Pasar Modal Bearish, Jangan Paksa IPO

Jakarta –Selama semester pertama tahun ini terungkap aksi korporasi penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) yang dilakukan beberapa emiten ternyata tidak sesuai target, seperti IPO PT Cipaganti Citra Graha Tbk (CPGT) yang menurunkan size IPO dari 40% hanya 10%. Hal yang sama juga dilakukan Saratoga dan bahkan ada yang menunda IPO seperti PT Bank Muamalat Tbk.

NERACA

Menurut pengamat pasar modal Satrio Hutomo, saat ini pasar saham sedang dalam kondisi yang jelek (bearish) sehingga banyak pasar IPO jeblok tidak sesuai target seperti dialami Cipaganti, “Pasar saham memang sedang jelek, tetapi Cipaganti juga terlihat tidak fokus dalam bisnisnya. Tidak fokus di transportasi saja, tapi macam-macam,” ujarnya kepada Neraca, Rabu (10/7).

Dia menjelaskan, derasnya dana investor asing dari pasar modal menjadi pemicu terus terkoreksinya indeks BEI dalam dua pekan terakhir. Pada penutupan perdagangan saham Rabu kemarin, indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat di level 4.478. Masih terus berfluktuatifnya indeks BEI menjadi cerminan pasar modal dalam negeri lagi bearish. Terlebih kondisi ekonomi makro juga negatif dengan terus direvisi pertumbuhan ekonomi menjadi 5,8% dari proyeksi sebelumnya yaitu 6,2%-6,6%. Selain itu, Bank Indonesia (BI) mengungkapkan, hingga Juni 2013 dana asing yang keluar dari pasar modal sebanyak US$ 2 miliar dan pasar domestik US$ 4 miliar.

Menurut dia, menjaga IPO itu memang susah saat ini. Karena itu, untuk bisa IPO bagus, harus benar-benar menarik. Tetapi sekarang masalahnya, pasar saham sedang dalam kondisi jelek. “Mungkin dalam rangka untuk kurangi potensi koreksi, jadi Cipaganti kurangi jadi 10%,”ungkapnya.

Sementara, untuk kasus Muamalat yang menunda IPO-nya, Satrio menyayangkan hal tersebut. “Sayang sekali Muamalat menunda. Kondisi pasarnya memang jelek, peminatnya kurang iya. Tapi namanya Reksadana, masa sih Reksadana Syariah tidak mau beli?” kata dia.

Dia pun mengakui, peminat pasar saham kini sedang menurun dan banyak yang beralih ke obligasi dan SUN yang dianggap lebih rendah risikonya. “Orang memang mencari pendapatan tetap, yang less risk,”ujarnya.

Hal senada juga disampaikan analis pasar modal Lucky Bayu Purnomo, kondisi pasar yang tidak menentu saat ini mempengaruhi kinerja saham-saham yang tercatat di pasar modal, termasuk pelaksanaan pencatatan saham umum perdana perusahaan, “Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun saat ini masih mengalami koreksi sehingga beberapa perusahaan yang listing di pasar modal tidak cukup maksimal untuk mencapai targetnya,”tegasnya

Dia mencontohkan, keberadaan tiga emiten baru yang listing di pasar modal saat ini pun, belum mampu menguatkan IHSG untuk bangkit. Sementara itu, Direktur Utama AAA Sekuritas, Andri Rukminto mengatakan, pelaksanaan IPO di tengah kondisi pasar saat ini berpengaruh terhadap jumlah penawaran saham dan harga saham yang ditawarkan. “Permintaan saat ini memang belum terlalu bagus sehingga bisa menurunkan size dan harga saham.” ucapnya.

