Dampak BI Rate Naik, Pasar Modal Lesu

HARGA SAHAM MAKIN TERTEKAN

Jumat, 13/09/2013

NERACA

Jakarta – Keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga (BI Rate) sebesar 25 bps menjadi 7,25% membuat reaksi pelaku pasar merasa tidak nyaman, dan pengaruhnya nanti akan tercermin pada pergerakan saham emiten-emiten yang bergerak di sejumlah sektor industri, khususnya industri pembiayaan.

Pengamat pasar modal dari Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, kenaikan BI Rate sebesar 25 bps itu akan berisiko menurunkan gairah pasar modal. “Teorinya, ketika BI Rate naik, suku bunga bank akan naik dan akan ada peralihan dana dari pasar modal ke perbankan,” ujarnya kepada Neraca, Kamis.

Namun, Reza melihat ada yang aneh pada pola yang terjadi sekarang. Perilaku pasar yang terjadi saat ini kontradiktif dengan teori yang ada. Pada penutupan Rabu (11/9), saham-saham di bursa masih mengalami kenaikan. Mayoritas saham-saham perbankan juga mengalami kenaikan harga.

Pada sebelumnya saat BI Rate naik 50 bps dari 6,5% ke 7% hal serupa juga terjadi. Saham bukannya turun tetapi malah naik.“Ada suatu hal lain yang memang diharapkan positif setelah BI Rate dinaikkan. Kemunginan, pelaku pasar saat ini concern-nya ke Rupiah. Mereka belum terlalu memikirkan penyaluran kredit akan melambat, atau perbankan lakukan adjustment suku bunga,” ujarnya.

Padahal, lanjut Reza, dari teori yang ada, seharusnya kenaikan BI Rate ini menyebabkan cost of fund perbankan akan meningkat, akibat beban menaikkan suku bunga kreditnya. Perusahaan-perusahaan debitur akan merasa bebannya semakin berat.

Bisa jadi laba perusahaan akan menurun. Secara teori juga, kata Reza, emiten perbankan juga mengalami beban yang lebih berat akibat kenaikan BI Rate ini. Di satu sisi uang yang masuk ke bank meningkat akibat ketertarikan nasabah akan bunga yang tinggi, tetapi di sisi lain bank akan sulit menyalurkan dana tersebut.“Akan ada penurunan permintaan. Fungsi penyaluran kredit menjadi kurang berjalan. Padahal kalau lihat fungsi bank itu menyalurkan kredit dari dana yang ditempatkan di bank tersebut,” ujarnya.

Kinerja Emiten

Hal senada juga disampaikan pengamat pasar modal dari FEUI Budi Frensidy, kenaikan BI Rate akan berpengaruh terhadap perkembangan indeks harga saham gabungan (IHSG). Terlebih dengan kondisi nilai tukar rupiah atas mata uang dolar yang saat ini melemah. Pasalnya, hal tersebut akan mempengaruhi kinerja emiten ke depan. “Dampak yang ditimbulkannya berganda, dengan nilai tukar yang melemah dan naiknya suku bunga yang dirasa telah berdampak negatif.” ujarnya.

Menurut dia, dengan kenaikan suku bunga bank, akan membebankan emiten dalam memperoleh modal kerja untuk meningkatkan kinerjanya. Di sisi lain, perusahaan yang mengeluarkan obligasi saat ini, juga harus membayar biaya yang lebih mahal.

Apabila kenaikan BI Rate benar dapat mengubah pesimisme menjadi optimisme, yaitu dengan menguatnya rupiah tentu akan mendorong pasar saham positif. Namun, yang juga menjadi pertanyaan apakah kebijakan ini dapat mengubah perspektif investor asing untuk masuk ke pasar. “Dalam kondisi normal dengan rupiah menguat tentu akan mendorong kenaikan IHSG.” ujarnya.

Budi memproyeksikan, dalam jangka pendek laju IHSG akan bergerak sideway dan masih berpotensi mengalami penurunan di level 4.200. Dia menilai, kebijakan buyback saham oleh emiten, sejauh ini secara umum memang positif.

Namun, bukan berarti membuat harga sahamnya akan menguat. Karena itu, dia menyarankan agar emiten harus hati-hati dalam melakukan buyback sehingga tidak menjadi bumerang bagi emiten. “Dalam buyback juga harus hati-hati. Utamanya, dana yang digunakan untuk buyback harus benar kas atau saldo usaha, jangan sampai pinjaman dan emiten tersebut harus benar untung.” jelasnya.

Menurut Kepala Riset Universal Broker Satrio Utomo, kenaikan BI Rate akan direspon negatif pelaku pasar pada perdagangan saham akhir pekan. Dirinya memperkirakan, pergerakan indeks akan berada di kisaran 4.310 – 4.400 dan arah pergerakan tersebut akan menunjukan posisi indeks hingga perdagangan pertengahan minggu depan,”Jika mengarah ke atas mengindikasikan menguat tetapi jika menurun kemungkinan indeks akan turun lagi”, ujarnya.

Dia menjelaskan, apakah pasar merespon secara positif atau tidak semua itu dapat dilihat dari historikal saat rupiah melemah kemarin yang membuat asing banyak melakukan penarikan dananya hingga triliunan dalam beberapa hari, “Yang perlu dijaga adalah kepanikan pelaku pasar agar tidak lagi terjadi hal yang sama. Jika rupiah menguat, ada kemungkinan saham-saham perbankan kembali diburu karena memang sektor ini masih menmdominasi pergerakan indeks,”tandasnya.

Menurut Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang, yang pasti dampak kenaikan BI Rate akan menekan saham sektor-sektor perbankan, pembiayaan, asuransi, properti, konstruksi-infrastruktur, konstruksi dan semen, “Sektor perbankan dan keuangan lainnya tentu akan terdampak karena perbankan harus menaikkan suku bunganya. Selain itu, penyaluran kredit dari perbankan juga perlu ditekan sehingga berpotensi mengurangi margin perbankan dan industri keuangan," ujarnya.

Sementara, untuk sektor konstruksi, properti dan semen tampaknya juga sedikit harus menahan diri dan ikut terdampak negatif dari kenaikan suku bunga acuan tersebut."Karena kan untuk konstruksi-infrastruktur dan properti biasanya mengandalkan dana dari perbankan. Kalau bank menaikkan suku bunganya berarti sektor ini harus memikirkan ulang sumber pendanaannya dari perbankan," ujarnya.

Sementara untuk sektor semen sendiri juga terpaksa harus memikul dampak yang sama lantaran sejumlah proyek pembangunan dari emiten-emiten konstruksi dan properti yang menjadi tulang punggung penjualan semen, berpotensi tertunda."Jadi sampai akhir tahun, sebaiknya investor secara bertahap mulai mengurangi porsi sahamnya di sektor-sektor tersebut," tutupnya. lia/nurul/iqbal/bani