Pemerintah Khawatir RI Bakal Jadi Importir Teh

Luas Lahan Berkurang

Jumat, 20/09/2013

NERACA

Jakarta – Kementerian Pertanian merasa khawatir dengan komoditas teh. Pasalnya luas lahan perkebunan teh telah banyak penurunan. Data asosiasi menyebutkan luas area tanam teh pada 2010 sebesar 124.400 hektar sementara di 2011 menyusut menjadi 123.500. hal itu juga berakibat kepada produksi teh yang juga mengalami penurunan pada 2010 memproduksi teh sebanyak 129.200 ton sementara di 2011 menurun menjadi 124.400 ton.

Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan mengaku khawatir dengan kondisi luas tanam area teh mengalami penyusutan. Akibat hal tersebut, Rusman memberi sinyal agar Indonesia jangan sampai menjadi negara pengimpor teh. “Jangan sampai Indonesia jadi negara importir teh dunia,” ungkapnya di Jakarta, Kamis (19/9).

Rusman menilai pelaku usaha perkebunan teh, terlihat jarang melakukan pameran teh yang dapat memacu hilirisasi teh ke industri. Kalau perkebunan kelapa sawit dan kakao sudah sering melakukan pameran. Selain itu, Rusman mengharapkan kejayaan teh Indonesia dapat direbut kembali. “Teh kayaknya hilang dari perhatian. Suatu ketika hari teh Indonesia ada eventnya bisa diselenggarakan seperti Kakao kemarin,” tutur Rusman.

Penurunan produksi teh, lanjut Rusman karena berkurangnya luas lahan. Otomatis produksi berkurang, imbasnya ekspor tergelincir. “Sedihnya luas lahannya bekurang, ekspornya berkurang malahan impornya bertambah,” kata Rusman.

Dihubungi terpisah, Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Lampung (Unila) Bustanul Arifin memperkirakan bahwa produksi teh nasional pada 2013 akan semakin menurun. Hal itu terjadi karena ada alih fungsi atau konversi lahan dari perkebunan teh menjadi pertanian hortikultura. “Produksi teh nasional pada 2012 mencapai 140 ribu ton. Angka ini akan semakin menurun karena terdapat 3.000 hektar tanah yang kini dibabat dan ditanami oleh tanaman hortikultura,” ungkap Bustanul.

Menurut dia, dari produksi teh sebesar 140 ribu ton pertahun, sekitar 70% dialokasikan untuk ekspor. Namun, ia menyayangkan bahwa dikala produksi cukup besar akan tetapi masih mengandalkan impor. “Saat ini kita masih impor teh dari Taiwan, China, Vietnam dan Turki,” ucapnya.

Ia menjelaskan kalau situasi ini tetap berlanjut maka akan dikhawatirkan Indonesia akan jadi negara nett importir. “Kita tidak menginginkan jadi negara nett importir teh. Kalau cuman ekspor sih tidak bermasalah karena namanya juga berdagang, tapi kalau sudah jadi nett importir itu sudah keterlaluan,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengungkapkan bahwa terdapat dua fenomena yang terjadi pada pasar Indonesia. Yakni, menurunnya produksi teh kenaikan importasi teh hingga 15-20%. “Produksi teh kita cenderung menurun bahkan beberapa kebun. Ini betul-betul menjadi perhatian kita. Kalau terus menurun, maka identitas teh kita yang bagus bisa hilang,” jelas Bayu.

Menurutnya, di berbagai wilayah penghasil teh termasuk PTPN (Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara), banyak kebun yang sudah mengalami konversi ke tumbuhan lain karena dinilai tidak lagi memiliki aspek ekonomis. Di sisi lain, Bayu menyebutkan, pada 3-4 tahun terakhir impor teh naik secara signifikan sekitar 15-20%.

Karena itu, Bayu mengajak semua pihak termasuk PT KPBN , rakyat maupun swasta untuk bersama meningkatkan kualitas serta kuantitas teh Indonesia. “Kita ingin mengajak manejemen PT KPBN , tak hanya sekadar melelang secara tertutup hanya BUMN saja, tapi mulai memikirkan lelang teh untuk rakyat,” ungkapnya. Soal bentuk dan teknisnya, imbuhnya, akan dibicarakan lebih lanjut. Bayu bilang, lelang dengan menyertakan rakyat sangat menguntungkan. Sebab, harga serta kulitasnya jauh lebih baik karena langsung dari rakyat.

Perkuat Promosi

Sementara itu, Asosiasi Teh Indonesia meminta pemerintah menggencarkan promosi teh di dalam negeri untuk mendongkrak tingkat konsumsi masyarakat. Sekretaris Asosiasi Teh Indonesia, Atik Darmadi, mengatakan, tingkat konsumsi teh di dalam negeri terus menurun dengan alasan kualitas yang kurang baik. "Jumlah penduduk Indonesia 230 juta jiwa lebih dan belum seluruhnya minum teh tiap hari. Padahal potensi dalam negeri sangat besar," kata Atik.

Menurut dia, Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) telah merekomendasikan kepada negara-negara produsen teh untuk terus meningkatkan konsumsi di dalam negeri. Sedangkan tingkat konsumsi Indonesia terus turun dari 330 gram per kapita per tahun, dalam kurun beberapa tahun, kini tinggal 180 gram per kapita per tahun.

Atik mengacu pada produsen teh terbesar dunia, Cina, yang terus menggenjot produksi dan tingkat konsumsi di dalam negerinya. Cina mampu menggenjot produksi hingga 1,6 juta ton dengan luas area tanaman teh 2,2 juta hektare. Dari jumlah produksi itu, hanya 330 ribu ton teh yang diekspor, sedangkan sisanya untuk konsumsi domestik.

Produksi yang turun ini ternyata justru meningkatkan volume impor. Atik mengungkapkan, saat ini merek-merek teh celup dari luar negeri banyak ditemukan di hotel dan restoran yang tidak berkelas tinggi. "Semakin jelas kondisi di pasar sudah banyak dikuasai merek yang tidak berasal dari Indonesia," katanya.