Barantan Gagalkan Penyelundupan Perdagangan Satwa Rp6 miliar

NERACA

Tangerang - Balai Besar Karantina Pertanian (Barantan) Soekarno Hatta bertempat di Instalasi Karantina Hewan Bandara Soetta berhasil menggagalkan penyelundupan 2.968 ekor Kura-kura Moncong Babi. Diperkirakan hewan ini akan diperdagangkan dengan harga sekitar 200 ribu rupiah per ekor dengan nilai keseluruhan hampir mencapai Rp 6 milliar.

Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian Banun Harpini, mengatakan, penggagalan penyelundupan perdagangan satwa ini terjadi pada tanggal 7 Januari 2014. Adanya informasi intelijen karantina mengenai usaha penyelundupan kura-kura moncong babi dari Jayapura. Satwa diangkut dengan pesawat Garuda kode penerbangan GA 655.

“Berdasarkan informasi yang diterima maka dibentuklah tim khusus dari karantina Soekarno-Hatta untuk melakukan penyelidikan di lokasi yang diduga menjadi tempat pemasukan satwa tersebut yaitu di area cargo dan area kedatangan terminal 2F,” katanya saat menyerahkan hewan satwa tersebut kepada petugas kehutanan di Bandara Soekarna Hatta di Tangerang, Kamis (16/1)

Satwa ini dimasukkan ke dalam 4 koper di dalam bagasi penumpang yang masing - masing koper berisi 40 kotak kecil dengan menggunakan pesawat Garuda GA 655 tujuan Jayapura - Jakarta, sejumlah 2.968 ekor komoditi tidak dilengkapi dengan dokumen karantina yang dipersyaratkan dan pemilik tidak dapat dihubungi sehingga dilakukan penahanan di Instalasi BBKP Soekarno Hatta.

Kura-kura Moncong Babi adalah satwa yang dilindungi dan masuk kedalam kelompok Appendix I CITES, satwa ini memiliki nilai yang tidak dapat diukur nilainya karena merupakan kekayaan fauna Indonesia yang tidak dimiliki bangsa lain dan habitatnya hanya ada di Papua.

Penjualan Marak

Penjualan Satwa langka akhir-akhir ini makin menggila, di berbagai kota besar di Sumatera, Kallmantan, Irian Jaya dan di kota-kota lainnya. Jakarta, ternyata paling banyak satwa langka yang diperjualbelikan atau dipelihara khususnya oleh para konglomerat dan para pejabat. Jual beli satwa langka yang dilindungi undang-undang, di sejumlah pasar satwa di Jakarta, kini semakin marak dijual bebas. Misalnya di pasar burung Pramuka, Jakarta Timur dan Barito di Kebayoran Baru Jakarta Selatan.

Menurut pengamatan Serasi di beberapa daerah dan di pasar-pasar hewan di DKI Jakarta, saat ini tidak sulit ditemui satwa langka seperti burung Cendrawasih kepala kuning, dan hitam, burung kakak tua, burung beo nias, burung nuri kepala hitam, anak kucing hutan, uwa-uwa, harimau dan anak rusa.

Kepala Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta, M. Purba mengakui maraknya jual beli satwa langka di sejumlah pasar satwa. “Penjual satwa langka ini modusnya lebih rapi dan canggih, ada semacam sindikat perdagangan satwa langka,” tegasnya lagi. Pihaknya mengalami kesulitan untuk melakukan razia dan memberantas kepemilikan satwa langka.

Sementara alat dan personil yang dimiliki oleh BKSDA DKI Jakarta sangat terbatas, keadaan ini ironis memang. Untuk itu M. Purba mengimbau seluruh masyarakat dan para penjual sadar atas perlindungan satwa langka. Salat satu wujud atas kesadaran hukum itu adalah dengan mendaftarkan diri satwa langka yang dimiliki kepada Bada Konservasi Sumber Daya Alam. “Saya imbau kepada pemilik satwa langka untuk segera mendaftarkan satwa-satwa langka mereka kepada BKSDA” tuturnya.

Sedangkan menurut Sekretaris Forum Harimau Kita, Iding Achmad Haidir, Perdagangan satwa liar saat ini semakin mengkhawatirkan saja. Pasalnya, tidak hanya melalui pasar gelap saja perdagangan satwa liar yang masih hidup atau mati dilakukan, tapi sudah merambah ke dunia internet. "Perdagangan satwa liar lewat internet melalui situs-situs jual beli sangat populer," katanya.

Modus jual beli organ-organ tubuh satwa langka di internet menurutnya biasanya berkedok petshop atau toko jual beli hewan peliharaan maupun toko barang antik. "Kita sudah kerjasama dengan Kaskus dan Berniaga minta agar memblokir posting jual beli satwa yang dilindungi," terangnya.

Related posts