Pertamina Berharap Segera Naikkan Harga Gas - Dampak Inflasi Rendah

NERACA

Jakarta - PT Pertamina (Persero) masih saja belum mendapatkan restu untuk menaikkan harga gas elpiji 12 kilogram. Jika selama ini yang dikhawatirkan adalah akan berdampak pada inflasi, Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan mengatakan bahwa dengan kenaikan gas elpiji maka hanya akan menyumbang inflasi 0,01%. \"Kenaikan harga elpiji hanya menyumbangkan inflasi 0,01% jadi tak signifikan,\" kata dia akhir pekan lalu.

Namun Karen menegaskan juga akan mempertimbangkan dampak kenaikan tersebut terhadap masyarakat. Sementara itu untuk kisaran harga yang akan dibanderol nantinya sudah dirumuskan dan diperhitungkan. \"Kita harus melihat bukan hanya dari persero. Persero memang harus naik. Tapi melihat dampak keseluruah terhadap pasar,\" ujarnya.

Hingga saat ini pemerintah sendiri belum memberikan sinyal persetujuan terkait hal tersebut, namun menurut Karen, Pertamina telah sudah mempersiapkan langkah-langkah startegis untuk mengantisipasi hal tersebut. \"Kita sudah ada kompensasi. Nanti berupa harus biaya produksi kurangkan karena agar tidak menganggu kapital yang Rp 5 triliun, istilah kapitaslsasi,\" jelasnya.

Saat ini, Pertamina menanggung kerugian akibat penjualan elpiji 12 kg yang sejalan dengan tinggi inflasi semasa lebaran ini. Dari kerugian ini, penjual elpiji tersebut tidak mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap laba Pertamina yang mencapai Rp 5 triliun di semester pertama 2013. Karen mengatakan bahwa hal ini sebagai salah satu efek domino yang ditimbulkan oleh kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu yang juga menyebabkan inflasi yang tidak terkontrol.

\"Dengan kenaikan harga BBM kemarin, tetapi ini bukan semata karena naik harga BBM-nya, tapi ada efek domino dimana semua harga pangan naik, itu kan inflasinya jadi tidak terkontrol. Kalau kenaikan harga LPG saja itu menyumbangkan inflasi 0,01%, ini jadi tidak signifikan,\" tandasnya.

Menteri ESDM Jero Wacik mengatakan, rencana kenaikan harga gas elpiji 12 kg yang dicanangkan Pertamina jangan melihat satu sisi saja. Pasalnya, pemerintah sudah terlebih dahulu memberlakukan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. \"Jangan dulu berpikir terlalu cepat naik, kita tahu masalahnya di Pertamina ada kerugian. Tapi, kita juga harus lihat kepentingan yang lebih besar, yaitu kepentingan rakyat. Kan baru saja rakyat kena kenaikan BBM,\" kata Jero.

Menurut Jero, keinginan Pertamina menaikkan harga gas elpiji 12 kg harus disesuaikan dengan timing yang baik dan tepat. Dengan demikian, daya beli masyarakat tidak akan terpukul. \"Baru saja rakyat habis kena BBM, nanti lah. Jadi jangan dulu, lihat timing yang baik. Rakyat kita juga mengerti kok, tapi lihat timing yang baik. Sudah BBM naik, masa elpiji juga naik,” katanya.

Meski demikian, dia enggan mengungkapkan kebijakan kenaikan elpiji tahun ini. Jero mengakui rencana kenaikan pasti menimbulkan efek psikologis bagi masyarakat. \"Jangan bilang tahun ini, pasti ada efek psikologis. Nanti, jangan dulu,\" tandasnya.

BERITA TERKAIT

Ketua DPR: Polri dan Interpol Segera Ungkap Iklan PRT

Ketua DPR: Polri dan Interpol Segera Ungkap Iklan PRT NERACA Jakarta - Ketua DPR RI Bambang Soesatyo meminta Polri bermitra…

Pefindo Naikkan Peringkat Antam Jadi A- - Lunasi Obligasi Jatuh Tempo

NERACA Jakarta - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menaikan peringkat PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan Obligasi I (2011) menjadi…

Pertemuan IMF-World Bank Beri Dampak 0,64% ke Ekonomi Bali

    NERACA   Jakarta - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan Pertemuan Tahunan IMF-WB dapat memberikan dampak…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

RI-Ceko Incar Peningkatan Investasi dan Ekspor di Sektor Industri

NERACA Jakarta – Indonesia dan Ceko tengah menjajaki peluang kerja sama ekonomi khususnya di sektor industri. Potensi kolaborasi kedua negara…

CIPS: Lindungi Petani, Waktu Impor Beras Harus Tepat

NERACA Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan, pemerintah perlu mempertimbangkan waktu impor beras…

Indonesia-Sri Lanka Lanjutkan Kesepakatan Ekspor Pakaian

NERACA Jakarta – Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe di Hanoi, Vietnam, Rabu, membahas tindak…