Klaim Asuransi Terancam

Dolar Menguat Terhadap Rupiah

Jumat, 13/09/2013

NERACA

Jakarta – Lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS membuat klaim asuransi kian meningkat. Untuk itu perusahaan asuransi perlu hati-hati untuk menghadapi ini. Jika tidak maka potensi gagal bayar (default) dapat terjadi.

“Kita harus hati-hati menghadapi klaim di tengah lemahnya nilai tukar. Hingga pertengahan tahun ini saja sudah terasa peningkatannya. Karena banyak dari nasabah yang industrinya masih ditopang oleh impor untuk memenuhi bahan bakunya,” kata Kepala Keuangan Lippo Insurance, Johannes M Agus, dalam acara CSR Penyerahan Donasi Bagi Anak-Anak di Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI), Kamis (12/9).

Dia mengatakan, untuk saat ini, klaim di perusahaanya ada di level 72% sedangkan tahun sebelumnya ada di level 74%. Dia bilang paling berat klaim terjadi di tahun 2011 yang mencapai 80%. Jika melihat harga dollar yang terus meingkat ia khawatir tingkat klaim juga meningkat. Sebab mahalnya harga dollar akan berdampak pada bahan baku obat untuk industri kesehatan dan otomitif yang bahan bakunya masih mengandalkan impor.

“Maka kita patut khawatir jika harga dollar kian meningkat. Karena kami memprediksi di tahun 2014 klaim bisa naik hingga 30%. Artinya kita harus siap menghadapi klaim yang sulit seperti di tahun 2011,” tutur Johannes.

Untuk itu ia berinisiatif untuk mencegah persoalan gagal bayar pihaknya sering melakukan konsultasi dengan para nasabah dan broker. Dengan begitu semua pihak dapat mengerti kesulitan yang tengah terjadi. Baginya saling memahami antara penjual jasa asuransi dan nasabah sangat diperlukan untuk menjaga iklim yang baik.

Lalu hingga Juli 2013 ini Johannes mengaku pihaknya sudah membayar klaim hingga Rp 496M pada seluruh jenis produk asuransi. Paling besar disedot dari klaim kesehatan yang mencapai 65%. Sedangkan sisanya klaim dari asuransi properti dan asuransi industrio otomotif. “Tahun lalu masih lebih ringan. Klaim yang kita bayar hanya mencapai Rp 327 M,” tambahnya.

Kemudian Johannes memaparkan hingga Juli 2013 ini perusahaan yang dikelolanya mengalami peningkatan laba yang signifikan. Melalui premi asuransi kendaraan bermotor sudah mencapai Rp 50 M. Premi asuransi properti sudah mencapai Rp 68 M. Sedangkan dari premi asuransi kesehatan sudah mencapai Rp 45 M. “Saya tidak ingat laba tahun sebelumnya pada lini otomotif dan properti. Tapi kalau laba dari asuransi kesehatan tahun lalu hanya mencapai Rp 35 M.

Janji regulator

Kemarin ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan akan mendirikan lembaga baru untuk memnetukan rating perusahaan asuransi demi menjaga kesehatan persaiangan usaha. Untuk itu Johannes menyambut positif inisatif itu. Pasalnya praktik di lapangan sangat banyak perusahaan asuransi yang menetapkan premi baku untuk asuransi di bawah ketentuan yang berlaku.

“Dulu premi baku sudah diatur oleh Bapepam-LK maksimal 3%. Tapi tidak diindahkan oleh banyak perusahaan. Mereka justru membuat premi bakunya jauh di bawah itu. Maka jika OJK mau mengawasinya akan sangat lebih baik,” ungkap Johannes.

Sementara Johannes mengaku selama ini pihaknya menjaga ketentuan hukum yang berlaku. Sehingga premi baku asursansi perusahaanya masih dalam batas wajar. Ia member contoh melalui asuransi otomotif Lippo Insurance mematok premi baku maksimal 3%. Namun angka itu masih bisa turun jika tingkat ratio klaim nasabah terlihat baik dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. “Kita bisa menurunkan premi baku hingga di level 2,1% sampai 2,5%. Namun itu khusus para nasabah yang tingkat ratio klaimnya bagus dari tahun ke tahun,” tukasnya. [lulus]