Langkah Bijak Lindungi Keluarga Lewat Asuransi - Menjadi Jaring Pengaman

Ahmad Nabhani - NERACA

Jakarta – Dalam menjalani kehidupan ini, manusia selalu di liputi misteri dan ketidak pastian dan termasuk kematian. Namun sejatinya, risiko menghadapi kehidupan di masa-masa mendatang bisa diminimalisir jika diantisipasi dengan perencanaan keuangan yang matang dan termasuk memanfaatkan asuransi sebagai perlindungan kesehatan dan jiwa. Apalagi biaya kesehatan tiap tahunnya selalu mahal. Menurut hasil survei Global Medical Trends Report dari Towers Watson pada 2012 mengungkapkan, biaya kesehatan tiap tahunnya terus meningkat dari 10,70% ke 13,55% per tahun.

Tentunya akan terasa percuma hasil kerja sekian tahun, jika hasil income yang didapat tidak disisihkan untuk mempunyai proteksi diri dan sebaliknya habis hanya menutupi kerugian biaya pengobatan. Tidak bijak rasanya jika menggunakan uang tabungan untuk menutupi kerugian yang harus dialami oleh seseorang akibat resiko yang terjadi, karena pada umumnya tabungan akan disimpan dan dipergunakan untuk menjamin masa depan keluarga di masa depan.

Namun sayangnya, kesadaran untuk menggunakan asuransi sebagai proteksi biaya kesehatan dan jiwa masih rendah. Maka tidak heran jika masih ada orang yang mempertanyakan mengenai manfaat asuransi terutama asuransi jiwa bagi kehidupan dan masih banyak beranggapan bahwa menyisihkan uang untuk menabung akan jauh lebih berguna daripada membuangnya untuk membeli asuransi yang manfaatnya tidak jelas. Belum teredukasinya masyarakat Indonesia secara untuh akan pentingnya berasuransi, masih menjadi persoalan klasik mengapa penetrasi asuransi di Indonesia masih sangat rendah, yakni 1,1%.

Angka tersebut tertinggal dari negara-negara tetangga, yaitu Malaysia dengan penetrasi 3% dan Singapura 4,3%. Bahkan di Inggris penetrasi asuransi di Inggris sebesar 9,5%. Bahkan di Indonesia masih terjadi kesenjangan yang cukup lebar antara populasi masyarakatnya dengan jumlah peserta asuransi di Indonesia. Selain itu, data dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menyebutkan, penetrasi asuransi jiwa hanya 3% dari jumlah penduduk, namun untuk angka pemegang polis sendiri masih di level 1% dari jumlah penduduk. Kemudian penetrasi agen asuransi jiwa, yang kini mencapai 175.000, masih sangat minim dibandingkan jumlah populasi penduduk Indonesia yang mencapai 230 juta jiwa.

Kondisi inipun diakui langsung Presiden Direktur PT Sun Life Financial Indonesia Bert Paterson. Menurutnya, tingginya jumlah penduduk Indonesia yang membayar sendiri biaya kesehatan disebabkan masih minimnya edukasi tentang manfaat asuransi dan lebih mengutamakan keperluan lain dibandingkan kesehatan. Tercatat sebagian besar penduduk Indonesia membayar biaya kesehatan secara mandiri atau tidak melalui asuransi, dengan angka mencapai 70%.

Bert mengatakan, prioritas kehidupan manusia berpatokan pada tiga hal yaitu kesehatan, pendidikan, dan dana pensiun. Lebih jauh, Bert mengatakan, ada dua tren yang memengaruhi seluruh dunia. Pertama, angka harapan hidup semakin tinggi. Yang kedua, dunia pengobatan semakin canggih sehingga semakin banyak masyarakat bisa diselamatkan dari penyakit-penyakit yang mematikan. Akan tetapi, Bert berpandangan ketika umur manusia semakin lama dan pengobatan semakin canggih, maka biaya yang dibutuhkan manusia untuk merawat kesehatannya pun semakin besar. ”Dengan berkembangnya usia rata-rata hidup pasti problem kesehatan jadi utama dan problem kesehatan tak bisa lepas dari problem keuangan,” ujarnya.

Manfaat Berasuransi Oleh karena itu, asuransi kesehatan dan jiwa sangat penting dimiliki oleh mereka yang mempertimbangakan kebahagiaan keluarga karena asuransi jiwa, khususnya tidak hanya melindungi si pemegang polis, melainkan juga melindungi anggota keluarga. Perlindungan kesehatan yang ditawarkan oleh asuransi jiwa misalnya tentu akan sangat berguna untuk menghindarkan diri dari penggunaan uang tabungan untuk biaya pengobatan yang ke depannya akan semakin mahal. Perlindungan kecelakaan akan memberi pemegang polis biaya pertanggungan jika terjadi kecelakaan yang mungkin terjadi di berbagai tempat dan waktu. Banyak terjadi sebuah keluarga harus menerima kenyataan hidup pahit. Sang Ayah sebagai kepala keluarga sekaligus pencari nafkah jatuh sakit dan sampai meninggal dunia sehingga meninggalkan sang istri yang tidak bekerja dan dua anaknya yang masih kecil. Namun kehidupan tetaplah harus dijalani, tentunya sang istri akan sangatlah kesulitan biaya untuk membesarkan ke dua anak-anaknya.

Namun lain ceritanya, jika pemegang polis yang juga tulang punggung keluarga sudah dilundungi dengan asuransi, tidak akan meninggalkan beban terhadap keluarga yang ditinggalkan karena mendapatkan pertanggungan dari asuransi dan termasuk hasil dari investasinya. Maka menjawab kebutuhan pasar akan asuransi untuk keluarga, PT Sun Life meluncurkan banyak produk asuransi dan manfaatnya, diantaranya program asuransi jiwa Term Life yang memberikan keluarga keamanan saat ini dan di masa depan. Manfaat lain asuransi Term Life adalah memberikan 100% uang pertanggungan apabila tertanggung meninggal dunia dalam masa asuransi.

Selain itu, Sun Life juga meluncurkan layanan perlindungan Sun Medical Executive (Sun MED). Kata Elin Waty, Chief Distribution Officer PT Sun Life Financial Indonesia, produk ini diklaim perusahaan menawarkan beragam manfaat yang berbeda dengan produk lain. Manfaat pertama adalah usia pertanggungan mulai dari 15 hari sampai dengan 88 tahun. Menurut Elin, Sun Life merupakan satu-satunya asuransi yang mengcover usia pasien hingga 88 tahun.

Manfaat lain adalah Sun MED memungkinkan nasabah untuk menikmati sistem nontunai (cashless) yang sederhana. Dengan demikian, nasabah dapat memperoleh layanan yang cepat dari rumah sakit. Selain itu, benefit lain adalah biaya operasi atau perawatan setelah rawat inap akan dibayar berdasarkan tagihan yang disesuaikan dengan batas tahunan.

Sebagai informasi, dalam memperluas pasar produk asuransi Sun Life membentuk perusahaan asuransi jiwa patungan dengan PT CIMB Niaga dengan nama PT CIMB Sun Life. Dimana tahun 2012, membukukan total pendapatan premi sebesar Rp1,08 triliun per 31 Desember 2012 (belum diaudit/unaudited) atau meningkat 15% dibandingkan periode yang sama tahun 2011 yang sebesar Rp943 miliar. Sementara pendapatan premi bisnis baru perseroan mencapai Rp1,037 triliun (belum diaudit) atau meningkat 14% dibandingkan kuartal IV 2011 yang hanya Rp908 miliar.

Related posts