Jelang Ramadan, Produk Ilegal Mulai Marak Beredar - Perdagangan Dalam Negeri

NERACA

Jakarta – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan dan lebaran, peredaran barang ilegal mulai marak terjadi. Hal tersebut karena memanfaatkan permintaan masyarakat terhadap kebutuhan pokok yang mengalami peningkatan. Menurut Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Roy Sparingga, produk makanan dan minuman yang beredar di pasar tidak layak lebih banyak beredar menjelang hari keagamaan datang dibandingkan bulan normal.

“Hampir setiap tahunnya menjelang Ramadan dan lebaran, peredaran produk-produk ilegal dan pangan kadaluwarsa selalu mengalami pening. Ini adalah masa panen pelaku usaha nakal. Mereka melakukan kegiatan cuci gudang. Jadi, selama ini pasti banyak tertimbun di gudang-gudang mereka. Gudang distributor yang nakal tadi,” ucap Roy, di Jakarta, Kamis (12/6).

Hingga Juni 2014, Badan POM telah menemukan 5 ribu produk ilegal. Ini melalui 520 sarana distribusi yang dicurigai di seluruh Indonesia. “Dua minggu ini lebih dari 5000 kemasan produk ilegal,” katanya. Dari 20 provinsi, temuan produk ilegal paling banyak terdapat di DKI Jakarta. Jenis produk ilegalnya meliputi cokelat, makanan ringan, dan minuman beraneka rasa. Sebagian produk ilegal berasal dari Malaysia dan Thailand.

Di 2013 pada bulan Ramadan dan lebaran, data BPOM mencatat ada 285.423 produk makanan dan minuman kemasan yang tercatat bermasalah. Dari total produk tersebut sebanyak 51% adalah produk tanpa izin. 42% adalah produk kadaluarsa, 5% adalah produk berlebel tanpa izin. Lalu, 1% produk rusak dan produk tidak berbahaa Indonesia sebesar 1%.

Ia menjelaskan bahwa pihaknya telah menemukan gudang untuk memproduksi barang-barang ilegal ataupun kadaluarsa. “Balai POM Jakarta Utara telah menemukan satu gudang produk-produk ilegal. Mengenai produknya nanti bisa ditanyakan. Saya rasa produknya seperti bahan makanan menjelang puasa dan Lebaran," ungkapnya.

Pihaknya pun menilai perlu dilakukannya pemberantasan terhadap produk-produk ilegal dan kadaluarsa. Namun untuk melakukan pemberantasan, ada tiga pilar penting dalam menghadapai masalah tersebut. “Pertama, bagaimana pemerintah menyikapi ini. Kedua, bagaimana pelaku usaha membentuk ini. Bentuk usahanya seperti apa? Ketiga, bagaimana masyarakatnya,” terangnya.

BPOM juga membentuk tim terpadu yakni Food Inspectur bertugas mengawasi produk makanan minuman yang beredar di daerah. BPOM akan mengandeng Kementrian Pertanian, Kementrian Perdagangan, Kementrian Kesehatan, Polisi dan Bea Cukai untuk memantau temuan produk makanan dan minuman di supermarket, hypermarket hingga pasar tradisional.

Roy memaparkan pihaknya memiliki MoU dengan beberapa pihak. “Contoh di pintu masuk Dirjen Bea Cukai, ada karantina untuk produk pertanian dan perikanan. Ini sangat penting. Tapi, kenyataannya tetap saja barang masuk. Kita kan tidak mau,” tegasnya.

Dia mengatakan, barang masuk itu bisa melalu free thread zone. Sebanyak 84% data makanan ilegal ada di Batam mengingat di sana juga area besar untuk masuk barang-barang dari luar negeri. “Ada 5 miliar lebih dalam satu bulan kami temukan di sana. Jumlah yang sangat besar tentunya,” ujar dia.

Kemudian, lanjut Roy, upaya pemerintah bagaimana bekerja sama dalam pemberantasan ini melalui lintas sektor. “Bagaimana pemerintah daerah mengawal ini. Karena tadi disebutkan bagaimana ritel-ritel tradisional menjadi perhatian penting. Distribusi ini yang dilakukan para distributor, mereka menjual ke pasar/toko non modern. Di sini, kita ingin melindungi masyarakat dari jangkauan tersebut,” katanya.

Sementara untuk pelaku usaha, Roy menegaskan harus ada ketetapan komitmen dengan peritel dan importir. Selain itu, masyarakat juga perlu diedukasi dan harus kritis. “Mereka bisa melindungi diri sendiri. Kalau ada hal mencurigakan, harus diwaspadai. Membeli, harus baca dulu labelnya. Informasinya seperti apa? Kalau ada yang mencurigakan dilaporkan ke kita,” pungkasnya.

Pasokan Aman

Dalam kesempatan sama, produsen makanan dan minuman sudah mulai memasok kebutuhan untuk Ramadan dan Idul Fitri. Distribusi terutama dilakukan untuk produk makanan-minuman tahan lama “(Distribusi) sudah mulai dari bulan ini. Distribsi kita tingkatkan dan sudah sampai ke daerah. Itu ke seluruh wilayah Indonesia. Itu kan biasanya berlaku H-7 hingga H+7 lebaran untuk truk berat," ujar Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman.

Untuk makanan dan minuman yang tak tahan lama juga didistribusikan. Namun, volume distribusinya diperkecil. “Jadi kita distribusikan dengan menggunakan truk-truk kecil sehingga pada saat pelarangan truk berat, truk kecil masih bisa tetap jalan,” jelasnya. Berdasarkan itu, Lukman menjamin pasokan makanan dan minuman pada bulan puasa dan lebaran mendatang aman.

Related posts