Kemendag Minta Pemda Bantu Revitalisasi Pasar

NERACA

Bone - Menteri Perdagangan Muhammad Luthfi meminta agar Pemerintah Daerah (Pemda) juga turut memfasilitasi program revitalisasi pasar sehingga tidak mengandalkan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) melalui dana tugas pembantuan. Hal tersebut diungkapkan Lutfi saat kunjungan kerja di Pasar Bajoe, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, akhir pekan kemarin.

Sejauh ini, sambung dia, ada sekitar 9.500 pasar yang butuh direvitalisasi. Sementara anggaran yang disiapkan pada 2014 hanya sebesar Rp500 miliar. "Saat ini, kita punya dana sebesar Rp500 miliar yang hanya bisa memperbaiki atau merevitalisasi sebanyak 80 pasar. Maka dari itu, jangan mengandalkan pemerintah pusat saja tetapi pemerintah daerah juga harus aktif memfasilitasi pasar-pasar tradisional untuk diperbaiki," ucapnya.

Ia menjelaskan upaya revitalisasi pasar dari pemerintah adalah hal yang sangat penting bagi peningkatan perekonomian para pedagang pasar. Pasalnya, ketika pasar direvitalisasi, maka akan ada peningkatan omset antara 70% sampai dengan 500%. "Perbaikan pasar itu sangat penting karena dengan adanya perbaikan pasar maka bisa meningkatkan omset dari penjual tersebut. Ada yang sampai 70% bahkan bisa sampai 500% di Bali. Maka (revitalisasi) perlu didukung untuk bisa bersaing dengan pasar-pasar modern," tukasnya.

Namun demikian, salah satu pedagang pakaian di Pasar Bajoe, Hajibah (32) mengatakan bahwa semenjak 7 bulan lalu menempati Pasar Bajoe telah terjadi penurunan omset. "Kalau di tempat pasar yang lama, dalam sehari bisa mendapat Rp3 juta per hari. Akan tetapi saat menempati pasar yang baru, pendapata rata-ratanya hanya mencapai Rp500 ribu perhari. Kalau secara pendapatan perhari, memang telah turun drastis," katanya.

Hajibah mengaku masih bisa menerima keadaan tersebut lantaran Pasar Bajoe adalah pasar yang baru sehingga membutuhkan promosi-promosi kepada warga Bone untuk kembali mempublikasikan Pasar Bajoe. "Ya kita maklumi karena masih baru. Maka dari itu, kita meminta agar pemerintah daerah bisa mengajak para pembeli untuk berbelanja di pasar Bajoe. Karena, dengan begitu pedagang merasa diuntungkan sementara pembeli mendapatkan fasilitas yang lebih bagus lagi karena pasar terlihat rapih dan bersih," imbuhnya.

Perlu diketahui, Pasar Bajoe adalah salah satu hasil program revitalisasi yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan. Salah satu pasar terbesar di Bone tersebut menghabiskan dana pembangunan sebesar Rp12,5 miliar yang diambil dari dana tugas pembantuan. Sebagian besar produk yang dijual adalah bahan pokok antara lain beras, gula, daging ayam, cabe merah, ikan, sayuran, serta pakaian jadi. Di pasar ini terdapat 545 pedagang, 396 unit kios dan 288 los. Adapun fasilitas yang dimiliki yaitu kantor pengelola, toilet, masjid, area parkir dan area penghijauan.

Dalam kunjungan kerjanya di Pasar Bajoe, Lutfi memantau perkembangan harga dan pasokan barang kebutuhan pokok di pasar setempat. "Harga dan pasokan barang kebutuhan pokok di kota Bone pada umumnya relatif stabil dan aman. Pemerintah akan terus berupaya agar harga dan pasokan barang kebutuhan pokok tetap stabil dan mencukupi," ungkap Mendag.

Berdasarkan hasil pantauan di pasar Bajoe, harga barang kebutuhan pokok seperti beras, gula pasir, minyak goreng curah, tepung terigu, kedelai, daging sapi, daging ayam broiler, telur ayam ras, cabe rawit merah, bawang merah, dan bawang putih relatif stabil dalam beberapa hari terakhir.

"Hal yang perlu diantipasi adalah musim penghujan yang diperkirakan masih akan berlangsung, serta dampaknya bagi produksi beberapa komoditas dan terhadap kelancaran distribusi bahan kebutuhan pokok. Prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan di Indonesia pada bulan Februari-Maret 2014 masih berada pada kisaran menengah dan tinggi, sedangkan pada bulan April baru akan berada pada kisaran menengah," jelas Mendag.

Di sela-sela kunjungannya, Mendag mengimbau agar masyarakat secara aktif dapat menginformasikan kepada Pemerintah jika terjadi kekurangan barang kebutuhan pokok di daerahnya, sehingga Pemerintah dapat berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah dan para pelaku usaha untuk segera memenuhi kekurangan tersebut. "Pemerintah dan Pemerintah Daerah akan terus berkoordinasi dan melakukan langkah-langkah untuk menjaga kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi," tegas Mendag.

Pada kunjungan kali ini, Mendag juga menjelaskan perkembangan harga rata-rata barang kebutuhan pokok di tingkat nasional. Jika harga pada 13 Maret 2014 dibandingkan dengan 6 Maret 2014, maka komoditas yang mengalami penurunan harga adalah beras (0,42%) menjadi Rp8.904/kg, gula pasir (0,36%) menjadi Rp11.461/kg, tepung terigu (0,17%) menjadi Rp8.721/kg, kedelai lokal sebesar (0,34%) menjadi Rp10.290/kg, kedelai impor (0,06%) menjadi Rp10.970/kg, daging sapi (0,06%) menjadi Rp98.728/kg, daging ayam ras(2,18%) menjadi Rp27.980/kg, dan telur ayam ras (3,05%) menjadi Rp19.030/kg.

Adapun yang mengalami kenaikan harga, lanjut Mendag, adalah cabe merah keriting(9,85%) menjadi Rp27.465/kg, cabe merah biasa (8,75%) menjadi Rp27.708/kg, dan cabe rawit merah (4,64%) menjadi Rp50.602/kg. Sementara, harga minyak goreng curah, bawang merah, dan bawang putih relatif stabil.

Related posts