Selain menyiasati jumlah dan harga saham yang dilepas, sambung dia, dalam melaksanakan IPO, perusahaan juga dapat menerbitkan waran saat IPO untuk menarik investor. “Kondisi penawaran juga menjadi pertimbangan. Kami juga baru berani melanjutkan rencana IPO ketika penawaran investor sudah 85% dari jumlah total saham yang dilepas. Jika sudah sampai segitu, maka prosesnya berlanjut,” jelasnya.

BEI Lepas Tangan

Merespon pasar IPO jeblok, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Samsul Hidayat menyatakan, pihaknya tidak bertanggungjawab apabila harga saham suatu perusahaan yang melakukan listing mengalami penurunan. Pasalnya, suatu perusahaan yang akan melakukan IPO merupakan pilihan emiten bersama-sama dengan underwritter. \"Tidak ada tanggung jawab apapun yang harus ditanggung oleh BEI dalam hal harga saham suatu perusahaan yang listing turun,\" katanya dalam pesan singkat yang diterima Neraca, kemarin.

Menurut dia, BEI hanya menerima jadwal yang sudah ditentukan sehingga pihaknya tidak bertanggung jawab apapun. Bahkan, Samsul berujar BEI tetap tidak akan bertanggung jawab meski pada saat pasar sedang bullish ataupun bearish. \"Ini berlaku baik pada saat pasar sedang bullish maupun bearish,\" tambahnya.

Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan Hoesen, mengatakan, untuk menjaga harga saham IPO kan sudah ada aturannya, tetapi itu tergantung dari perjanjian antara penjamin emisi dan emitennya. Penjagaan terhadap harga saham IPO juga tergantung dari kemampuan perusahaan penjamin emisinya.

Jika perusahaan penjamin emisi itu memiliki dana yang cukup diperkirakan harga sahamnya akan stabil. Perusahaan penjamin emisi ada yang kemampuannya terbatas, kalau dananya sudah habis maka pergerakannya tergantung pasar.

Menurut Hoesen, sejauh ini perusahaan yang mencatatkan sahamnya di BEI merupakan perusahaan yang memiliki kinerja positif sehingga sahamnya diminati investor, baik domestik maupun asing. Tidak hanya itu, minat IPO masih cukup tinggi di dalam negeri.

Analis dari Panin Sekuritas Fajar Indra, ibarat event organizer, BEI hanya dapat mengimbau agar perusahaan-perusahaan tetap dapat melaksanakan IPO dan mempromosikan kinerja pasar modal masih positif. “Tidak banyak yang bisa dilakukan, BEI hanya wait and see.” ucapnya.

Fluktuasi pasar saham, menurut dia, bergantung pada pelaku pasar atau pemodal yang melakukan transaksi jual dan beli. Karena itu, pergerakannya tidak dapat diprediksi. Namun, untuk saat ini kondisi makro ekonomi dan regional bursa juga tidak cukup mendukung laju IHSG untuk mengalami penguatan (rebound).

Yang jelas, kata dia, kondisi pasar saat ini memang sangat tidak mendukung untuk melaksanakan IPO. Alhasil, beberapa perusahaan yang memaksakan IPO harus menurunkan size-nya dan cukup rela dengan perolehan dana yang jauh di bawah target. “Marketnya masih downtrend dan risikonya jelas. Kalau dipaksakan dana yang didapatkan hanya sedikit. Jadi, pasti ada opportunity loss.” katanya.

Meski demikian, sambung dia, hal tersebut menjadi pilihan perusahaan yang bersangkutan dan kebutuhan pendanaan. Namun, untuk memicu likuiditas pasar dan mendapatkan tambahan dana, emiten dapat melakukan aksi korporasi seperti menerbitkan rights issue. Selain itu saat pelaku pasar sudah lebih cerdas dan dapat memperhitungkan kinerja saham dan mengapresiasi saham-saham perdana yang baru dicatatkan. “Sebetulnya prospeknya tidak bisa dilihat dengan kacamata sekarang karena kondisi bearish hanya akan sesat.” ucapnya. lia/iqbal/bari

Related posts