Imbas Krisis Ekonomi, Jumlah Pemudik Turun 19,74% ?

Senin, 12/08/2013

Jakarta – Di tengah hiruk pikuk suasana lebaran Idul Fitri 1434 H, sejumlah buruh dan pedagang kecil terlihat santai berada di kawasan Pasar Pagi Mangga Dua, Jakarta Barat. “Kami tidak pulang kampung, karena THR tak cukup buat ongkos transportasi bus yang naik dua kali ke Jawa Tengah,” ujar Tugiman, buruh kasar di kawasan Pasar Pagi.

Rekannya, Suminto, pedagang asongan, mengemukakan hal yang sama. Tingginya beban biaya transportasi membuat dia harus tetap berada di Jakarta untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. “Saya cuma titip sebagian THR buat keluarga di Jawa,” ujarnya.

Baik Tugiman maupun Suminto mengakui beban hidup tahun ini agak terasa lebih berat dibandingkan dengan kondisi beberapa tahun sebelumnya. “Biasanya setiap tahun saya mudik, tapi kali ini saya harus tetap di Jakarta, karena takut kehabisan uang kalau pulang kampung,” ujar Suminto kepada Neraca, Minggu (11/8).

Jika pernyataan kedua orang buruh kecil itu benar, hal ini mengindikasikan kondisi daya beli mereka mulai terpengaruh akibat krisis ekonomi yang mulai menerpa Indonesia. Apabila merujuk data yang dirilis Kemenhub yang mencatat adanya penurunan jumlah pemudik 2013, maka kondisi riil dampak krisis mulai terasa oleh sebagian masyarakat yang berpenghasilan pas-pasan, akibat melejitnya angka inflasi di atas target pemerintah saat ini.

Menurut data Kementerian Perhubungan, dari H-7 lebaran hingga Sabtu (10/8) pukul 08.00 WIB, jumlah pemudik yang menggunakan moda transportasi darat, baik mobil maupun kereta api berjumlah 4.290.807 orang. Jumlah itu lebih sedikit dibandingkan 2012 lalu yang mencapai 6.340.817 orang.

Sedangkan, jumlah pemudik 2013 yang menggunakan moda kereta api mencapai 1.239.328 orang. Jumlah ini lebih sedikit ketimbang 012 yang mencapai 1.591.435 orang.

Perbedaan terjadi pada pemudik yang menggunakan moda transportasi laut dan udara yang pada tahun 2013 ini cenderung meningkat. Pengguna moda transportasi laut pada 2013 meningkat menjadi 1.032.001 orang dari tahun sebelumnya 808.550 orang.

Sedangkan, pengguna moda transportasi udara tercatat meningkat 4,87% dari 1.840.228 orang pada 2012 menjadi 1.929.826 orang pada tahun 2013. Pemudik menggunakan pesawat terbang umumnya kategori masyarakat menengah ke atas.

Tetapi, secara keseluruhan jumlah pemudik 2013 menurun 19,74% dibandingkan 2012, yaitu dari 10.581.030 orang (2012) menjadi 8.491.962 orang pada tahun ini.

Jika data Kemenhub tersebut akurat, pengurus harian YLKI Tulus Abadi mengakui dampak inflasi dan kenaikan harga BBM memang membuat sebagian masyarakat berpikir ulang untuk mengeluarkan biaya mudik. Naiknya harga-harga pangan juga ongkos transportasi merupakan faktor utama yang membuat masyarakat mengurungkan niat untuk mudik.

Ini dapat diambil kesimpulan bahwa kenaikan harga BBM dan inflasi terbukti memukul daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah. Hal ini terbukti dengan turunnya volume pemudik yang menggunakan moda transportasi darat. Karena menurutnya masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah umumnya menggunakan moda transportasi darat untuk mudik lebaran.

“Kalau volume moda transportasi udara meningkat saya lihat wajar-wajar saja. Karena inflasi dan kenaikan harga BBM jelas tidak mempengaruhi ketahanan ekonomi dan daya beli masyarakat kelas atas. Mereka yang biasa mudik menggunakan pesawat kan umumnya masyarakat kelas atas,” ujarnya, kemarin.

Walau demikian, Tulus masih belum puas terhadap data pemudik yang dirilis Kemenhub tersebut. “Jujur saya tidak percaya pada data tersebut. Karena saya yakin tradisi mudik begitu mendarah daging bagi masyarakat kita. Meski ada inflasi dan kenaikan BBM saya pikir masyarakat akan tetap mengupayakan bisa mudik,” ujarnya.

Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio mengatakan, adanya penurunan angka pemudik tahun ini kemungkinan terpengaruh dampak kenaikan harga BBM terhadap harga tiket transportasi darat dan biaya perjalanan mudik lainnya. Alhasil, banyak pemudik bertahan merayakan lebaran tahun ini di ibukota.

“Cost untuk pulang kampung (mudik) saat ini mahal, maka dari itu banyak yang bertahan merayakan lebaran di ibukota,” katanya.

Korban Tewas 471 Orang

Angka kecelakaan di musim mudik Lebaran 2013 masih memprihatinkan. Meski ada penurunan jika dibandingkan dengan tahun lalu pada periode yang sama, jumlah kasus dan korban tewas relatif masih tinggi.

Data Korps Lalu Lintas Polri menyebutkan dalam kurun waktu delapan hari sejak Jumat (2/8) hingga Sabtu (H+2) tercatat 2.095 kasus kecelakaan dengan korban tewas mencapai 471 orang. Untuk korban luka berat tercatat ada 747 orang dan luka ringan mencapai 2.688 orang. Sementara kerugian materiil diperkirakan mencapai lebih dari Rp 5 miliar.

"Khusus untuk (H+2) terjadi 263 kasus kecelakaan, mengakibatkan 87 orang meninggal dunia, 131 luka berat, 388 luka ringan dan kerugian materiil hingga Rp 817.500," ujar Kabag Penum Mabes Polri Kombes Pol Agus Rianto kepada pers di Jakarta, Minggu (11/8).

Jumlah kendaraan yang terlibat kecelakaan masih didominasi motor sebanyak 319 unit motor, disusul mobil 83 unit, 19 unit bus, 17 unit mobil barang, 3 kendaraan khusus dan 8 kendaraan tidak bermotor.

"Tetap yang mendominasi kecelakaan itu karena mengantuk. Jadi diimbau saat arus balik nanti masyarakat jangan memaksakan jika mengantuk dan kondisi fisik sudah lemah karena bisa memicu kecelakaan," ujarnya. lulus/agus