Pedagang Minta Pemerintah Segera Intervensi Pasar - Redam Gejolak Harga Daging

NERACA

Jakarta – Para pedagang yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) berharap dilibatkan dalam kegiatan operasi pasar daging sapi oleh Badan Urusan Logistik (Bulog). Sementara Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) memperkirakan harga daging sapi dapat mencapai Rp120.000 per kilogram (kg) jika pemerintah tidak segera melakukan intervensi pasar.

Ketua APDI Asnawi menjelaskan, operasi pasar itu dapat diartikan pemerintah harus masuk ke pasar rakyat, pasar \'becek\'. Maka kalau mau operasi pasar, lanjut Asnawi, APDI harus dilibatkan karena hal tersebut merupakan masalah sensitif. “Jangan sampai pedagang kecil dirugikan,\" ujar Asnawi, Rabu.

Secara terpisah, Sekretaris Jenderal APPSI Ngadiran, mengatakan, jika harga daging dibiarkan terus tanpa intervensi, maka harga daging sapi bisa Rp115.000 hingga Rp120.000 per kg. Ngadiran mengatakan kenaikan harga daging sapi yang terjadi saat ini sudah tembus Rp105.000 per kg disebabkan dua hal, yaitu momentum bulan Ramadhan dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Sementara Asnawi mengingatkan bahwa Bulog telah ditunjuk pemerintah untuk merealisasikan impor daging sapi sebanyak 3.000 ton sebagai jalan intervensi memenuhi pasokan dan membuat harga stabil. Lebih jauh dia mengharapkan realisasi impor daging bisa dilakukan secepatnya sebelum H-7 lebaran.

Ngadiran melanjutkan, pemerintah bisa melakukan intervensi pasar untuk membuat harga daging kembali stabil. Caranya adalah dengan melakukan impor daging dan melakukan operasi pasar. Akan tetapi, dia meminta pemerintah tetap memperhatikan pedagang kecil dalam menggelontorkan daging impor di pasar. Intervensi pemerintah, lanjutnya, tentu melalui impor, untuk memenuhi pasokan. “Tapi impor juga harus dikendalikan, jangan sampai pedagang menjerit,\" kata dia.

Asnawi meyakini harga daging tidak akan lebih dari Rp100.000 per kilogram jika pemerintah melalui Bulog bisa cepat melakukan intervensi. Tapi, sambungnya, jangan lupa operasi pasar harus bijak dengan melibatkan asosiasi seperti APDI. “Bulog boleh saja melibatkan distributor besar, tapi asosiasi seperti APDI jangan dilupakan, karena kami ini pedagang,\" ujar Asnawi.

Siklus Kenaikan

Menurut Ngadiran, siklus yang lazimnya terjadi adalah harga daging seharusnya cenderung masih stabil di awal bulan Ramadhan. Namun kenaikan biasanya baru terjadi dua pekan menjelang lebaran. Dia menjelaskan, lazimnya memang harga bahan pangan itu naik seminggu pertama puasa, lalu hari ke-10 hingga dua pekan puasa harga stabil, lalu naik lagi jelang lebaran.

Di pihak lain, Asnawi mengingatkan apabila pemerintah hanya melibatkan distributor besar saat melakukan operasi pasar, maka distributor bisa dengan mudah mengambil stok di Bulog, dan menjualnya di pasar. Sementara pedagang eceran kecil akan kesulitan karena harus bersaing dengan harga daging impor milik Bulog. Menurut Asnawi sejauh ini belum ada tawaran dari Bulog kepada APDI atas keterlibatan dalam operasi pasar.

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa berharap Bulog menggunakan pesawat untuk mengangkut daging beku impor. Upaya ini, menurut dia, untuk stabilisasi harga daging di pasar dalam negeri. Dijelaskan Hatta, ada sekitar 200 ton daging impor akan masuk melalui Bandara Soekarno-Hatta, sisanya lewat laut, kemudian akan ada tambahan dari 109.000 ekor dari feedloter (penggemukan sapi potong), sehingga diharapkan harga bisa cepat stabil.

Terkait importasi oleh Bulog, di tempat lain, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengatakan, walaupun izin impor 3.000 ton daging telah turun namun izin untuk pengiriman daging melalui pesawat udara. Itu sebabnya, Bulog perlu memegang izin khusus untuk mendatangkan daging beku dari luar negeri ke Indonesia melalui pesawat udara. Izin itu harus dikeluarkan dari Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian.

Kuota Impor

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Bachrul Chairi mengatakan, pihaknya masih mendiskusikan kuota impor daging bagi Bulog untuk keperluan operasi pasar. Volume tersebut, menurut Bachrul, dialokasikan untuk menyambut hari-hari besar, seperti bulan Puasa dan Lebaran, di mana biasanya terjadi peningkatan konsumsi daging.

Bulog, lanjut dia, saat ini sudah dapat mengimpor karkas atau bagian-bagian potongan daging dengan harga yang lebih murah. “Nanti karkas dipotong-potong oleh penjagal, dan daging disebarkan ke pasar ritel dan becek. Sehingga nilai tambahnya ada di Indonesia,” paparnya.

Bachrul Chairi menjelaskan bahwa pemerintah mempercepat alur impor daging dalam menghadapi Ramadhan dan Lebaran Idul Fitri. Ia menyatakan bahwa gagasan tersebut akan disampaikan kepada Menko Perekonomian Hatta Rajasa dalam rapat koordinasi rutin antar kementerian.

Tahun ini, kuota impor daging ditetapkan sebesar 80.000 ton, meliputi 32.000 ton daging beku, sisanya sapi bakalan setara daging. Seharusnya, setiap triwulan daging impor yang masuk ke tanah air hanya berkisar 20.000 ton. Bachrul berkilah, dimajukannya jadwal impor ini bukan karena pemerintah ingin menambah kuota impor, melainkan untuk menjaga gejolak harga.

Related posts