Citilink Pilih Pendanaan Lewat Go Public - Bakal Lepas 40% Saham

NERACA

Jakarta –Guna mengembangkan sayap ekspansi bisnisnya, maskapai penerbangan berbiaya murah Citilink yang juga anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) lebih memilih mencari pendanaan lewat pasar modal ketimbang menggandeng investor strategis lewat merger.

CEO PT Citilink Indonesia (Citilink) Arief Wibowo mengatakan, meskipun saat ini pihaknya mencari strategic partnership usaha. Namun perseroan lebih mantab dengan mencari modal melalui melalui penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). Manajemen Citilink berniat akan melepaskan 40% sahamnya ke public,”Kita belum bicara detail ke sana. Tetapi dari rencana kita untuk strategic partnership sampai 40%. Kira-kira skema kita untuk IPO itu 40%," ujarnya di Jakarta, Kamis (12/6).

Dia mengatakan, dana yang didapat dari hasil IPO tersebut akan digunakan untuk melakukan ekspansi bisnis. Salah satunya dengan membuka rute-rute baru untuk ASEAN, seperti ke Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok dan Australia bagian utara (Perth).

Selain itu, dana tersebut juga akan digunakan untuk menambah armada pesawat hingga 2025, dengan target lima tahun pertama sebanyak 50 pesawat. Sementara untuk tahun ini, Citilink menargetkan untuk memiliki 32 pesawat,”Ya, jadi tahun ini tahun regional expansion, karena kita di Bandara Halim Perdanakusuma bisa mendapatkan slot yang lebih banyak. Sementara kita rescheduled untuk regional kita prioritaskan untuk perkuat pasar domestik. Nanti kita akan masuk lagi ke regional kira-kira kuartal IV,”ungkapnya.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk, Emirsyah Satar pernah bilang, perseroan bakal menjual anak usahanya PT Citilink Indonesia melalui kerjsama investor strategis. Kala itu, ada empat peserta yang mengajukan penawaran membeli saham Citilink. Namun saat ini tersisa dua perusahaan.

Disebutkan, kedua perusahaan tersebut diklaim siap menjadi investor strategis bagi PT Citilink Indonesia. Menurut Emirsyah, kedua perusahaan tersebut sedang memasuki tahap negosiasi harga,”Apabila harga tidak mencapai kesepakatan, maka penjualan saham Citilink tidak akan dilanjutkan. Kalau tidak sesuai dengan yang kita harapkan ya tidak akan kita paksakan (dilepas)," ujarnya.

Meski demikian, Emirsyah tidak bersedia menyebutkan kedua perusahaan yang dimaksud, termasuk target nilai penjualan saham Citilink. Menurut catatan, Garuda telah menunjuk Standard Chartered Securities sebagai penasihat keuangan (financial advisor) untuk penawaran 40-45% saham Citilink tersebut.

Sementara itu, Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Konstruksi, dan Jasa Lain Gatot Trihargo menambahkan, pelepasan saham Citilink tidak memerlukan persetujuan dari Kementerian BUMN,”Hanya perlu persetujuan dewan komisaris saja. Kan Citilink anak perusahaan Garuda," ujar Gatot.

Dia menilai rencana pelepasan saham Citilink baik karena tidak akan membebani induk perusahaannya. Sebab, tahun lalu Citilink merugi sekitar US$ 48,48 juta. Tujuan anak usaha Garuda Indonesia mencari mitra stategis bukan hanya berharap dari segi penyertaan suntikan dana. Namun, lebih ke pengelolaan manajemen bisnis maskapai bertarif rendah (low cost carrier/LCC), sehingga menjadi lebih baik. (bani)

Related posts