Permintaan Anjlok, Ekspor CPO Indonesia Melemah

Stok Dunia Melimpah

Senin, 24/02/2014

NERACA

Jakarta - Sepanjang Januari 2014, harga semua minyak nabati tertekan karena melimpahnya stok di berbagai negara produsen. Seperti stok Crude Palm Oil (CPO) alias minyak sawit mentah Indonesia dan Malaysia masih melimpah akibat produksi meningkat pada akhir tahun lalu.

Menurut Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadil Hasan, hujan yang mengguyur belakangan ini juga telah mengakhiri masa kering di Brasil dan Paraguay. Hal ini sangat menguntungkan kedua negara itu sehingga panen kedelai tercatat meningkat sesuai harapan.

“Menurut laporan FAO, stock rapeseed di Kanada juga melimpah karena ekspor yang melambat diikuti oleh stok biji bunga matahari di region Laut Hitam yang juga tercatat melimpah. Fakta melimpahnya stok menimbulkan sentimen negatif yang menyebabkan harga minyak nabati dunia melemah dan tertekan,” katanya dalam siaran pers yang diterima, akhir pekan kemarin.

Stok minyak nabati yang melimpah di dunia berdampak pada penurunan ekspor CPO dan turunannya asal Indonesia. Januari 2014 ini, total ekspor CPO dan turunannya mencapai 1,57 juta ton atau turun sebesar 454,6 ribu ton atau 22,5% dibandingkan dengan Desember 2013 yang mencapai 2,02 juta ton.

Turunnya ekspor CPO dan produk turunannya asal Indonesia disebabkan berkurangnya permintaan dari negara tujuan utama ekspor kecuali Amerika Serikat. Ekspor ke India tercatat turun tajam hingga mencapai 54% dari 568.3 ribu ton Desember 2013 menjadi 261.4 ribu ton dan penurunan ini terjadi pada produk turunan CPO.

Turunnya ekspor ke India karena pemerintah India telah menerapkan kenaikan pajak impor refined oil dari 7,5% menjadi 10%. Hal ini dilakukan untuk melindungi industri refinery di dalam negeri yang saat ini terpakai di bawah 40% dari total kapasitas terpasang yang ada.

Penurunan ekspor cukup signifikan juga terjadi ke negara Pakistan. Penurunan tercatat sekitar 41,6% dari 116,2 ribu ton Desember 2013 menjadi 67,9 ribu ton di Januari 2013. Penurunan juga diikuti negara Uni Eropa sebesar 17% dan China sebesar 2%.

Penurunan ekspor juga dipengaruhi telah diberlakukan anti dumping duties oleh Uni Eropa terhadap biodiesel asal Indonesia and Argentina. Khusus untuk Indonesia sendiri, mandatori BBN telah memberikan peluang yang baik bagi industri biodiesel Indonesia yang berbasis CPO untuk mengalihkan pasar biodiesel ke pasar domestik.

“Saat beberapa negara tujuan utama ekspor CPO Indonesia mengurangi permintaannya, Amerika Serikat justru mencatat peningkatan permintaan akan CPO dan turunannya sebesar 6,7 ribu ton (22,5%) dari 29,9 ribu ton pada Desember 2013 menjadi 36,6 ribu ton di Januari 2014,” katanya.

Dari sisi harga, harga rata-rata CPO pada Januari 2014 tertekan dan mengalami penurunan sekitar 5% dari US$ 909,6 per metrik ton Desember lalu menjadi US$ 865 per metrik ton. Harga CPO tidak terjerembab tajam dikarenakan adanya program mandatori bahan bakar nabati (B-10) pemerintah yang telah efektif berlaku sejak September tahun lalu sehingga penyerapan CPO sebagai bahan pencampur diesel meningkat.

Pada Februari ini harga diharapkan akan membaik seiring dengan stock CPO Malaysia dan Indonesia yang akan mulai berkurang. Harga hingga pertengahan Februari tercatat bergerak dikisaran US$ 860-925 per metrik ton. Bea Keluar CPO pada Februari ditetapkan pemerintah sebesar 10,5% dengan harga referensi rata-rata CPO US$ 880,42 dan Harga Patokan Ekspor US$ 809 per metrik ton.

Optimis Tumbuh

Sementara itu, pemerintah merasa optimistis ekspor minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) tahun ini akan terus tumbuh seiring naiknya pertumbuhan ekonomi negara maju. Hatta Rajasa, Menteri Koordinator Perekonomian, mengatakan meningkatnya pertumbuhan negara maju tahun depan akan meningkatkan permintaan CPO dibandingkan capaian 2013.

Menurutnya, pasar ekspor CPO yang diperkirakan mengalami peningkatkan pertumbuhan adalah Jepang, Amerika Serikat, dan sebagian negara Eropa. Ekspor CPO Indonesia ke negara tersebut cukup besar, dan merupakan negara tujuan ekspor tradisional ekspor Indonesia yang selama itu tetap dipertahankan di tengah melambatnya ekonomi global.

“Saya melihatnya Indonesia masih yakin ekspor CPO pada tahun depan akan jauh lebih baik dibandingkan 2013. Bahkan pada barang ekspor lainnya yang selama ini mengalami perlambatan. Sebab, kita melihat beberapa negara maju mengalami perbaikan dan tentunya meningkatkan permintaan,” tegas Hatta.

Dia mengungkapkan, prediksi melambatnya pertumbuhan ekonomi beberapa negara berkembang pada tahun depan seperti China dan India yang merupakan negara tujuan utama ekspor Indonesia tidak akan mempengaruhi permintaan CPO, karena CPO merupakan barang kebutuhan pokok masyarakat.

Hatta menambahkan, upaya lain yang akan dilakukan pemerintah di tengah perlambatan ekonomi global adalah mengembangkan pasar baru, seperti Pakistan yang selama ini mengimpor CPO dari Malaysia.

Sedangkan, untuk mendorong pasar CPO di Eropa, pemerintah berharap kerja sama perdagangan dengan Belanda bisa ditingkatkan, karena Belanda memiliki pelabuhan hub yang terhubung dengan beberapa negara Eropa lainnya.

Sebelumnya, berdasarkan data saat ini, industri kelapa sawit Tanah Air memproduksi rata-rata 23,5 juta ton per tahun. Sebanyak 17 juta ton di antaranya diekspor ke sejumlah negara. Negara pembeli terbesar yakni India sebanyak 32%, China 13,3%, sisanya ke Eropa dan Amerika Serikat. Karena kebutuhan dalam negeri terus meningkat, maka pemerintah menargetkan produksi komoditas itu mencapai 40 juta ton per tahun di 2020.

Menurut Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan, pelaksanaan ISPO ini memiliki jadwal yang akan berakhir hingga 2014 mendatang. "Sebetulnya ISPO ini tidak digunakan sebagai instrumen untuk melawan isu-isu yang terkait lingkungan yang dituduhkan terhadap pengusaha kelapa sawit, tapi lebih kepada roadmap untuk menunjukkan kepada dunia mengenai kepedulian kita terhadap gas rumah kaca," ujarnya.