Ekspor Sarang Burung Walet Bisa Langsung ke China

Pertengahan Tahun 2014

Selasa, 11/03/2014

NERACA

Jakarta – Ekspor sarang burung walet asal Indonesia ke China harus melalui Malaysia sebagai negara pihak ketiga. Hal tersebut justru menguntungkan Malaysia karena bisa menjual ke China dengan harga yang lebih mahal dan tentunya bermanfaat bagi neraca perdagangan Malaysia. Namun begitu, pemerintah Indonesia dengan China telah sepakat mengenai perjanjian Mutual Recognition Agreement (MRA).

Menyusul dengan disepakatinya perjanjian tersebut, ekspor sarang burung walet asal Indonesia bisa langsung ke China tanpa melalui negara pihak ketiga. Direktur Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo mengatakan ekspor langsung ke China bisa direalisasikan pada pertengahan tahun 2014.

Iman menjelaskan untuk dokumen sudah diselesaikan baik dari pihak pemerintah China dan Indonesia. “Sarang burung walet, iya dokumen kalau tidak salah. Insya Allah sudah beres dan sudah mendekati final khususnya untuk sarang burung walet. Jadi nanti langsung tanpa lewat Malaysia. Burung walet sudah sepakat. Kita sudah final dan kita harapkan sebelum pertengahan tahun kita sudah bisa ekspor langsung ke sana,” kata Imam di Jakarta, Senin (10/3).

Menurut dia, pihak Indonesia telah merampungkan semua persyaratan yang diajukan pihak Karantina China. Setelah dilakukan uji lab dan investigasi, produk sarang burung walet Indonesia dinyatakan aman dan bisa langsung diekspor ke China. Indonesia mempunyai potensi ekspor sarang burung walet sebesar 400 ton per tahun. Sebanyak 90% sarang walet tersebut diekspor ke China dengan harga hingga Rp 37 juta per kilogram sehingga per tahun Indonesia mendapatkan devisa negara dari sarang burung walet sebesar Rp 7 triliun.

Terbesar di Dunia

Indonesia sebagai negara penghasil sarang burung walet terbesar di dunia, berkeinginan melakukan ekspor langsung sarang burung walet ke negara China. Hal ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada negara perantara seperti Malaysia dan Singapura, dan juga dapat meningkatkan nilai ekspor Indonesia terhadap komoditas tersebut.

Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Peternak Pedagang Sarang Walet Indonesia (APPSWI), Dr. Boedi Mranata, berharap agar sarang burung walet Indonesia bisa diekspor langsung ke China, tanpa harus melalui negara ketiga. “Sepuluh tahun terakhir, Indonesia sulit mengekspor langsung sarang burung walet ke China. Padahal, perdagangan komoditas tersebut sudah berlangsung ratusan tahun,” kata Boedi.

Indonesia tidak bisa langsung mengekspor sarang burung walet karena issue flu burung (H5N1). Sementara Malaysia dan Singapura justru boleh langsung mengekspor komoditas itu ke China, sehingga Indonesia terpaksa harus menggunakan jasa mereka atau lewat Hong Kong untuk masuk ke pasar negara tirai bambu itu.

Diperkirakan, jika Indonesia bisa mengiri, langsung ke China maka ekspor sarang burung ke China akan bertambah 50 – 100 %, dimana pada tahun 2009 mencapai US$ 226.000.000. Dengan demikian, devisa yang bisa dinikmati Indonesia dari komoditas ini bisa mencapai 400 juta dolar, yang berarti masuk 10 besar andalan ekspor non migas Indonesia,” jelasnya.

Dengan begitu keuntungan lain yang didapat Indonesia adalah tidak lagi tergantung kepada negara ke 3 untuk ekspor ke China. Di sisi lain, China juga diuntungkan karena harga komoditas ini menjadi lebih murah di pasar dalam negerinya karena tidak ada lagi biaya pihak ketiga, dan ini tentunya akan menambah permintaan pasar. “Indonesia tahun lalu memproduksi sekitar 70-80% dari total produksi sarang burung walet dunia. Sementara China menyerap lebih dari 60% total perdagangan komoditas sarang burung walet dunia,” terangnya.

Selain ekspor di China, Indonesia juga mengekspor sarang burung walet ke Hong Kong, Taiwan, Singapura, Malaysia, AS dan Kanada, yang berdasarkan data dari BPS, Indonesia tahun lalu mengekspor sarang burung walet ke Singapura US$61.278.000. Import dari Singapore yang cukup besar ini, sebagian besar di re-ekspor kembali ke China.

Boedi mengatakan issue H5N1 sangat merugikan bisnis walet. Meskipun telah banyak dilakukan pemeriksaan H5N1 terhadap walet ternyata tidak pernah sekalipun terbukti walet Indonesia terjangkit H5N1. Ini ada hubungannya dengan cara hidup walet yang tidak pernah hinggap dan tidak pernah kontak dengan unggas atau burung-burung liar yang lain.

Menanggapi issu tersebut, China mensyaratkan bahwa komoditas tersebut harus dipanaskan minimal 70 derajad celcius selama 3,5 detik. Dengan demikian mengatasi virus H5N1 tidak susah. “Dengan penanganan standar tersebut, China seharusnya tidak perlu khawatir terhadap produk ekspor sarang walet dari Indoensia,” ujar Boedi.

Apalagi, pengelolaan rumah walet 20 tahun belakangan ini sudah bagus. Selain itu usaha ini ramah lingkungan, sebab tidak ada polusi yang berarti. Dan saat ini sudah mencapai puluhan ribu unit yang tersebar di seluruh Indonesia. Usaha ini juga dapat menyerap ratusan ribu tenaga kerja mulai dari pengadaan material bahan bangunan, pekerjaan pembangunan rumah-rumah walet, penjaga-penjaganya dan untuk processing sarang walet yang harus dikerjakan secara manual dan berdasarkan labor intensif.