Industri Minta Investigasi Impor Plastik Distop - Terkait Tuduhan Dumping Pada Produk PET

NERACA

Jakarta - Sejumlah industri makanan dan minuman menolak investigasi tuduhan dumping yang sedang dilakukan oleh Komisi Anti Dumping Indonesia (KADI) atas produk polyethylene terephthalate (PET) atau produk plastik kemasan.

Juru Bicara Lintas Asosiasi Makanan dan Minuman Franky Sibarani menilai proses investigasi petisi dumping atas impor PET harus dihentikan.\"Kita menolak jadi berdasarkan hukum, investigasi harus dihentikan,\" kata Franky di Jakarta, Rabu (25/9).

Dijelaskan Franky, sejak bulan Juni tahun 2012, sejumlah produsen PET dalam negeri yaitu PT Indorama Synthetic Tbk, PT Indorama Ventures Indonesia dan PT Polypet Karyapersada mengajukan petisi anti dumping kepada KADI. Dalam petisi itu, diduga 4 negara produsen PET yaitu Singapura, Taiwan, China dan Korea Selatan menerapkan harga yang jauh lebih untuk produk yang sama buatan dalam negeri.

Sementara itu Wakil Ketua Bidang Kebijakan Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia Rahmat Hidayat mengatakan petisi yang disampikan 3 perusahaan tersebut tidak benar. Menurutnya harga PET impor dengan PET lokal kompetitif.

\"Tuduhan anti dumping ini tidak benar, tidak terjadi gejolak price to price. Harga PET produksi di dalam negeri konsisten atau hampir sama dengan harga PET impor. Maka kasus ini tidak layak dilanjutkan,\" imbuhnya.

Permintaan PET di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Tahun 2012 kebutuhan PET mencapai 156.000 ton. Sedangkan tahun 2013 diperkirakan meningkat menjadi 177.000 ton. Sedangkan produksi PET di dalam negeri terbilang cukup banyak. Tahun 2012 produksi PET dalam negeri mencapai 417.000 ton sedangkan tahun 2013 meningkat hingga 467.000.

Namun sebagian besar produksi PET lokal diekspor keluar negeri. Tahun 2012 total ekspor PET lokal mencapai 250.000 ton dari 417.000 ton. Sedangkan untuk pengenaan bea masuk impor produk PET adalah 0%\"Kami memohon kepada pemerintah untuk tidak mengambil kebijakan pengenaan bea masuk impor karena memberatkan industri makanan dan minuman,\" cetusnya.

Harga Jual

Di tempat yang sama, Wakil Ketua Bidang Kebijakan Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia Rahmat Hidayat mengungkapkan pengenaan bea masuk anti dumping (BMAD) produk Polyethelen Terephalate (PET) atau plastik kemasan impor berdampak pada harga jual produk makanan dan minuman. Mereka berkepentingan agar produk PET impor tak kena anti dumping karena PET impor merupakan salah satu sumber plastik kemasan industri makanan.

\"Dampaknya beragam terutama untuk harga produk industri makanan dan minuman yang pasti mengalami kenaikan,\" ungkap Rahmat Hidayat.

Menurut Rahmat, jika Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) menetapkan BMAD rata-rata 10% maka akan kenaikan harga jual produk makanan dan minuman hingga 15%. Sampai saat ini, KADI masih melakukan penyelidikan atau investigasi terhadap produsen-produsen PET di 4 negara yaitu Korea Selatan, China, Singapura dan Taiwan.

\"Misalnya kalau BMAD dikenakan saja 10% akan berdampak pada harga jual produk 10%-15%,\" imbuhnya.

Jika terbukti ada praktik dumping, maka hal ini menjadi pukulan hebat bagi para pengusaha makanan dan minuman. Alasannya, pengusaha juga direpotkan dengan situasi ekonomi global, pelemahan rupiah dan kenaikan harga bahan bakar minyak.

\"Kinerja ekspor kita juga turun 12% karena ada beberapa negara yang pangsa pasar ekspor kita seperti Jepang dan Amerika Serikat belum pulih. Momen puasa dan lebaran kemarin juga belum menggembirakan. Kenaikan setiap tahun di dua momen itu biasanya 20-30%, tahun ini hanya 10%. Dengan situasi yang cukup berat, daya beli masyarakat masih sangat lemah. Apalagi ditambah dengan rupiah yang melemah, masih cukup memukul daya beli masyarakat di Indonesia terutama di luar Jawa,\" jelasnya.

Sebelumnya, Franky Sibarani juga mengungkap pelemahan rupiah berisiko membuat kinerja ekspor industri seperti makanan dan minuman cenderung stagnan.Bahkan menurutny sebelum adanya pelemahan ini kinerja ekspor makanan dan minuman, sudah mengalami penurunan.“Kalau tanpa melihat pelemahan ini, ekspor kami pada kuartal I/2013 sudah turun 11,81% secara year-on-year (y-o-y). Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ini akan semakin menghambat pertumbuhan kinerja ekspor kami,” kata Franky.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) nilai ekspor makanan olahan pada kuartal I/2013 mencapai US$159,565 juta. Adapun untuk ekspor minuman pada periode yang sama mencapai US$36,188 juta.

Related posts