ASEI Proteksi PPA FInance

Rabu, 28/08/2013

NERACA

Jakarta – Perusahaan asuransi ASEI dan perusahaan pembiayaan PT PPA Finance telah menjalin perjanjian kerjasama proteksi keuangan. Dengan begitu PT PPA Finance dapat lebih leluasa mendapatkan pembiayaan atau diskonto khususnya untuk tagihan domestik. Sebab dalam industri pembiayaan tidak menutup kemungkinan perusahaan akan mengalami resiko macet pembayaran. “Untuk menjaga kesehatan keuangan bagi lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan non bank diperlukan langkah ekonomi yang strategis. Salah satunnya dengan membuat skema proteksi keuangan pada perusahaan tersebut. Dengan begitu resiko macetnya pembayaran piutang kredit modal dari para debitur dapat terjamin. Sebab jika tidak dijamin sangat berpotensi melemahkan keuangan perusahaan tersebut,” kata Kepala Divisi Asuransi Kredit Eksport PT Asuransi Ekspor Indonesia (ASEI) Taufiek Dharviandi, di Jakarta, Selasa (27/8).

Lebih jauh Taufiek menjelaskan sebetulnya perjanjian kerjasama ini dilakukan dalam rangka memberikan pembiayaan terhadap nasabah-nasabah bank atau lembaga keuangan non-bank (LKNB) yang mengalami kolektibiltias sangat lemah. Jika sudah seperti itu maka bank atau LKNB tentunya tidak akan memberi kredit modal lagi. “Kemudian PT PPA Finance melihat hal itu sebagai peluang untuk melakukan pembiayaan agar nasabah tersebut kembali lancar untuk menbayar dan mendapat kredit baru. Tapi kan resikonya juga akan beralih ke PT PPA Finance. Agar PT PPA Finance juga aman terhadap resiko dari gagal bayarnya para nasabahnya maka ASEI akan mengcovernya. Jadi ASEI hanya bertugas untuk mencover para nasabah yang terlebih dahulu sudah dibiayai oleh PT PPA Finance,” jelas Taufiek.

Dengan mekanisme pengasuransian seperti ini Taufiek mengatakan pihaknya akan sangat untung. Pasalnya jika ada nasabah dari PT PPA Finance yang mengalami macet pembayaran maka nasabah tersebut akan menjual asetnya kepada PT PPA Finance. Namun karena biaya proteksi PT PPA Finance nantinya akan dibiayai oleh ASEI maka nanti pihaknya yang akan membeli aset tersebut. “Sementara ini kita menjalin kontrak hingga dua tahun ke depan dengan PT PPA Finance. Jika memang prospeknya bagus mudah-mudahan dapat berlanjut. Namun pada dasarnya setiap bank dan LKNB besar sebetulnya perlu juga membuat proteksi terhadap keuangannya. Agar resiko pembayaran macet dari para nasabahanya dapat terjaga,” tutur Taufiek.

Mengenai indikator nasabah yang tidak lancar Taufiek mengatakan pihak bank atau LKNB yang mengetahui detilnya. Sebab bank dan LKNB lah yang lebih mengetahui ukuran macetnya pembayaran dari pada nsabahnya. Namun, pastinya dalam fasilitas kredit yang diberikan bank dan LKNB terdapat angsuran yang harus dibayarakan. Jika nasabah tidak bisa mengangsur maka kolektibilitasnya menurun. Kurang lancarnya pembayaran akan dibuat sampai lima tingkatan. Pada tingkatan kelima artinya pembayaran utang dari nasabah tersebut macet total dan ada aset yang harus dijual.

“Sementara bank datau LKNB yang ikut proteksi ini menghitung revitalisasi dan pembenahan keuangannnya. Kita nanti justru membeli aset dari nasabah yang macet itu. Misalnya Matahari harus pada akhirnya menjual asetnya seharga Rp 1 miliar karena berhutang pada PT PPA Finance. Nah nanti aset itu kita yang mongcover,” papar Taufiek. Mengenai besaran modal yang ditanam untuk mengcover nasabah Taufik mengatakan pihaknya bisa memberi dana sampai US$7 juta per nasabah. Namun besaran investasi yang ditanam pada tahap awal ini baru secara keseluruhan baru sekitar US$100 miliar. “Ini juga kan kita baru punya satu nasabah yaitu PT PPA Finance. Sementara ini akan ada empat calon debitur lainnya yang akan kita garap. Tidak bisa saya sebutkan calonnya. Tapi di antara empat itu yang menuju prospek bagus ada Bank Mandiri,” ungkap Taufiek.[lulus]