Pemerintah Akan Impor Cabai dan Bawang Merah 26.000 Ton - Periode Juli-Desember 2013

NERACA

Jakarta - Pemerintah masih mengandalkan pasokan impor untuk meredam gejolak harga, terutama untuk komoditas pangan. Pada periode Juli- Desember, pemerintah tengah mempersiapkan untuk melakukan impor sebanyak 26.000 ton di dua komoditas yaitu cabai dan bawang merah. Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menuturkan bahwa langkah tersebut diambil untuk meredam gejolak harga.

Bayu mengatakan bahwa impor kedua komoditas tersebut selain untuk meredam gejolak harga, namun juga untuk menutupi kebutuhan dalam negeri sebelum masa panen. \"Semester II, Juli-Desember cabai 9.715 ton, bawang merah 16.781 ton. Ini akan kita atur dengan memastikan pada satu musim panen pemasukan itu akan dihentikan,\" kata Bayu di Jakarta, Rabu (10/7).

Menteri Koodinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menilai bahwa pasokan cabai dan bawang merah dari dalam negeri kurang maksimal karena belum memasuki masa panen raya. \"Misalkan bawang merah, terjadi mundurnya musim panen pada bulan Agustus, maka respons-nya ya membuka kran untuk menutup itu sampai adanya panen,\" katanya.

Pada bulan Agustus, ketika masa panen bawang merah telah berlangsung maka impor tersebut akan dihentikan. Harapannya agar bawang merah impor tak mengganggu harga cabai petani lokal. Seperti diketahui, harga cabai rawit melonjak 63% di bulan Juli ini dibanding bulan Juni 2013. Sedangkan harga bawang merah melonjak 48%.

\"Yang perlu mendapatkan perhatian kita pertama cabai rawit, ini pertama setiap kali, cabe rawit pada minggu ke 2 Juli, dibanding Juni kemarin meningkat 63%, saat ini Rp 45 ribu. Bawang merah naik 49,08%, Daging ayam naik 19%, Juli menjadi Rp 34 ribu, telur ayam ras, Juni Rp 18 ribu, Juli naik menjadi Rp 19.900,\" kata Hatta.

Deputi Menko Perekonomian Bidang Koordinasi Pangan dan Sumber Daya Hayati, Diah Maulida menjelaskan, yang akan diimpor adalah yang benar-benar dibutuhkan dan belum cukup dipenuhi dalam negeri. \"Misalnya untuk produk hortikultura yang suplainya kurang. Impor sudah diatur oleh Kementerian Perdagangan. Masuknya saat puasa dan lebaran,\" kata Diah.

Dengan kurs rupiah yang melemah, nilai impor nantinya akan menjadi tinggi. Tetapi Diah menjelaskan bahwa pada umumnya barang-barang yang diimpor harganya jauh di bawah harga lokal. Dalam realisasinya, Diah mengakui, bahwa tahun lalu terjadi keterlambatan di dalam importasinya. \"Untuk Semester II ini, semua izin impor untuk beberapa jenis hortikultura sudah keluar. Tinggal pelaksanaannya nanti Juli,\" kata dia.

Terdapat tiga belas jenis hortikultura yang akan diimpor, kata Diah. \"Tentunya yang kita ketahui bawang putih sudah kita lepas, dan beberapa komoditi sudah sama sekali tidak diatur. Yang masih (rawan harganya melonjak) memang cabe, bawang merah, kemudian buah-buahan seperti pisang, lalu kentang, wortel,\" kata dia.

Namun di samping itu, lanjut Diah, ada beberapa juga yang sama sekali tidak perlu impor. Pemerintah berjanji akan tetap melakukan evaluasinya. Kalau ternyata pasokan kurang, maka akan terus ditambah suplainya.

Ketua Komisi IV DPR Romahurmuziy meminta pemerintah tidak terburu-buru mengambil langkah impor ketika harga komoditas pangan naik. \"Jangan menggampangkan impor,\" katanya. Romahurmuziy menilai, menstabilkan harga untuk menekan inflasi adalah alasan yang baik. Apalagi, setelah harga BBM bersubsidi naik, menjelang liburan, bulan puasa, dan Lebaran, harga bahan pangan cenderung naik tajam.

Kendati demikian, Ia mengkhawatirkan situasi pemicu inflasi tersebut dijadikan dalih pemerintah melonggarkan impor. Ia meminta pemerintah melindungi produk pangan lokal. Tujuannya agar petani domestik tidak merugi ketika panen. \"Terutama untuk cabai, produksinya besar. Jika ada penurunan suplai, itu hanya sementara,\" katanya.

Terkereknya harga pangan bukan sekadar faktor produksi di sektor pertanian. Infrastruktur mangkrak dinilai menjadi biang mahalnya harga pangan. Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Infrastruktur, Rachmat Gobel, menilai lambannya perkembangan infrastruktur menjadi penyebab mahalnya harga pangan. Gobel mencontohkan harga jeruk lokal yang lebih mahal ketimbang jeruk impor.

Related posts