Indonesia Terus Kejar Pasar Non Tradisional

Tingkatkan Ekspor

Rabu, 28/08/2013

NERACA

Jakarta – Salah satu cara untuk meningkatkan ekspor dikala pasar tujuan utama sedang mengalami perlambatan pertumbuhan adalah dengan diversifikasi ekspor. Saat ini, Pemerintah tengah gencar mencari pasar-pasar baru atau pasar non tradisional seperti di Amerika Latin, Timur Tengah, dan Afrika. Sebelumnya, Indonesia telah bekerjasama dengan Pakistan dalam Preferential Trade Agreement (PTA). Dari kerjasama tersebut, diharapkan bisa meningkatkan ekspor khususnya Crude Palm Oil (CPO).

Kali ini, Pemerintah Indonesia akan menggaet negara Timur Tengah yaitu Oman dengan menggelar Bussines Forum untuk bisa membuka peluang ekspor ke negara tersebut. "Indonesia-Oman Business Forum diselenggarakan untuk membuka peluang ekspor di pasar nontradisional," jelas Direktur Pengembangan Produk Ekspor Kementerian Perdagangan Dody Edward di Jakarta, Selasa (27/8).

Menurut Dody, untuk memenangkan persaingan di pasar global, pemerintah terus berupaya melakukan strategi yang komprehensif agar dapat mempertahankan bahkan meningkatkan kinerja ekspor Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menerapkan penetrasi dan diversifikasi ke pasar-pasar nontradisional yang potensinya semakin berkembang dalam krisis global yang terjadi saat ini. Dia pun menjelaskan ada beberapa produk yang diminati Delegasi Oman yaitu bahan-bahan bangunan (kayu, gipsum, granit, tegel, dll), furnitur, garmen, kertas, alat tulis, alat elektronik, dan ban.

Pemerintah juga mempunyai cara lain dalam menggaet negara non tradisional untuk bekerjasama dengan Indonesia. Caranya dengan menggelar event tahunan yaitu Trade Expo Indonesia (TEI). "TEI merupakan ajang promosi tahunan yang bertujuan memperluas jaringan bisnis produk dan jasa yang diproduksi di Indonesia, serta untuk meningkatkan investasi asing di Indonesia," tukas Dody.

Pelemahan Ekspor

Di tempat terpisah, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan ekspor yang melemah di beberapa tahun terkahir lantaran pasar utama ekspor Indonesia yang dihuni oleh China, Jepang, Amerika Serikat, Uni Eropa dan Korea Selatan sedang dalam keadaan yang stagnan. “Di China saja, yang biasanya pertumbuhan ekonomi mencapai diatas 10%, namun tahun ini terkoreksi menjadi 7%. Hal inilah yang mempengaruhi demand,” katanya.

Maka dari itu, lanjut Gita, mengejar pasar non tradisional menjadi pilihan utama bagi Pemerintah untuk tetap mendorong ekspor agar tidak membuat neraca perdagangan semakin defisit. “Tidak hanya diversifikasi pasar namun juga diversifikasi produk. Saat ini kita fokus ke Afrika, Amerika Latin dan Timur Tengah, namun kita tetap memperhatikan ekspor ke negara tujuan utama ekspor,” tuturnya.

Sebelumnya, Dirjen Pengembangan Ekspor Kementerian Perdagangan Gusmardi Bustami mengatakan bahwa Pemerintah menargetkan ekspor ke pasar non tradisional tahun ini akan tumbuh 16% dari nilai tahun lalu yang mencapai US$24,6 miliar. Benua Afrika masih menjadi target utama untuk menggenjot pengapalan hingga mencapai US$28,5 miliar.

Gusmardi mengatakan Afrika Selatan, Tanzania, Kenya, Nigeria, Madagaskar, dan Mozambik jadi pasar yang cukup potensial. Bahkan, negara kecil seperti Mauritius yang memiliki keuangan cukup bagus bisa dijadikan jembatan untuk berekspansi ke Benua Hitam.

“Sekarang ini masalah yang dihadapi adalah sistem pembayaran. Menang agak sulit, tetapi bisa diupayakan melalui kerjasama antarperbankan Indonesia dengan negara di Afrika. Mekanisme asuransi dan kredit ekspor juga bisa dimanfaatkan pengusaha,” kata Gusmardi.

Dia menambahkan hambatan lain diantaranya masih minim atau bahkan nihil akan jaringan yang dimiliki pengusaha domestik untuk bisa ekspor ke Afrika. Hal ini tentu saja membutuhkan waktu untuk melakukan proses lobi dan tindak lanjut. Selain itu, pelaku usaha juga harus beradaptasi pada perbedaan sistem bisnis, budaya, dan tradisi. Masalah keterbatasan akses juga menjadi ganjalan meskipun sebenarnya bisa ditempuh melalui negara ketiga, misalnya Dubai atau negara-negara di kawasan Asia Tengah.

Pihaknya berjanji akan segera berkoordinasi dengan pihak terkait untuk membuka aksesibilitas langsung. Namun, hal tersebut bergantung pada potensi besarnya nilai perdagangan yang akan didapat. Akan tetapi, Gusmardi tidak bisa memberikan jaminan bahwa optimalisasi pasar non tradisional ini bisa mengkompensasi nilai ekspor di negara-negara tradisional yang mengalami penurunan. “Kami harap paling tidak bisa memberikan tambahan meski sedikit. Jadi, tahun ini bisa mencapai US$195 miliar dari US$191 miliar tahun lalu,” ucapnya.

Daya Saing dan Pembiayaan

Meski Pemerintah tengah gencar melakukan kerjasama ke pasar non tradisional, namun bukan berarti ekspor ke pasar non tradisional bisa berjalan mulus. Pengamat Ekonomi Eugenia Mardanugraha menilai Indonesia bisa dibilang tidak punya daya saing. Produk-produknya tidak bermutu dan tidak standar. Padahal, sebuah produk dikatakan bermutu jika sudah bisa masuk pasar Jepang. "Dengan kata lain, kalau sudah masuk pasar Jepang, barulah bisa bilang produk Indonesia punya daya saing," urai Eugenia.

Ketua Asoasiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi menjelaskan di tengah krisis global yang menggerus kinerja ekspor Indonesia, produk ekspor dari hasil olahan industri nasional semakin berat bersaing di pasar internasional. Diversifikasi pasar ekspor yang didengungkan pemerintah, dengan membuka pasar ekspor ke negara non tradisional tidak akan banyak berpengaruh lantaran China juga telah masuk ke sejumlah pasar nontradisional seperti Timur Tengah, Afrika dan Amerika Latin. “Ini menyebabkan kompetisi pasar makin berat,” katanya.

Ekspor produk industri, menurut dia, kini semakin melemah karena pelaku usaha dibebani dengan tingginya biaya produksi seperti kenaikan biaya bahan baku, biaya energi dan upah minimum pekerja. “Dengan biaya produksi yang tinggi, maka produk industri kita sulit bersaing dengan harga dunia dan pemain lain seperti China yang diberi insentif ekpor berupa pengurangan pajak oleh pemerintahnya,” jelas Sofjan.

Menurut Ketua Komite Afrika Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Mintardjo Halim, hubungan dagang Indonesia dengan negara-negara di Afrika masih bersifat tidak langsung. Hub perdagangan masih melalui Eropa karena mereka memiliki hubungan erat dengan importir asal Eropa. "Mereka sudah memiliki hubungan yang erat dengan eksportir dan importir asal Eropa, jadi otomatis pembiayaan dagangnya pun lewat Eropa," jelas Mintardjo.