Faktanya, Ekspor Indonesia Masih Stagnan - MENINGKAT KARENA FAKTOR DEPRESIASI RUPIAH

Jakarta – Pernyataan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi yangmenyebutkan kinerja ekspor Indonesia mulai bergairah seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian dunia pasca krisis keuangan global yang melanda beberapa negara pada 2008, menuai tanda tanya besar.

Di mata ekonom Universitas Indonesia Eugenia Mardanugraha, terjadinya peningkatan ekspor harus dilihat dari sisi volume dan nilainya. Apalagi, meningkatnya ekspor tersebut seiring terdepresiasi nilai tukar rupiah atas mata uang dolar. “Saya percaya ekspor meningkat, tapi bukan karena terangkat akibat perekonomian global yang membaik dan lainnya, tapi karena depresiasi nilai tukar rupiah. Oleh karena itu, pemerintah jangan senang dulu karena ekspor meningkat di saat rupiah terdepresiasi. Kecuali kalau rupiah sedang menguat, hingga Rp9000 atau Rp8.000. Itu baru hebat,” jelas dia kepada Neraca.

Eugenia memperkirakan, pada tahun ini ekspor Indonesia masih akan bergerak stagnan. Terlebih pasca terjadinya banyak bencana. “Ekspor di tahun ini tampaknya stagnan karena Indonesia lebih banyak ekspor perkebunan seperti sawit, kopi, dan perkebunan lainnya.” ujarnya.

Di sisi lain, seberapa besar produktivitas atas hasil perkebunan tersebut berkontribusi besar terhadap peningkatan produk ekspor. “Menurut saya, volume produksi yang besar akan dapat meningkatkan nilai ekspor sekaligus mengalahkan produk-produk yang datang dari luar.” jelasnya.

Oleh karena itu, dibutuhkan keseriusan pemerintah, khususnya dalam hal memberikan keleluasaaan kepada para pengusaha seperti produsen tekstil dan lainnya untuk meningkatkan produktivitasnya dan dapat menjualnya dengan harga yang murah dibanding dengan Cina.

Hal yang dikhawatirkan pada tahun pemilu ini, pemerintah akan lebih sibuk mengurusi masalah perpolitikan masing-masing ketimbang mengurusi permasalahan industri. “Biasanya para pengusaha meminta revisi beberapa aturan dan permasalahan pajak dan itu tentunya perlu di-review lebih dulu. Namun, karena pemerintah lebih konsen mengenai pemilu maka hal ini tampaknya akan tertunda,” tutur Eugenia.

Dihubungi terpisah, Rektor Kwik Kian Gie School of Business Anthony Budiawan juga menilai ekspor Indonesia pada 2014 akan cenderung stagnan mengingat orientasi ekspor Indonesia masih cenderung produk-produk mentah dan belum bernilai tambah. “Ekspor di 2014 akan terlihat stagnan. Meskipun perekonomian dunia mulai membaik akan tetapi produk yang di ekspor pun masih tergolong produk mentah sehingga tidak memberikan nilai tambah bagi ekspor. Padahal jika ekspor barang yang sudah jadi maka membuat ekspor semakin bernilai dari sisi nilai bukan volume,” kata Anthony saat dihubungi, kemarin.

Anthony menjelaskan meningkat atau tidaknya ekspor Indonesia juga tergantung dari harga komoditas dunia. Akan tetapi, menurut dia, penentu harga komoditas bukanlah Indonesia melainkan negara-negara yang bukan produsen komoditas-komoditas. “Saat ini Indonesia masih mengekspor seperti batubara, kakao, karet akan tetapi penentu harganya masih negara lain. Padahal mengenai harga bisa mendorong dari sisi nilai, semakin tinggi harganya maka semakin untung ekspornya,” jelasnya.

Anthony juga mengatakan harga komoditas juga tergantung dari kondisi perekonomian dunia. Pasalnya, belakangan ini sedang terjadi kegaduhan di Ukraina yang secara tidak langsung membuat harga komoditas semakin menurun. “Kalau di Ukraina tidak menemukan titik terang, maka bisa saja nanti terjadi perang. China nantinya akan ikut bergabung dengan Rusia, akibatnya harga-harga akan semakin terganggu dan ekspor tidak akan bergairah,” ucapnya.

