Pendapatan Mal di Jakarta Naik 15%

Selama Libur Hari Raya Idul Fitri

Jumat, 16/08/2013

NERACA

Jakarta - Momentum hari raya Idul Fitri menjadi masa pengusaha mal mendulang pendapatan paling tinggi sepanjang tahun. Terbukti, dari laporan asosiasi, lonjakan pemasukan selama masa liburan Lebaran kemarin mencapai 15 % dibanding tahun lalu.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Handaka Santosa mengatakan angka 15% baru dari perkiraan pengelola mal di DKI Jakarta saja. Namun, dia menilai, situasi tidak akan terlalu berbeda di daerah lain. "Sekitar 15 % peningkatan sales dibanding hari raya Idul Fitri tahun lalu, di atas omzet bulan normal, " ujarnya di Jakarta, Kamis (15/8).

Menurut penuturan Handaka, lonjakan itu wajar. Sebab, banyak keluarga penduduk asli Jakarta yang ditinggal pembantu rumah tangganya. Alhasil, mereka menyerbu mal untuk mencari kebutuhan sehari-hari. "Mudik di Jakarta kemarin menyebabkan mau tidak mau orang ke pusat belanja, ada yang makan, bahkan saya lihat mereka sengaja ke hipermarket mencari galon, " tuturnya.

Hanya saja, jika dibandingkan 2012 yang tumbuh 20 %, perolehan mal di DKI selama libur Lebaran tahun ini turun. Akan tetapi, Handaka menyebutnya wajar, sebab perekonomian nasional memang tengah melambat. "Walaupun dibanding 2012 pertumbuhan pendapatan mal selama Lebaran tahun ini di bawah, tapi itu menggembirakan karena dengan kondisi seperti sekarang masih tumbuh, " paparnya.

Dari data APPBI, Idul Fitri selalu menjadi momen lonjakan penjualan selama setahun. Disusul libur Natal dan tahun baru, lantas libur anak sekolah. Namun, asosiasi mal belum bisa menyajikan data riil berapa omzet total seluruh pusat belanja selama Lebaran 2013. "Datanya kan kalau peritel masih dihitung dulu belum masuk ke kita, sekarang sebagian dari mereka masih libur, " kata Handaka.

Untuk pendapatan mal di wilayah DKI, dia melihat ada kemungkinan nilainya lebih besar dari perolehan Jakarta Great Sale. Sebagai gambaran, pada 2011 program belanja itu meraup pemasukan Rp 10,8 triliun. Setahun berikutnya, menjadi Rp 11,7 triliun.

Akan tetapi perkembangan pertumbuhan mal di Indonesia dinilai masih tertinggal dengan Singapura. Negeri Jiran itu berhasil meraup omzet mal, yang didominasi dari turis yang datang ke Singapura termasuk paling banyak dari orang-orang Indonesia.

Sekedar informasi, Festival Jakarta Great Sale (FJGS) 2013 berhasil melampaui target transaksi Rp11,8 triliun. Capaian ini meningkat 10% dari target tahun sebelumnya yaitu Rp10,7 triliun pada event tahun 2012. “Tahun ini target transaksi Rp 11,8 triliun dapat kami lampaui, meningkat sekitar 10% dari target tahun kemarin Rp10,7 trilliun,” Ketua Penyelenggara FJGS 2013 sekaligus Ketua APPBI DPD DKI Jakarta, Handaka Santosa.

Menurut dia, kesuksesan tahun ini tidak lepas berkat kerjasaman dan partisipasi 74 pusat belanja, seluruh asosiasi, para sponsor, media partner dan instansi pendukung lainnya. Yang ikut serta membantu dan mendukung terselenggaranya JFGS tahun ini.

“Kesuksesan ini tidak lepas dari peran serta 74 mall yang ikut serta dalam JFGS, seluruh asosiasi, sposnsor, media partner, dan instansi pendukung. Atas dukungan merekalah target transaksi Rp 11,8 triliun bisa terlampaui," ujar Handaka.

Pendapatan Mal

Mantan Ketua APPBI Stefanus Ridwan mengatakan selama ini pendapatan mal-mal di Indonesia lebih banyak dari pasar domestik. Sementara di Singapura lebih dari separuh omzet mal justru disumbang dari orang-orang asing. "Kalau di Indonesia kalau ada yang mal baru, yang berjejer di Indonesia nggak ada beda dengan di Singapura. Mal di Singapura 60% total sales shopping center sebagian besar turis, sebagian besar orang Indonesia, kalau di Indonesia 1% saja dari turis nggak ada, " katanya.

Menurutnya angka tersebut sangat cocok dengan kenyataan di lapangan. Saat ini, lanjut Ridwan, kalangan kelas menengah atas Indonesia lebih memilih belanja ke luar seperti Singapura dan Hong Kong. Sementara mal-mal domestik lebih banyak dikunjungi kalangan kelas menengah terutama saat libur panjang. "Mal-mal luar negeri seperti di Singapura, ramai kebanjiran dari orang Indonesia, katanya jauh lebih murah, karena tax refund-nya jalan, kalau di Indonesia ada pajak barang mewah, jadi orang jalan-jalan di luar negeri sambil belanja, " katanya.

Dia berharap pemerintah konsen terhadap masalah ini, dengan harapan daya beli masyarakat kelas menengah ke atas Indonesia tidak terbuang dibelanjakan ke luar negeri. Meskipun ia mengakui bila pun belanja di dalam negeri, umumnya barang-barang impor, namun itu lebih baik karena perputaran uangnya masih di pasar domestik. "Jalan keluarnya pemerintah harus mempromosikan Indonesia nanti akan ada Jakarata Great Sale, paling tidak seperti di Singapura, pemerintah ikut promosikan, dibantuin pemerintah. Tujuannya bagaiman orang Indonesia mengurangi belanja ke luar negeri, " katanya.