Hanya Dijadikan Pasar, Indonesia Masuk Jebakan WTO

NERACA

Jakarta – Kalangan praktisi meyakini, Indonesia telah masuk pada jebakan Organisasi Perdagangan Dunia (Worl Trade Organization-WTO). Alasannya, Indonesia hanya dijadikan pasar oleh negara-negara maju. Bodohnya, pemerintah seperti tidak berdaya menolak proposal perdagangan bebas yang dikendalikan WTO. Karena lebih banyak ruginya, banyak kalangan menyerukan Indonesia keluar dari organisasi tersebut.

Direktur Eksekutif Indonesia for Global Justice (IGJ) M. Riza Damanik mengatakan, adanya kesediaan Indonesia menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan pertemuan negara-negara anggota WTO di Bali mengindikasikan bahwa Indonesia menyetuji perjanjian-perjanjian yang telah dibuat oleh WTO untuk disepakati. Dengan adanya kesepakatan itu jelas kedepan indonesia akan terjebak dalam arus perdagangan bebas yang memang sudah didesain oleh negara-negara maju.

“Memang sudah dipastikan sekali dengan menjadi tuan rumah saja sudah gamblang arah pemerintah Indonesia menyetuji perjanjian-perjanjian WTO, kondisi ini jelas dipastikan Indonesia akan larut dalam permainan perdagangan bebas,” katanya saat ditemui di Jakarta, Selasa (26/11).

Padahal perjanjian-perjanjian WTO yang telah dibuat sama sekali tidak ada manfaat bagi Indonesia, salah satunya adalah pembatasan pemberian subsisi pada sektor pangan nasional. Padahal sejauh ini pangkal permasalahan dari adanya keterpurukan ekonomi nasional karena sektor pangan nasional yang tidak kuat, pemerintah lebih memilih jalan pintas dengan mengimpor pangan ketimbang memberikan kebijakan untuk memberikan subsidi pada petani, peternak, maupun nelayan. “Bagaimana sektor pangan kita kuat, kalau tidak ada dukungan dari pemerintah,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi menganggap pertemuan Konferensi Tingkat Menteri (KTM) WTO di Nusa Dua, Bali mendatang tak ada manfaat buat Indonesia. Konferensi yang akan digelar 3-6 Desember 2013 di Nusa Dua, Bali akan dihadiri oleh para menteri negara anggota WTO. "Bagaimana kita melakukan capaian dari yang kita inginkan, apa kita bisa melihat WTO sebagai manfaat? Saya enggak," ungkap Sofjan Wanandi saat dihubungi Neraca, kemarin.

Menurut Sofjan tidak ada arah yang jelas untuk memperjuangkan kepentingan nasional. Sofjan pesimis sebaiknya pemerintah tidak berharap terlalu banyak dari pertemuan WTO. "Seharusnya tiap WTO harus kita lihat segi kepentingan nasional. Apa untung kita jadi tuan rumah. Kadang-kadang kita, saya melihat enggak tahu sebagai tuan rumah enggak tahu inginnya terus hasilnya seperti apa," tukasnya.

Secara terpisah, Wakil ketua DPR Komisi VI Erik Satrya mengatakan Indonesia harus berani menolak bahkan keluar dari WTO jika banyak proposal dari negara-negara maju yang tidak menguntungkan negara. Dia juga mengakui WTO menjadi alat negara maju unutk menjadikan Indonesia sebagai pasar produk mereka. “Negara berkembang dan tidak berkembang yang memiliki jumlah penduduk besar memang dijadikan pasar bagi produk mereka. Dengan kondisi seperti ini, seharusnya Indonesia berani keluar dari WTO jika tidak menguntungkan bagi produk dalam negeri sendiri,” jelasnya.

Dia menilai WTO merupakan program cacat lahir karena perdagangan bebas itu tidak ada. Menurut dia, seharusnya yang dilakukan adalah melindungi produk dalam negeri seperti AS dan Australia. Kedua negara ini, menuurt dia, berani memberikan subsidi untuk pangan dalam negerinnya, sementara Indonesia justru sebaliknya. “Indonesia terlalu baik, tarif impor kita rata-rata 7% yang jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara tetangga dan di Eropa,” ujarnya.

Dia mengungkapkan pihaknya dan Kemendag telah melakukan rapat kerja yang membahas hal ini. Dia menjelaskan bahwa Mendag memiliki beberapa konsep unutk melindungi produk dalam negeri dalam WTO di Bali nanti. Salah satunya adalah menolak proposal yang tidak menguntungkan Indonesia.

“Indonesia memang jangan hanya semata-mata sebagai tuan rumah dan memfasilitasi negara-negara maju di WTO. Ukuran keberhasilannya bukan terselenggaranya acara itu, melainkan proposal yang menguntungkan Indonesia gol,” jelasnya.

Related posts