Tiga Indikasi

Sedangkan menurut Lutfi, setidaknya ada tiga indikasi yang menunjukkan struktur ekspor Indonesia semakin meningkat dan bergairah. Pertama ekspor ke negara-negara tradisional seperti China dan Amerika Serikat di bulan Januari 2014 menguat signifikan, masing-masing naik sebesar 22,6% dan 1,5% dibanding Januari 2013 (YoY). Kedua, ekspor ke negara tujuan ekspor baru atau nontradisional khususnya Uni Emirat Arab, Afrika Selatan, Peru, dan Nigeria pada Januari 2014 juga terus menguat dan masing-masing tumbuh sangat signifikan sebesar 116%, 72%, 187%, dan 117% YoY.

Dan ketiga, terjadi kenaikan ekspor tertinggi ditunjukkan oleh ekspor barang-barang manufaktur, khususnya yang bernilai tambah tinggi seperti mesin-mesin/pesawat mekanik naik 33,7% YoY, perhiasan (54,5%), produk-produk kimia (26,5%), dan kertas/karton (11,0%). Bukan hanya struktur ekspor yang positif, menurut Mendag struktur impor juga sangat menggembirakan. “Yang paling penting dari neraca impor Januari adalah turunnya impor barang konsumsi dan impor migas secara signifikan, digantikan dengan impor barang modal untuk keperluan industri,” kata Mendag.

Indikasinya adalah struktur impor pada Januari 2014 didominasi oleh bahan baku/penolong dengan pangsa 76% dari total impor. Selain itu kenaikan impor barang modal sebesar 8,3% pada Januari 2014 dibanding Desember tahun lalu MoM penurunan impor barang konsumsi sebesar 16,3% MoM pada Januari 2014, serta penurunan impor migas pada Januari 2014 sebesar 15,8% MoM dan 10,4% YoY.

Soal ekspor, Kementerian Perdagangan mempunyai target yang sebagian besar telah terpenuhi. Pada 2012, Kemendag menargetkan ekspor mencapai US$200 miliar akan tetapi realisasinya baru mencapai US$190 miliar. Sementara pada 2013, target ekspor dipasang sebesar US$179 miliar akan tetapi realisasinya mencapai US$182,5 miliar. Dan pada 2014, Kemendag menargetkan bisa mencapai US$190 miliar.

Atas kondisi itu, menurut Mendag, kini beberapa organisasi dunia seperti International Monetary Fund (IMF) dan World Bank memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia akan mengalami peningkatan dari 2,9% pada 2013 menjadi 3,3-3,7% pada 2014.

Pertumbuhan ekonomi dunia yang membaik tersebut membuat ekspor Indonesia semakin bergairah, pasalnya Indonesia tetap mengandalkan negara-negara tradisional seperti China dan AS sebagai negara tujuan ekspor. Namun demikian untuk menciptakan struktur perdagangan yang sehat, pemerintah mengincar negara-negara non tradisional sebagai tujuan ekspor, hasilnya pun mulai terlihat. Beberapa negara non tradisional seperti Uni Emirat Arab, Afrika Selatan, Peru dan Nigeria mulai meningkat nilai ekspornya.

Lutfi menyatakan struktur ekspor yang mengikuti pemulihan ekonomi dunia tengah mengalami pertumbuhan yang didominasi barang-barang bernilai tambah dan diikuti dengan struktur impor yang semakin bermanfaat bagi pertumbuhan ekonomi domestik. “Struktur perdagangan yang sehat ditunjukkan dengan pertumbuhan ekspor yang didominasi produk manufaktur pada Januari 2014 khususnya ekspor bernilai tambah tinggi seperti mesin-mesin, perangkat mekanik, dan bahan-bahan kimia. Ketika ekspor non migas meningkat walaupun rupiah menunjukkan tren penguatan ini artinya kualitas produksi nasional semakin diakui kualitasnya,” ungkap Lutfi.

Related posts