“Indonesia Adalah Surga Perusahaan SPBU Asing”

NERACA

Jakarta - Sudah lama PT Pertamina (Persero) berniat untuk membangun stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di luar negeri. Namun keinginan itu belum bisa terelisasi karena ketatnya persyaratan yang diterapkan di negara tersebut. Sebutlah Malaysia, yang mewajibkan perusahaan asing yang membangun SPBU di Negeri Jiran tersebut untuk mendirikan kilang pengolahan bahan bakar minyak (BBM).

"Tak cuma kilang, tapi juga harus punya depot BBM. Pokoknya Indonesia itu surga deh buat mereka (perusahaan SPBU asing). Terlalu gampang bangun SPBU di sini," kata Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya di Jakarta, Senin (25/11).

Jika dibandingkan Malaysia, Australia tergolong lebih mudah. Namun menurut Hanung, pasarnya kurang menarik dan Pertamina harus membuat perusahaan baru yang khusus menangani SPBU di sana. "Kalau bikin perusahaan baru, kami harus menaruh orang di sana. Sebenarnya di Australia lebih terbuka, tapi kami tidak jadi bangun SPBU di sana karena tidak visible secara ekonomi," tuturnya.

Belajar dari pengalaman Pertamina, Hanung menyarankan agar pemerintah lebih memperketat persyaratan bagi perusahaan asing yang ingin memasuki bisnis retail BBM.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Umum Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Eri Purnomohadi. Menurutnya makin banyaknya stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) asing di Indonesia karena dinilai tidak memberi manfaat jangka panjang. “Tak ada manfaatnya SPBU asing banyak dibuka, ibarat hanya sebagai bumbu penyedab saja,” kata Eri.

Lebih lanjut Eri memaparkan, jumlah SPBU asing di Indonesia terus bertambah dan paling banyak adalah Shell, perusahaan Amerika Serikat yang di Jakarta saja sudah berdiri 50 unit. Kemudian SPBU dari Petronas, Malaysia juga sudah merambah hingga ke Kota Medan, Sumatera Utara.“Sekilas dilihat SPBU asing memang membuka lapangan pekerjaan baru. Namun SPBU yang dikelola Pertamina juga bisa membuat hal yang sama,” katanya.

Selain itu, SPBU asing juga menjual bahan bakar yang berasal dari Indonesia dan mereka tidak membangun depo sendiri.“BBM yang mereka jual adalah hasil perdagangan dengan kita dan depo yang digunakan hanya sewa,” katanya.

Dia sangat menyayangkan karena pemerintah belum tegas mengatur pembangunan SPBU asing di Tanah Air, padahal keberadaannya hanya menguntungkan pihak luar negeri. “Jadi persaingan tak seperti yang sesungguhnya, karena yang membuka SPBU asing itu justru juga putra-putra dari bangsa kita sendiri,” ujarnya.

Produksi Meningkat

Terkait produksi, meskipun secara total produksi minyak tidak sesuai dengan target yang tercantum dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), akan tetapi Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java merasa optimis produksi minyak mentah dan kondensat dalam melampaui target APBN-Perubahan 2013. Hal tersebut seperti diungkapkan Direktur Utama PHE ONWJ Kunto Wibisono di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Dalam APBN perubahan 2013, produksi minyak ONWJ ditargetkan 38.083 barel per hari. Sementara target produksi yang sesuai dengan program kerja dan anggaran 2013 sebesar 38.000 barel per hari. “Kami optimis rata-rata produksi selama 2013 bisa di antara 39.000-40.000 barel per hari atau melampaui target APBN,” katanya.

Peningkatan produksi tersebut menurut Kunto lantaran proyek pengangkatan anjungan L yang lebih cepat 5 hari dari rencana. PHE ONWJ mengangkat tiga anjungan L dan dua fasilitas lainnya secara bersama-sama setinggi 4 meter dalam dua tahap dengan biaya US$123 juta. “Di tambah lagi, tidak ada hal-hal di luar skenario yang direncanakan,” ujarnya.

Dalam APBN 2014, produksi minyak ONWJ ditingkatkan lebih besar lagi yaitu sebesar 39.400 barel per hari. Menurut Kunto, pihaknya juga optimis melampaui target tersebut. “Tahun depan, kami punya lapangan Z yang produksi,” ujarnya.

Ia mengatakan, realisasi belanja modal (capital expenditure/capex) memang hanya 90-95% dari rencana. “Namun, kami estimasikan capex bisa memenuhi target, karena ada proyek berjalan seperti pengeboran dan penggantian pipa bawah laut sampai Desember ini,” katanya.

Sementara, belanja operasi (operation expenditur) sudah mencapai 100% dari target. ONWJ yang wilayah produksinya membentang dari Kepulauan Seribu hingga laut utara Cirebon itu merupakan kontraktor dengan produksi minyak terbesar ke empat nasional dan menyumbang 20-25% ke PT Pertamina (Persero).

Produksi Tertinggi

Sebelumnya, Vice President Eksekutif Pertamina Hulu Energi ONWJ, Jonly Sinulingga mengatakan produksi minyak perusahaan rata-rata mengalami peningkatan tiap tahunnya, walaupun seluruh peralatan dan ladang yang dimiliki sudah tua, berusia 43 tahun. Berdasarkan data, anak usaha PT Pertamina (Persero) tersebut berhasil memproduksi minyak rata-rata 33,3 ribu bopd pada 2012.

Produksi minyak tersebut merupakan produksi tertinggi setelah Pertamina mengambil alih Offshore North West Java pada 2009. Saat itu, Offshore North West Java hanya mampu memproduksi 20 ribu bpod. “Bahkan kami beberapa kali memecah rekor produksi harian di atas 40 ribu bopd. Artinya, walau peralatan dan ladang telah memasuki usia senja, masih ada harapan untuk mengembangkan produksi dan ladang,” imbuhnya.

Selain memecahkan rekor produksi minyak, Pertamina Hulu Energy ONWJ mencatat prestasi berupa penyelesaian proyek tanpa insiden kehilangan jam kerja (no lost time injury), yaitu pengembangan lapangan baru APNE dan F yang meliputi pembangunan tiga anjungan lepas pantai. Proyek tersebut diklaim telah menambah produksi gas sebanyak 110 MMSCFD. “Penambahan produksi gas itu sekaligus mengimbangi penurunan produksi gas yang diakibatkan oleh natural decline," kata Jonly.

Walaupun perusahaan telah mendapatkan prestasi tersebut, mereka berjanji akan terus mengembangkan eksploitasi migas demi mendorong peningkatan produksi migas nasional. Salah satunya, katanya, dengan melakukan proyek turn around dan seismik yang bertujuan meningkatkan capaian produksi migas.

Related posts