Indo Premier Gagasi Gunakan Indeks Sri Kehati - Alternatif Investasi ETF

NERACA

Jakarta - Sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan dan peduli lingkungan, perusahaan manajer investasi PT Indo Premier Investment Management (IPIM) memprakarsai produk reksa dana saham yang diperdagangkan di Bursa atau lebih dikenal dengan nama ETF (Exchange Traded Fund) untuk penggunaan indeks Sri-Kehati di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kata Direktur Eksekutif Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Kehati), MS Semibiring, diharapkan dengan peluncuran Indeks Sri Kehati ini masyarakat memiliki indeks acuan yang menggambarkan perusahaan-perusahaan yang menguntungkan secara ekonomi dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan hidup,”Indeks Sri-Kehati merupakan satu-satunya indeks hijau (green index) yang listing di pasar modal dan pertama keberadaannya di Asia Tenggara,”ujarnya di Jakarta, Senin (16/6).

Dia menuturkan, indeks Sri-Kehati menggunakan metodologi unik dan inovatif guna mengukur praktik perusahaan dan menerjemahkannya ke dalam sistem rating untuk memilih 25 perusahaan di BEI. Menurutnya, Indo Premier sebagai fund manager telah teruji sebagai pelaksana reksa dana maupun ETF dan dengan menggunakan indeks Sri Kehati ini merupakan suatu investasi yang baik. Apalagi keuntungan yang didapat itu untuk meningkatkan pendidikan lingkungan.

Dia menjelaskan, ada mekanisme seleksi bagi perusahaan untuk dimasukan dalam Indeks Sri-Kehati terdiri dari tiga tahap. Pertama, seleksi negatif (negative screening), yakni memastikan bahwa perusahaan-perusahaan yang dipilih tidak melakukan aktifitasnya dalam hal, pestisida, nuklir, senjata, tembakau, alkohol, pornografi, perjudian dan Genetically Modified Organism (GMO).

Kedua, aspek keuangan, memiliki total aset dan kapasitas pasar di atas Rp1 triliun, memiliki free float ratio di atas 10%, dan memiliki positif Price Earnings Ratio (PER) selama enam bulan terakhir. Ketiga, aspek fundamental, yakni tata kelola perusahaan, lingkungan, keterlibatan masyarakat, perilaku bisnis, hak asasi manusia dan sumber daya manusia baik berdasarkan faktor kuantitatif maupun kualitatif.

Dalam menentukan dan memilih saham-saham yang masuk dalam kriteria fundamental, Yayasan Kehati menjalin kerja sama dengan Independent Data Provider. Indeks Sri-Kehati dievaluasi dua kali dalam setahun, yaitu pada Mei dan November.

Hasil evaluasi atas 25 perusahaan tersebut akan dipublikasikan oleh BEI. Aspek fundamental Sri-Kehati adalah mempertimbangkan enam faktor, yaitu environmental, community, corporate governance, human rights, business behaviour, dan labour practices & decent work.BEI pun menyambut baik atas kolaborasi antara Yayasan Kehati sebagai pemilik dari Indeks Sri-Kehati dengan IPIM sebagai perusahaan yang sudah memiliki pengalaman dalam pengelolaan ETF.

Sementara Direktur Pengembangan BEI, Frederica Widyasari Dewi menambahkan, dengan adanya tambahan ETF ini diharapkan dapat turut meramaikan pasar modal dan memberikan pilihan alternatif bagi investor dalam berinvestasi,”Potensi ke depan sangat baik, kapitalisasi pasar semakin meningkat, dengan adanya produk seperti ini akan sangat memudahkan masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal,"ungkapnya. (bani)

Related posts