Semen Indonesia Terus Bidik Pasar Asia Tenggara - Gelar Ekspansi Produk

NERACA

Jakarta - Perusahaan BUMN, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) bersiap menjadi penguasa pasar semen di ASEAN (Asia Tenggara). Untuk itu, perusahaan ini terus melakukan ekspansi produknya ke berbagai negara di Asean seperti Vietnam, Myanmar dan beberapa negara Asean lainnya.

Direktur Utama PT Semen Indonesia Tbk, Dwi Soetjipto mengatakan saat ini selain pasar domestik, market yang terus akan dikembangkan yaitu pasar di negara ASEAN. Oleh karenanya perusahaan sedang berupaya keras untuk mewujudkan untuk menguasai pangsa pasar semen di negara Asean. “Bukan hanya pasar domestik, perusahaan juga berusaha keras untuk terus membidik negara-negara Asean,” katanya kepada wartawan saat peluncuran buku yang berjudul " Road to Semen Indonesia" di Jakarta, Selasa Malam (4/2).

Menurut Dwi, saat ini PT semen Indonesia merupakan salah satu perusahaan semen terbesar di Asean dan produknya-pun menjadi salah satu yang terlaris. Ini dikarenakan mutu produk Semen Indonesia yang memang teruji dan telah dipercaya oleh masyarakat di wilayah Asean.

Namun demikian Dwi menegaskan bukan hal mudah untuk menjadi penguasa pasar bisnis semen di Asean, karenanya butuh kekompakan manajemen dan pemikiran yang sejalan untuk bersama-sama memajukan perusahaan dengan berbagai kreasi dan ide pemikiran.

Apalagi lanjut Dwi, Semen Indonesia merupakan gabungan dari tigak perusahaan semen yang semuanya di bawah naungan BUMN. "Jadi butuh sinergitas yang baik jika ingin menguasai pasar besar di Asean," tegasnya.

Sebagai orang nomer satu di PT Semen Indonesia Tbk, Dwi Soetjipto untuk mencoba berbagai macam strategi agar roda manajemen perusahaan bisa bergulir dan kembali berproduksi. Menurutnya inilah tantangan baginya dalam memperbaiki kinerja perusahaan, menyatukan berbagai perbedaan, mengawal transformasi, hingga upaya pencapaian visi menuju BUMN bertaraf internasional. “Kata kuncinya adalah sinergi dan inovasi. Yang sustainability dan continuously di perusahaan,” terangnya.

Secara logika perusahaan harus sustain dan continuous, maka resep untuk itu adalah inovasi. Tanpa inovasi maka perusahaan hanya akan menjadi barang tua yang teronggok di tempat sampah. "Makanya Kami ingin terus berupaya agar sinergi antar BUMN terus dapat berjalan guna peningkatan usaha yang lebih mapan ke depan," jelasnya.

Kebutuhan Meningkat

Dalam keterangn sebelumnya Menteri Perindustrian MS Hidayat menilai kebutuhan semen secara nasional akan meningkat 8 sampai 10 persen pada tahun 2014 atau sebesar 64 juta ton. Pada tahun 2012, kata dia, kebutuhan semen nasional 54,9 juta ton dan tahun tahun 2013 sebesar 58,5 juta ton atau meningkat 6 persen. "Untuk itu sangat diperlukan peningkatan unit produksi dan optimalisasi produksi," kata dia.

Dia mengatakan, pengembangan industri semen masih sangat prospektif. Sehingga pemerintah terus membuka peluang bagi investor untuk mendirikan perusahaan semen di pulau Jawa, Kalimantan, dan Papua. Pemerintah juga telah berupaya melindungi perusahaan semen dalam negeri agar tidak dikalahkan semen dari luar negeri. "Dengan mengeluarkan aturan larangan impor semen," tegasnya.

Untuk kawasan timur Indonesia, kebutuhan semen akan meningkat karena pemerintah telah membentuk unit percepatan pembangunan Papua dan Papua Barat. Akan banyak infrastruktur yang dibutuhkan oleh provinsi di Timur Indonesia ini. "Kami berharap kemajuan industri tetap menjaga kemanan dan kelestarian lingkungan hidup," papar Hidayat.

Sementara itu menurut Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia, Widodo Santoso, memprediksi pendapatan atau omzet industri semen tahun 2014 mencapai Rp 56,7 triliun atau naik 6,7% dibanding proyeksi omzet tahun ini sebesar Rp 53,1 triliun.

Hal itu ditopang oleh tumbuhnya volume penjualan seiring dengan proyeksi pertumbuhan pasar semen nasional pada 2014. "Tahun depan kami perkirakan pasar semen sebesar 62-63 juta ton," ungkapnya.

Asosiasi Semen, akhir pekan lalu, mengumumkan total realisasi volume penjualan semen pada periode Januari-Oktober 2013 naik 6,4% menjadi Rp 47,6 juta ton. Angka pertumbuhan itu melambat dibanding periode yang sama tahun lalu yang naik 11,8%. Pasar domestik periode Januari-Oktober 2013 juga tumbuh 5,6% menjadi Rp 47,1 juta ton, melambat dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 14,5%.

Related posts