Bea Impor Susu Dinilai Terlalu Rendah

Peternak Sapi Perah Mengeluh

Selasa, 13/08/2013

NERACA

Jakarta - Asisten Deputi Urusan Penelitian Koperasi Kementerian Koperasi dan UKM Syamsuddin di Jakarta, Senin, mengungkapkan, kalangan peternak sapi di beberapa wilayah di Provinsi Jawa Timur sebagai salah satu sentra terbesar mengeluhkan rendahnya bea masuk susu impor.

Informasi itu, kata Syamsudin, dia dapatkan dari para peternak sapi perah di Jawa Timur yang tergabung pada beberapa koperasi dan kelompok tani sapi. Menurut dia, para peternak itu mengeluhkan bea masuk susu impor yang dinilai masih terlampau rendah. Itu sebabnya, menurut dia, untuk melindungi peternak sapi perah, maka diharapkan ada kenaikan bea masuk susu impor baik dalam bentuk bahan baku.

Dalam catatan, bea masuk susu impor berkisar 5%. Karena itu, para peternak menilai masih terjadinya liberalisasi perdagangan susu. “Produksi susu sapi perah hanya mampu memenuhi kebutuhan konsumen dalam negeri sekitar 25%," katanya.

Terkait hal ini, jauh sebelumnya, Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Pengolah Susu (AIPS) Syahlan Siregar mengatakan, selama ini enam perusahaan anggota AIPS konsisten menyerap susu produksi lokal meski harganya lebih tinggi dari susu impor. Produsen susu olahan dalam negeri membeli susu produksi lokal pada kisaran harga Rp3.800—4.100 per liter, sementara harga susu impor sudah mencapai Rp3.700 per liter.

Syahlan juga mengatakan bahwa meski harga susu impor lebih murah ketimbang susu lokal, para anggota AIPS memiliki ‘ikatan batin’ dengan para peternak sapi binaan untuk menyerap susu mereka. Untuk membina peternak, kata dia, butuh dana sekitar Rp20 miliar per tahun.

Menurut Syahlan, kebutuhan susu untuk industri dan perusahan besar mencapai sekitar 1.600 1.700 ton per hari sehingga susu dari peternak lokal terserap semuanya. “Namun yang menjadi kendala sampai saat ini adalah peternak susu lokal tidak mampu memenuhi permintaan industri dan perusahaan susu besar,” kata dia.

Sementara Ketua Dewan Persusuan Nasional (DPN) Teguh Boediyana, sebelumnya, juga mengatakan, peraturan bea masuk (BM) bahan baku susu olahan, sangat memengaruhi daya saing industri pengolahan susu. “Agar industri susu dalam negeri bisa bersaing, pemerintah perlu memberikan insentif bagi industri dalam negeri yang bisa menyerap bahan baku lokal. Selama ini, industri susu telah masuk sebagai salah satu industri prioritas nasional,” tuturnya.

Kebijakan Industri

Di samping itu, Teguh Budiana meminta pemerintah menyususn kebijakan industri susu nasional. Alasannya, peternak sapi kini mengahadapi tantangan yang sangat berat terkait dengan pasar bebas yang niscaya membuat mereka keberatan kala bersaing dengan produk impor karena minim perlindungan.

"Zaman Orde Baru ada Inpres No 2/1985. Kemudian harga pun dipantau terus oleh pemerintah. Tahun 97 kemudian dilepas. Peternak dihadang oleh pasar bebas jadi nggak ada yang melindungi. Kemudian harga mulai merangkak turun ditahun 2007. Kemudian harga terus turun. Kita menuntut harga susu dinaikkan," terang Teguh.

Lebih jauh lagi Teguh mengungkapkan, saat ini harga susu yang dihasilkan oleh peternak lokal masih dianggap rendah. Para produsen industri susu masih membeli dengan harga yang tak menguntungkan peternak, sementara harga pakan terus naik.

Teguh menuturkan saat ini harga susu peternak lokal hanya dihargai Rp 4.000/liter. Padahal harga itu jauh di bawah rata-rata, sementara harga pakan ternak naik yang harus ditanggung peternak. Ia meminta kenaikan harga susu di kalangan peternak lokal naik hingga 11,3%.

"Kita menuntut harga susu dinaikan 11,3%, yaitu menjadi Rp 4300/liter untuk IPS (Industri Pengolahan Susu) dari total solid. Kita saat ini hanya Rp 4000/liter. Harga harus distandarisasi oleh masing-masing pabrik agar mempunyai harga yang sama. Menteri memberikan komitmen untuk mediasi ini," tuturnya.

Teguh juga mengungkapkan saat ini banyak peternak sapi perah berpikiran pragmatis. Mereka rela untuk menjual dan memotong sapinya karena tergiur harga daging sapi yang tinggi di tingkat konsumen mencapai Rp 95.000/Kg. "Harga daging sapi naik berdampak pada sapi perah peternak yang dijual untuk dipotong," cetus Teguh.

Menurut data yang diterima Teguh, di Jawa Barat saja setidaknya ada 46.000 sapi perah yang dijual untuk dipotong oleh para peternak lokal. Selain itu harga susu yang rendah dikalangan peternak menambah beban masalah yang dihadapi peternak sapi saat ini.

"Peternak saat ini berpikiran pragmatis. Menurut data yang saya dapatkan di Jabar saja ada 46 ribu sapi perah yang dipotong. Ini implikasi harga daging yang mahal dan harga susu yang rendah," imbuhnya.