuransi Pengangkutan Barang).

Pasalnya, kata Erata, fasilitas yang disediakan Indonesia Eximbank selama ini baru berupa fasilitas Asuransi Gagal Bayar yang diberikan kepada eksportir untuk menutup kerugian karena pembeli barang atau jasa tidak memenuhi kewajiban bayar sesuai dengan perjanjian. "Selama ini fasilitas asuransi yang disediakan oleh Indonesia Eximbank adalah fasilitas asuransi gagal bayar," ungkap Erata, di tengah-tengah penandatanganan nota kesepahaman di Jakarta, Senin (16/6).

Dengan fasilitas baru ini, lanjut Erata, diharapkan peran Indonesia Eximbank sebagai lembaga yang berfungsi pendukung program ekspor nasional dapat lebih ditingkatkan lagi. "Harapan kami (Indonesia Eximbank) adalah untuk bisa terus mendukung kegiatan ekspor bagi produk ekspor Indonesia, dimana pada akhirnya dapat meningkatkan penerimaan pendapatan negara," jelasnya.

Senada, pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Bachrul Chairi memandang pentingnya kerja sama ini, karena dengan demikian akan mampu menekan defisit neraca jasa yang mencapai US$11,42 miliar pada 2013 lalu. Defisit yang ada, kata dia lagi, disumbang oleh sektor transportasi yang mencapai US$8 miliar dan asuransi US$1,02 miliar.

Oleh karena itu, Bachrul memandang dengan kerja sama yang dibuat ini mampu menekan defisit neraca jasa Indonesia. "Kebijakan ini jelas akan membantu untuk merevitalisasi angka defisit sehingga neraca jasa bisa diperbaiki," papar dia. Dengan konsep yang dicanangkan ini, Bachrul optimistis pemerintah dapat menekan angka defisit hingga 8%-15%.

"Dengan begitu, tentunya kita bisa memperbaiki posisi angka defisit di mendatang dengan kerja sama ini," tandas Bachrul. Sebelumnya, Indonesia Eximbank juga telah menandatangani perjanjian fasilitas Kredit Investasi Ekspor (KIE) dengan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk untuk untuk melakukan percepatan penyelesaian proyek Pabrik Feronikel Pomalaa (P3FP) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara.

Indonesia Eximbank juga telah menerbitkan surat utang atau obligasi dengan skema Penawaran Umum Berkelanjutan II. Sementara itu, target dana yang akan dihimpun sebesar Rp24 triliun. Obligasi ini diterbitkan lantaran Indonesia Eximbank ingin mendukung pengembangan ekspor nasional. "Nanti dana yang kita peroleh dari Penawaran Umum Obligasi akan digunakan untuk pembiayaan aset produktif dalam bentuk piutang ekspor," pungkas Erata. [ardi]

Related posts