Suparma Catatkan Rugi Kurs Rp 117 Miliar

NERACA

Surabaya – Dampak dari melemahnya nilai tukar rupiah, rupanya memberikan dampak signifikan terhadap kinerja keuangan PT Suparma Tbk (SPMA) lantaran mengalami rugi selisih kurs. Tercatat sepanjang tahun 2013, produsen kertas ini mengalami rugi kurs sebesar Rp 117 miliar. Dimana angka ini membengka dibandingkan tahun sebelumnya mencapai Rp 30 miliar.

Direktur Keuangan PT Suparma, Tbk Hendro Luhur mengatakan, rugi selisih kurs ini disebabkan terpuruknya rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Namun, perseroan masih membukukan pertumbuhan penjualan bersih sebesar 9,5 % menjadi Rp 1,39 triliun dimana pertumbuhan penjualan bersih tersebut terutama disebabkan oleh naiknya kuantitas penjualan produk kertas, “Selama tahun 2013, penjualan produk kertas perseroan mencapai 189 ribu MT. Sedangkan harga jual rata-rata mengalami peningkatan sebesar 4,7% dibandingkan harga jual rata-ratabdi tahun 2012,”ujarnya di Surabaya, kemarin.

Disebutkan, pencpaian penjualan bersih dan kuantitas penjualan produk kertas pada tahun 2013 juga melampaui target yang dipatok sebesar Rp 1,37 triliun atau 184 ribu MT. Tahun ini, perseroan mengalokasikan belanja modal sebesar US$ 28 juta. Dimana sebesar US$ 25 juta digunakan untuk investasi mesin kertas baru yang akan meningkatkan kapasitas terpasang perseroan sekitar 13% menjadi 220 ribu MT.

Kata Hendro, peningkatan kapasitas ini selain dipicu utilisasi pabrik yang saat ini mencapai 97 % juga karena meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap produk tissue, karenanya untuk mesin baru nomor 9 nanti 100 % akan menghasilkan kertas tissue. Lebih lanjut dia menyatakan, sejak perseroan memiliki mesin no 8 yang menghasilkan kertas tissue, fokus bisnis perseroan beralih dari sebelumnya industrial produk pada consumer produk.

Dia menambahkan, mengingat kebutuhan masyarakat, hotel, rumah makan akan tissue terus meningkat. Selain itu, perseroan menjualnya produknya secara ritel dan hal ini menghasilkan margin yang cukup besar bagi perseroan. Jika sebelumnya komposisi produk perseroan 60% industrial produk berupa kertas duplex dan kertas koran, maka tahun 2013 comsumer produk mendominasi 55% dan industrial produk 45%, “Di Indonesia, walaupun krisis ekonomi penjualan consumer produk tidak berkurang karena produk makanan minuman dan perhotelan terus tumbuh sehingga produk perseroan seperti tissue dan kertas laminating mengalami peningkatan penjulan cukup signifikan,”katanya.

Asal tahu saja, produk tissue memberikan kontribusi sebesar 20%, kertas laminating sebesar 30%, duplex sebesar 45% terhadap penjulan Suparma. Diharapkan pada tahun 2015 nanti, komposisi penjualan duplex sekitar 30-35% saja. Alasannya, perseroan akan meningkatkan produk tissue dengan investasi US$ 23 miliar pada tahun 2014 dan akan berproduksi pada tahun 2015.

Dia mengungkapkan, investasi sebesar US$ 10 miliar akan didanai pinjaman Bank Muamalat, sementara sisanya US$ 10 miliar akan didanai dari pinjaman PT Ekshibishi Indonesia dan US$ 3 miliar merupakan dana sendiri, “Nantinya mesin yang didatangkan dari salah satu prodesen mesin terbaik di dunia Valmet Swedia dan akan beroperasi Februari 2015,” tegas Hendro. (shanty)

Related posts