Kemendag: Januari, Harga Pangan Fluktuatif

NERACA

Jakarta – Kementerian Perdagangan mengakui bahwa pada Januari menjadi salah satu bulan yang menjadi penyumbang inflasi dalam satu tahun. Pasalnya pada bulan tersebut, harga beberapa produk pangan mengalami fluktuatif mengingat berbagai macam momentum yang terjadi pada Januari yaitu bencana tahunan seperti banjir dan bukan musim panen.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan dengan bukan menjadi bulan panen bagi produk pangan di Indonesia menyebabkan akan terjadi penekanan terhadap besaran angka inflasi pada Januari. "Januari secara historis relatif agak tinggi, memang karena musim, Januari itu bukan musim panen," kata Bayu di Jakarta, Senin (20/1).

Namun demikian, ia mengakui tidak mengetahui angka inflasi dipatok pada besaran berapa. Dirinya tidak ingin berspekulasi lebih jauh. Akan tetapi, dirinya memastikan bahwa kebutuhan akan produk pangan pada bulan bukan panen serta dipengaruhi oleh bencana alam seperti banjir akan menyebabkan inflasi pada Januari akan menjadi relatif lebih tinggi. "Jadi justru sebagian produk akan menekan inflasi, secara historis relatif lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya," tukasnya.

Berdasarkan data Kemendag per 15 Januari 2014, ada beberapa komoditas sembako yang mengalami kenaikan, diantaranya cabe merah besar sebesar 3,10% menjadi Rp32.211 per kg, harga cabe merah keriting sebesar 2,74% menjadi Rp33.646 per kg; minyak goreng curah sebesar 0,72% menjadi Rp11.157kg, gula pasir sebesar 0,03% menjadi Rp11.789 per kg, dan telur ayam ras sebesar 0,03% menjadi Rp20.237 kg.

Namun ada juga yang mengalami penurunan seperti harga bawang merah yang turun sebesar 1,42% menjadi Rp29.356 per kg. Selain itu, harga cabe rawit merah turun sebesar 0,93% menjadi Rp37.957 per kg, harga daging sapi sebesar 0,46% menjadi Rp97.605 per kg dan harga daging ayam broiler sebesar 0,19% menjadi Rp30.129 per kg. Sementara harga beras medium juga turun sebesar 0,17% menjadi Rp8.757 per kg, harga kedelai turun sebesar 0,02% menjadi Rp10.894 kg, dan bawang putih turun sebesar 0,03% menjadi Rp14.521 kg.

Pada 2013, pendorong inflasi Januari berasal dari kelompok bahan makanan. Kelompok ini berkontribusi menyumbang yang besar dalam mengontrol inflasi nasional yakni 80%. Kelompok bahan makanan yang lain berkontribusi inflasi cukup tinggi yaitu daging ayam ras 0,14%, ikan segar 0,12%, cabai merah 0,11%, telur ayam 0,07%, bawang merah 0,07%, beras 0,06% dan daging sapi 0,01%.

"Kenaikan harga-harga pada komoditas tersebut dikarenakan kondisi cuaca buruk yang berakibat banjir di sejumlah sentra produksi. Akibatnya jalur distribusi terganggu dan juga produksinya menurun," jelas Wamendag, tahun lalu.

Jadi, kata dia, kenaikan inflasi itu disebabkan kelompok bahan makanan segar. Itulah salah satu ciri produk segar yang akan terganggu dengan perubahan cuaca. Tetapi jika cepat terjadi perubahan cuaca yang kondusif produksi dan jalur distribusi akan lancar.

Sumbang 1%

Di tempat terpisah, Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Bambang PS Brodjonegoro memproyeksikan pada Januari 2014, akan menyumbang inflasi sebesar 1%. hal itu akibat banjir di Jakarta. “Pengaruh banjir terhadap laju inflasi pasti ada, tapi tidak separah kenaikan harga BBM. Kita perkirakan di bawah 1%," katanya. Bambang menjelaskan, inflasi di bulan Januari masih dapat dikendalikan asalkan pasokan pangan dijaga dengan baik. Menurutnya, ini karena para pengungsi korban banjir sudah tentu memerlukan pasokan pangan yang tidak sedikit.

Managing Director & Senior Economist Bank Standard Chartered Indonesia Fauzi Ichsan mengatakan dirinya memprediksi banjir akan berdampak pada kenaikan laju inflasi setidaknya di atas 1%. Ia memandang dampak banjir hanya sesaat. "Banjir kan hanya sesaat. Inflasi hanya sebulan saja, mungkin naik di atas 1%. Dampaknya tidak akan senegatif sebesar kenaikan harga BBM atau pelemahan rupiah," ujar Fauzi.

Sebelumnya, Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto menilai kenaikan harga pangan yang berimbas pada kenaikan inflasi tidak terlepas dari faktor cuaca. “Cuaca yang tidak menentu ini menyebabkan sisi supply bahan-bahan pangan seperti padi, cabai, bawang merah, buah, sayur mayur dan hasil pertanian lain mengalami kekacauan masa tanam dan masa panen,” katanya.

Masalah supply pangan, menurut Suryo, tidak muncul pada tahun ini, tetapi sejak lama sudah menjadi masalah struktural dalam penyediaan pangan di Indonesia. “Sayangnya, selama ini permasalahan pangan hanya diatasi dengan impor, intervensi pasar dan menyelenggarakan pasar murah. Dengan input pendanaan yang lebih terjangkau, maka masalah ketergantungan pada cuaca dan musim akan teratasi dan diperlukan mencari solusi mendasar agar proses produksi pertanian oleh petani kecil tidak terlalu tergantung pada cuaca dan musim,” paparnya.

Related posts