Indonesia Diharapkan Bisa Ekspor Langsung ke China - Perdagangan Sarang Burung Walet

NERACA

Jakarta – Beberapa waktu lalu Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementerian Pertanian melakukan pertemuan dengan CNCA Delegation atau Lembaga Karantina China. Upaya ini dilakukan sebagai salah satu wujud mendorong ekspor komoditi sarang burung walet Indonesia ke negeri Tirai Bambu.

“Langkah ini dapat dijadikan sebagai langkah awal yang baik dalam hubungan perkarantinaan antara Indonesia dengan China, dimana bisa mewujudkan ekspor sarang lawet langsung ke China tidak melalui pihak ketiga,” kata Kepala Badan Karantina Pertanian, Banun Harpini, seperti dikutip Neraca Sabtu (25/1).

Pada keterangan sebelumnya Banun menuturkan bahwa China menginginkan sertifikasi dan prosedur yang sesuai dengan keinginan mereka sebagai syarat sarang burung walet Indonesia bisa langsung diekspor dari Indonesia ke China. Akan tetapi saat permintaan itu dipenuhi oleh pihak Indonesia, China masih mempersoalkan legalitas prosedur yang dibuat Badan Karantina.

"China beralasan ada perubahan format sertifikasi yang dikeluarkan Balai Karantina sesuai pemasukan di China. Pihak China meminta itu dan kita sudah perbaiki apa yang mereka mau dengan format dua bahasa yaitu Inggris dan Mandarin," tuturnya.

Adapun sebelum ada kesepakatan langsung dengan negara China maka ekspor sarang burung walet ke China masih melalui pihak ketiga yaitu Hong Kong dan Malaysia. “Indonesia ekspor sarang burung walet melalui Hongkong dan Malaysia,” jelasnya.

Perwakilan dari CNCA Delegation, Mr. Li Chunguang, menyampaikan harapannya dengan adanya penandatanganan Mutual Recognition Agreement (MRA) yang telah dilakukan antara Indonesia dengan China terkait beberapa komoditi pertanian, dapat dijamin keamanannya dan telah memiliki Standard Operational Procedure.

Dalam pertemuan dengan CNCA Delegation dibahas terkait dengan tindakan karantina terhadap komoditi Sarang Walet seperti pemanasan, ketelusuran, nitrit, HACCP, perairan, kuota/kapasitas, dan waktu.

Terbesar di Dunia

Indonesia sebagai negara penghasil sarang burung walet terbesar di dunia, berkeinginan melakukan ekspor langsung sarang burung walet ke negara China. Hal ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada negara perantara seperti Malaysia danSingapore, dan juga dapat meningkatkan nilai ekspor Indonesia terhadap komoditas tersebut.

Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Peternak Pedagang Sarang Walet Indonesia (APPSWI), Dr. Boedi Mranata, berharap agar sarang burung walet Indonesia bisa diekspor langsung ke China, tanpa harus melalui negara ketiga. “Sepuluh tahun terakhir, Indonesia sulit mengekspor langsung sarang burung walet ke China. Padahal, perdagangan komoditas tersebut sudah berlangsung ratusan tahun,” kata Boedi.

Indonesia tidak bisa langsung mengekspor sarang burung walet karena issue flu burung (H5N1). Sementara Malaysia dan Singapura justru boleh langsung mengekspor komoditas itu ke China, sehingga Indonesia terpaksa harus menggunakan jasa mereka atau lewat Hong Kong untuk masuk ke pasar negara “tirai bambu” itu.Diperkirakan, jika Indonesia bisa mengiri, langsung ke China maka ekspor sarang burung ke China akan bertambah 50 – 100 %, dimana pada tahun 2009 mencapai US$ 226.000.000. Dengan demikian, devisa yang bisa dinikmati Indonesia dari komoditas ini bisa mencapai 400 juta dolar, yang berarti masuk 10 besar andalan ekspor non migas Indonesia,” jelasnya.

Dengan begitu keuntungan lain yang didapat Indonesia adalah tidak lagi tergantung kepada negara ke 3 untuk ekspor ke China. Di sisi lain, China juga diuntungkan karena harga komoditas ini menjadi lebih murah di pasar dalam negerinya karena tidak ada lagi biaya pihak ketiga, dan ini tentunya akan menambah permintaan pasar. “Indonesia tahun lalu memproduksi sekitar 70-80 persen dari total produksi sarang burung walet dunia. Sementara China menyerap lebih dari 60 persen total perdagangan komoditas sarang burung walet dunia,” terangnya.

Selain ekspor di China, Indonesia juga mengekspor sarang burung walet ke Hong Kong, Taiwan, Singapura, Malaysia, AS dan Kanada, yang berdasarkan data dari BPS, Indonesia tahun lalu mengekspor sarang burung walet ke Singapura 61.278.000 dolar AS. Import dari Singapore yang cukup besar ini, sebagian besar di re-ekspor kembali ke China.

Boedi mengatakan issue H5N1 sangat merugikan bisnis walet. Meskipun telah banyak dilakukan pemeriksaan H5N1 terhadap walet ternyata tidak pernah sekalipun terbukti walet Indonesia terjangkit H5N1. Ini ada hubungannya dengan cara hidup walet yang tidak pernah hinggap dan tidak pernah kontak dengan unggas atau burung-burung liar yang lain.

Menanggapi issu tersebut, China mensyaratkan bahwa komoditas tersebut harus dipanaskan minimal 70 derajad celcius selama 3,5 detik. Dengan demikian mengatasi virus H5N1 tidak susah. “Dengan penanganan standar tersebut, China seharusnya tidak perlu khawatir terhadap produk ekspor sarang walet dari Indoensia,” ujar Boedi.

Apalagi, pengelolaan rumah walet 20 tahun belakangan ini sudah bagus. Selain itu usaha ini ramah lingkungan, sebab tidak ada polusi yang berarti. Dan saat ini sudah mencapai puluhan ribu unit yang tersebar di seluruh Indonesia. Usaha ini juga dapat menyerap ratusan ribu tenaga kerja mulai dari pengadaan material bahan bangunan, pekerjaan pembangunan rumah-rumah walet, penjaga-penjaganya dan untuk processing sarang walet yang harus dikerjakan secara manual dan berdasarkan labor intensif.

Related posts