Investor Jaga Posisi, Marak Aksi Jual Saham

IHSG BERGERAK VARIATIF JELANG LEBARAN

Jumat, 02/08/2013

NERACA

Jakarta – Menyambut libur panjang lebaran, pergerakan indeks saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal bergerak menguat terbatas seiring libur transaksi, dan maraknya pelaku pasar melakukan ambil untung. Karena itu, investor disarankan dalam posisi trading. Sementara itu, posisi "beli-simpan" selama libur Lebaran sebaiknya hanya pada detik-detik terakhir.

Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, jelang libur lebaran, secara historis apabila tidak ada sentimen negatif yang mempengaruhi laju indeks harga saham gabungan (IHSG) masih dimungkinkan akan bergerak positif. Namun, dengan adanya sentimen yang muncul dari dalam negeri, seperti inflasi dan kenaikan suku bunga membuat negatif pelaku pasar.

“Keinginan investor yaitu mengamankan posisi sebelum libur karena bagaimanapun mereka akan mendapatkan gain-nya setelah liburan dan nyatanya banyak yang keluar untuk mengantisipasi hal negatif lainnya yang akan muncul,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Kamis (1/8).

Menurut dia, apabila kondisi saham global mendukung dan permasalahan inflasi berkurang, IHSG diperkirakan masih akan bergerak secara variatif pasca libur lebaran. Karena sejauh ini ada ekspektasi negatif daya beli masyarakat berkurang apabila tingkat inflasi mengalami peningkatan. Ditambah dengan adanya kekhawatiran Bank Indonesia akan menaikkan kembali suku bunga BI Rate.

Pasalnya, akan berdampak cukup signifikan apabila BI kembali menaikkan BI Rate yang selanjutnya akan mendorong kenaikan suku bunga. “Apabila suku bunga kredit naik maka penyaluran kredit akan turun dan sangat mempengaruhi kinerja emiten perbankan, properti, dan industri dasar.” ucapnya.

Menurut dia, sektor yang masih akan menarik pasca libur lebaran antara lain sektor perdagangan, khususnya ritel dan media. Beberapa saham yang dapat diperhatikan antara lain PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN), PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY), PT Global Mediacom Tbk (BMTR), dan juga saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA).

Untuk saham ritel, Reza menyarankan pelaku pasar perlu kembali mencermati kinerja emiten karena sebagian besar nyatanya hanya tumbuh tipis pada kuartal kedua 2013. Begitu juga untuk saham PT Astra Internasional Tbk (ASII). “Astra bisa dilihat dari sisi volume transaksi. Biasanya penurunan kinerja mendorong harga sahamnya ikut melemah dan saat harga sahamnya anjlok biasanya akan diakumulasi asing dan saat itu kita juga bisa masuk.” jelasnya.

Raih Untung

Sementara kepala riset PT Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo menambahkan, semakin mendekati liburan Lebaran para pemodal marak melakukan aksi jual dan hal ini telah dilakukan pemodal asing yang melakukan posisi jual dalam jumlah yang cukup signifikan, “Bisa jadi tekanan jual tersebut adalah tekanan jual dari risk aversion yang kurang begitu yakin akan arah dari bursa regional pasca libur Lebaran nanti,”ungkapnya.

Bagi analis pasar modal FEUI Budi Frensidy, indeks BEI akhir pekan ini masih tetap bergerak di posisi 4.500 – 4.700 dengan kecenderungan turun. Hal ini disebabkan sentimen positif tak kunjung menghampiri IHSG, “Pasar masih dikisaran 4.500-4.700 karena sentimen positif memang tidak ada dan banyak sentimen negatif terutama pelaku pasar sendiri yang tidak yakin dan memperkirakan di bawah 4.500,”tandasnya,

Dia juga memprediksi, IHSG masih sulit mendekati level 4.800 dan kemungkinan terbesar justru akan bergerak turun. Kondisi serupa juga akan terjadi setelah lebaran, Alasannya, pasar hanya akan menunggu sentimen positif.

Menurut dia, jika sentimen positif dan neraca perdagangan tak ada juga mendukung, hingga Oktober situasi pasar akan tetap seperti sekarang. “Hingga Oktober karena menunggu ada harapan fundamental atau menunggu asing masuk lagi ke pasar kita. Karena yang saat ini terjadi asing mengalihkan dananya ke pasar modal negara lain yang kondisinya lebih baik dan menguntungkan”, ujar dia.

Selain itu, menurut dia rilis yang dikeluarkan mengenai prediksi inflasi terbaru yaitu sekitar 3,29% dan jauh dari koreksi sebelunya 2,3% akan membuat kondisi pasar semakin negatif.

Dia mengatakan bahwa inflasi tinggi tentu bukan berita yang menggembirakan bagi pasar modal khususnya obligasi.“Obligasi akan terkena dampak terbanyak karena akan turun akibat yield yang diminta investor naik”, ujar dia.

Sehingga dia juga menyatakan akibat kondisi ini sektor-sektor saham perbankan, pembiayaan, properti, dan alat berat akan mengalami penurunan yang lumayan banyak. Namun sektor konsumsi, infrastruktur, dan komoditas tidak akan terpengaruh oleh kondisi ini. Terutama komoditas karena sektor ini tidak mengikuti pergerakan inflasi melainkan harga komoditi yang ada di pasar. Sebaliknya, Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Isaka Yoga menegaskan, investor global tidak akan berpengaruh terhadap libur lebaran. lia/nurul/slyke/bani