Kemendag Harap Neraca Perdagangan Seimbang

Sampai Akhir Tahun

Rabu, 04/09/2013

NERACA

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) telah melansir data sampai dengan Juli 2013, neraca perdagangan Indonesia masih defisit sebesar US$5,65 miliar. Namun, pemerintah masih terus berharap agar neraca perdagangan 2013 bisa balance. “Kalau harapannya neraca perdagangan tetap balance (seimbang antara ekspor dan impor),” ungkap Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (3/9).

Menurut dia, hal tersebut bisa terjadi asalkan beberapa perjanjian kerjasama dagang bisa berjalan dengan baik. Pemerintah sangat mendayagunakan beberapa kesepakatan internasional seperti Preferential Trade Agreement (PTA) dengan Pakistan yang bisa berkontribusi menekan defisit neraca perdagangan karena bernilai US$150-200 juta dan bisa meningkat menjadi US$1,5-2 miliar. Kemudian, kata Bayu, negosiasi udang dengan Amerika Serikat yang bisa meningkatkan ekspor mencapai US$200 juta dan juga sertifikasi legallogging yang berpotensi ekspor mencapai US$1miliar.

Selain kerjasama dengan beberapa negara untuk meningkatkan ekspor, lanjut Bayu, pemerintah juga berupaya untuk mengendalikan impor khususnya impor migas. Caranya dengan mencampur penggunaan bahan bakar nabati sebesar 10% terhadap solar sehingga berpotensi menghemat impor sebesar US$2,8-3 miliar.

Tak hanya itu, pemerintah juga akan terus melakukan promosi ekspor atau misi dagang. “Minggu depan, kita akan ke Brazil dan Peru untuk menambah potensi perdagangan. Misalnya saja dengan Brazil yang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014. Kita coba menfaatkan untuk menjadi official dengan mensuplai kebutuhan bola karena Indonesia cukup mempunyai pengalaman,” jelasnya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan memprediksi defisit neraca perdagangan pada tahun ini akan mencapai US$6 miliar. Hal ini, menurut Gita, dikarenakan pasca semester II, neraca perdagangan masih akan terus mengalami defisit. "Pada semester II akan ada penambahan defisit, dari defisit neraca perdagangan yang berada pada US$ 3,3 M akan meningkat secara total setahun menjadi US$ 5-6 miliar," ujar Gita.

Menurut Gita, pada semester I neraca perdagangan mengalami defisit US$3,3 miliar, yang terdiri dari defisit di sektor migas US$5,8 miliar dan surplus di sektor non migas US$2,5 miliar. Pada semester II diperkirakan non migas masih akan memberikan surplus sebesar US$3 miliar.

"Di semester pertama defisit kurang lebih US$3,3 miliar, yang terdiri dari defisit migas US$5,8 miliar dan surplus non migas US$2,5 miliar. Non migas masih aman, surplus semester kedua akan terulang lagi, kurang lebih US$2-3 miliar. Namun migas ini, di semester I saja sudah impor lebih dari US$13 miliar ," kata Gita.

Menurut Mendag, kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam membantu mengurangi defisit neraca perdagangan baru akan terasa setelah bulan Juli dan Agustus mendatang. Selain itu, langkah lain yang akan dilakukan Kementerian Perdagangan untuk mengurangi defisit ini adalah melakukan pemfokusan untuk meningkatkan ekspor Indonesia.

"Saya rasa efek kenaikan BBM akan terasa di bulan Juli, Agustus dan seterusnya. Kita sudah melakukan pemfokusan untuk meningkatkan nilai tambah rupiah dalam ekspor-ekspor yang kita lakukan tapi sangat memakan waktu lebih lama daripada apa yang kita inginkan. Yang terakhir fokus untuk meningkatkan eksportasi ke negara-negara Afrika, Amerika Latin dan Asia, seperti Pakistan, India, dan sekitarnya," pungkasnya.

Deindustrialisasi

Pengamat Ekonomi Anthony Budiawan menjelaskan bahwa dengan penurunan ekspor non migas yang sedemikian besarnya ini menandakan daya saing Industri Indonesia menurun. Pasalnya ekspor non migas mengalami penurunan dalam periode Juni-Juli 2012, ekspor non migas mencapai US$89 miliar sementara di periode yang sama di 2013 telah mengalami penurunan menjadi US$87 miliar.

“Apabila hal ini berlanjut terus maka akan terjadi deindustrialisasi, yang dapat mengakibatkan, antara lain, tingkat pengangguran naik, nilai tukar rupiah terdepresiasi, inflasi meningkat, serta kesejahteraan menurun,” ungkapnya.

Dengan demikian, Anthony meminta agar pemerintah harus bekerja keras untuk meningkatkan daya saing industri kita agar dapat bersaing di pasar internasional. Apabila tidak, Indonesia dapat dipastikan hanya akan menjadi pasar bagi produk negara-negara lainnya, terutama China, Korea Selatan dan Jepang.

Sekedar informasi, Neraca perdagangan pada bulan Juli 2013 masih tercatat defisit sebesar US$ 2,31 miliar. Sementara secara kumulatif, yaitu Januari-Juli, defisit tercatat sebesar US$ 5,65 miliar. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengatakan angka defisit bulan Juli adalah tertinggi sepanjang sejarah.