Kemendag Targetkan Pertumbuhan Ekspor 2014 Capai 4,1%

Senin, 24/03/2014

NERACA

Jakarta - Kementerian Perdagangan menargetkan pertumbuhan ekspor tahun 2014 sebesar 4,1% atau nilainya diperkirakan mencapai US$ 190 miliar. Sedangkan target ekspor nonmigas tahun 2014, ditetapkan tumbuh sekitar 5,5%-6,5% dibanding tahun 2013, dan nilainya diperkirakan berada di kisaran US$ 158 miliar-159 miliar. Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Perdagangan RI, Muhammad Lutfi, di Jakarta, akhir pekan kemarin.

“Untuk mencapai target peningkatan ekspor tersebut, Kemendag telah telah menyusun lima strategi utama dalam peningkatan ekspor, yaitu promosi, pengamanan perdagangan, peningkatan daya saing dengan regulasi dan fasilitasi, peningkatan daya saing dengan hilirisasi dan substitusi impor, serta peningkatan daya saing infrastruktur,” lanjutnya.

Strategi tersebut, imbuh Mendag, telah dan akan terus disinkronisasikan dan disinergikan bersama pemangku kepentingan terkait, baik pemerintah (kementerian/lembaga) maupun swasta (KADIN/APINDO/asosiasi serta pelaku usaha), baik di tingkat pusat maupun daerah, serta termasuk dengan perwakilan-perwakilan RI di luar negeri untuk bekerja secara bersama dan bahu membahu dalam upaya peningkatan ekspor tersebut.

Mendag juga menjelaskan tentang perbandingan ekspor tahun 2013 dan 2014. “Pada tahun 2013 ekspor Indonesia mencapai US$ 182,6 miliar, atau menurun 3,9% dibandingkan tahun 2012, sedangkan ekspor nonmigas sebesar US$ 149,9 miliar, atau menurun 2%," ujarnya.

Menurut dia, target pertumbuhan ekspor dijabarkan ke dalam target negara pasar tujuan ekspor yang akan diprioritaskan pada pasar ekspor utama (main market) dan pasar ekspor prospektif (prospective market). Negara-negara yang termasuk dalam pasar utama dipilih berdasarkan pada nilai dan pangsa pasar ekspor terbesar dari nilai ekspor Indonesia ke dunia dengan tren perdagangan yang positif dalam lima tahun terakhir.

Sedangkan untuk negara kelompok pasar prospektif dipilih berdasarkan nilai pertumbuhan ekspor yang tinggi, serta nilai dan pangsa pasar ekspor Indonesia yang terus meningkat di negara-negara dimaksud dengan tren perdagangan yang juga positif dalam lima tahun terakhir.

Pasar ekspor utama dibagi atas 14 negara, yaitu China, Jepang, Korea Selatan, India, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Italia, Spanyol, dan Inggris. Sedangkan pasar ekspor prospektif dibagi atas 19 negara, antara lain Taiwan, Hong Kong, Turki, Myanmar, Kamboja, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Iran, Rusia, Ukraina, Brasil, Meksiko, Argentina, Peru, Chili, Australia, Afrika Selatan, Mesir, serta Nigeria.

Mendag juga menyampaikan bahwa peningkatan ekspor tahun 2014 dilakukan berdasarkan pertumbuhan target produk ekspor yang dibagi atas produk utama, produk prospektif, serta produk nonmigas lainnya. Pertumbuhan ekspor dari kelompok produk utama ditargetkan dapat tumbuh 5,5%-6,5% atau setara dengan nilai US$ 96,7 - 97,7 miliar. Ada 10 produk yang termasuk dalam kelompok ini, yaitu CPO dan turunannya; tekstil dan produk tesktil (TPT); elektronik; karet dan produk karet; produk kayu; pulp dan furniture; produk kimia; produk logam; mesin-mesin; makanan olahan; dan otomotif.

Sementara itu, pertumbuhan ekspor kelompok produk prospektif ditargetkan meningkat 9%-10%, atau senilai US$ 17,1 -17,3 miliar. Kelompok ini terdari dari 10 jenis produk, antara lain alas kaki; perhiasan; produk plastik; udang; ikan dan produk ikan; kopi; kakao dan olahannya; kerajinan; rempah-rempah; serta kulit dan produk kulit.

“Melihat kondisi dan peluang serta persaingan yang ada di pasar dari sisi pasar ekspor maupun potensi dan permasalahan di dalam negeri dari sisi pasokan Indonesia, Kementerian Perdagangan mengajak semua stakeholder terkait untuk bekerja sama, saling bersinergi dan melakukan sinkronisasi program guna mengatasi semua kendala dan permasalahan yang ada, yang terkait dengan ekspor,” tukas Mendag.

Lutfi juga pernah mengatakan, guna meningkatkan kinerja ekspor Indonesia, perlu dibahas strategi peningkatan ekspor, yakni dengan melakukan diversifikasi produk ekspor utama.

Tidak Berdampak

Sementara itu, Ekonom senior Bank Standard Chartered Indonesia, Fauzi Ichsan, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam satu hingga dua tahun mendatang sulit didorong dari peningkatan ekspor. Ia mengatakan, ada dampak revolusi shale gas di Amerika Serikat sehingga sulit mengharapkan kenaikan harga komoditas batu bara, kelapa sawit, dan minyak bumi akan naik dalam 12 bulan hingga 18 bulan mendatang. “Karena 60% ekspor Indonesia berasal dari komoditas, maka sulit harapkan pertumbuhan ekonomi yang datang dari pertumbuhan ekspor,” kata Ichsan.

Menurut dia, pertumbuhan ekspor yang tidak dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional akan memperpanjang defisit transaksi berjalan di Indonesia. “Untuk mengurangi defisit transaksi berjalan, impor harus dikurangi. Caranya dengan menaikkan suku bunga,” katanya.

Pemerintah, lanjutnya, cenderung tidak akan menaikkan harga ataupun mengurangi impor bahan bakar minyak untuk menurunkan defisit transaksi berjalan. “Pada tahun pemilu ini, pemerintah sulit melakukan hal-hal yang tidak populer. Konsekuensinya, pertumbuhan ekonomi sulit untuk di atas enam persen,” katanya.