Depresiasi Rupiah Beban IHSG Hingga Akhir Tahun

NERACA

Jakarta – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga tembus Rp 12.000, masih disikapi tenang oleh pemerintah. Bahkan Gubernur Bank Indonesia, Agus Marto meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak usah panik. Namun sebaliknya, kondisi ini direspon reaksi negatif pelaku pasar modal lantaran belum adanya intervensi pemerintah yang jelas dan berkelanjutan meredam gelojak nilai tukar rupiah. Alhasil, kondisi ini bakal membebankan kinerja Indeks BEI hingga akhir tahun.

Pengamat pasar modal Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, masih turunnya nilai tukar rupiah dan bahkan bertambah parah saat menembus level ketahanannya menimbulkan persepsi semakin dalamnya laju pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Apalagi dengan anjloknya harga-harga obligasi pemerintah. “IHSG gagal bertahan di kisaran target support (4282-4310) sehingga memberikan gambaran aksi jual masih terjadi dan dapat kembali menahan lajunya,” ujarnya kepada Neraca di Jakarta, Minggu (1/12).

Menurut dia, pelemahan nilai tukar rupiah tidak hanya ditengarai dari sentimen luar negeri, namun juga data-data makro ekonomi Indonesia yang saat ini belum positif untuk mendukung penguatannya. Target lelang obligasi pemerintah misalnya. Pemerintah menargetkan lelang dapat tercapai senilai US$450 juta, namun yang tercapai hanya US$190 juta. Akibatnya, rupiah bukan justru membaik, bahkan semakin tidak menarik.

Padahal, sambung dia, laju euro bergerak positif seiring rilis tercapainya kesepakatan koalisi terhadap peningkatan upah dan pengeluaran tanpa menambah pajak sehingga berpengaruh pada peningkatan permintaan untuk aset daerah. “Di sisi lain, terdapat penilaian pelaku pasar yang belum terlalu baik terhadap neraca perdagangan dan pembayaran Indonesia jelang akhir bulan ini.” jelasnya.

Menurut Reza, imbas melemahnya nilai tukar rupiah juga dinilai memberi sentimen negatif bagi perusahaan yang memiliki pinjaman luar negeri. Khususnya yang jatuh tempo dalam waktu dekat ini. Selain itu, kerugian kurs juga berpotensi menekan kinerja beberapa perusahaan. Oleh karena itu diperlukan berita-berita positif dari para stakeholders dan otoritas agar pasar bisa tetap kondusif. “Harapannya rilis data-data ekonomi di awal pekan dapat lebih baik untuk mengurangi tekanan jual.” imbuhnya.

Dia memperkirakan, aksi jual masih akan terjadi sehingga IHSG pun belum dapat keluar dari tren pelemahannya. Targetnya, IHSG akan berada pada rentang support 4195-4238 dan resisten di level 4289-4367. Hal senada juga disampaikan pengamat ekonomi sekaligus Rektor Univesitas Kwik Kian Gie, Prof Dr Anthony Budiawan, bahwa depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (US$) menghambat dan mendominasi sentimen negatif yang akan mempengaruhi pergerakan IHSG hingga penghujung tahun ini.

“Memang ada beberapa sektor-sektor saham yang akan mendapatkan keuntungan atas pelemahan rupiah, namun banyak sekali sektor-sektor saham yang mengalami sentimen negatif atas pelemahan rupiah ini,” ujarnya.

Dia menegaskan, indeks BEI akhir tahun dipastikan tidak terlalu kondusif karena sentimen yang beredar cenderung negatif, “Sentimen yang berpengaruh terhadap pergerakan bursa saham hingga akhir tahun ini masih akan didominasi seputar masalah pelemahan nilai tukar rupiah," kata dia.

Hingga akhir tahun 2013, lanjut dia, dperkirakan bahwa rupiah masih cukup sulit untuk keluar dari tren pelemahannya. Hal ini dikarenakan meningkatnya permintaan US$ dari korporasi di sisa akhir tahun ini. Selain sentimen pelemahan rupiah, sentimen lainnya yang akan menahan laju IHSG adalah defisit neraca perdagangan domestik."Defisit neraca perdagangan RI pada Oktober 2013 tercatat sebesar US$657,2 juta. Defisit tersebut didorong angka impor yang naik 0,77%. Sementara scara akumulasi, defisit neraca perdagangan Januari-Oktober 2013 tercatat mencapai US$6,25 miliar," jelas Anthony.

Meredam sentimen buruk terhadap indeks BEI, otoritas bursa menurut dia, harus melakukan moral situation kepada investor saham dengan melakukan pembelian saham perusahaan dalam saham rupiah. Dengan melakukan hal itu, maka nilai pelemahan rupiah tidak akan mempengaruhi IHSG secara menyeluruh, “Begitupula dengan otoritas pemerintah juga harus melakukan kebijakan ekonomi yang dapat menstabilkan perekonomian Indonesia, sehingga penguatan perekonomian akan mendorong penguatan rupiah," tambah Anthony. lia/mohar/bani

Related posts