Kinerja Mentan Dipertanyakan

Menko Perekonomian Hatta Rajasa tentu merasa geram atas kinerja kementerian yang lelet, sehingga harga komoditas pangan belakangan ini bergejolak melampaui kewajaran. \"Sudah tiga bulan yang lalu saya bilang tambah stok, tambah stok. Kok masih lelet juga,\" ujarnya di Jakarta, pekan ini.

Hatta menginginkan kementerian yang ditunjuk tidak menunda-nunda pengadaan dan penambahan stok beberapa bahan pokok yang bergejolak melalui impor. Menunda-nunda pengadaan dan peningkatan pasokan stok, pada akhirnya membuat harga kebutuhan pokok menjelang Ramadhan dan Lebaran sekarang makin bergerak liar.

Pasalnya, kondisi harga sejumlah bahan kebutuhan pokok di pasar memang sudah bergejolak seiring dengan tibanya Ramadhan. Harga daging ayam, misalnya, kini sudah menyentuh Rp 35.000 per kg. Sedangkan bawang merah kembali meroket ke level Rp 60.000 per kg, cabai merah keriting Rp 34.000 per kg. Sementara daging sapi sudah tembus Rp 100.000 per kg.

Khusus untuk pengadaan daging sapi, ada kesan Kementerian Pertanian yang dipimpin Suswono saat ini bekerja lamban dan kecolongan mencari jalan keluar agar kisruh harga daging sapi selesai. Bahkan seharusnya Kementan dapat melakukan kebijakan intervensi untuk menurunkan tingginya harga daging sapi yang sudah terjadi sejak 8 bulan lalu.

Menteri Pertanian sepertinya tidak punya wibawa dan pengaruh terhadap sejumlah perusahaan swasta (importir daging). Padahal, Mentan seharusnya memiliki kewenangan dan menggunakan kewenangan itu untuk intervensi mendongkrak harga daging. Apakah ada mata rantai yang mengakibatkan harga daging naik?

Kementan juga seharusnya mampu bisa melakukan pengawasan, dan melaksanakan instruksi Menko Perekonomian sejak 3 bulan lalu. Tetapi sampai saat ini lonjakan harga daging sapi menembus Rp 100.000 per kg, pertanda pemerintah belum melakukan upaya yang maksimal mengatasi kisruh melambungnya komoditas pangan tersebut.

Tidak hanya itu. Hasil pemeriksaan BPK-RI pada semester II/2012 terhadap kinerja Kementan terungkap, bahwa dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014, pemerintah menargetkan swasembada daging sapi akan dicapai pada 2014, yaitu terwujudnya komposisi pemenuhan konsumsi daging sapi dari produksi lokal sebesar 90% dan dari impor sebesar 10%. Namun pada 2010, impor daging sapi masih tercatat 30%, apalagi dalam situasi sekarang dipastikan impor daging lebih 30% untuk normalisasi kebutuhan pasar menjelang lebaran.

Selain itu, Kementan dianggap tidak mampu mengendalikan gejolak harga bawang putih dan bawang merah yang tidak masuk akal belakangan ini. Pasalnya, kuota impor produk hortikultura (RIPH), khususnya bawang putih yang disetujui Kementan mencapai 160 ribu ton pada semester pertama 2013. Pada impor bawang putih tahap awal, jumlah produk pertanian yang harus masuk ke Indonesia mencapai 64.410 ton. Namun hingga kini, upaya yang dilakukan 16 perusahaan untuk mendatangkan bawang putih dari luar negeri baru mencapai 29.136 ton.

Perlu diingat bahwa sebelum pemerintah memutuskan harga BBM naik, sudah terjadi kenaikan harga sembako di antaranya daging, beras, bawang merah dan bawang putih, bahkan jengkol. Kenapa semudah itu harga sembako naik tanpa kendali, padahal selama ini perdagangan sembako sudah berjalan rutin untuk memenuhi kebutuhan masyarakat?

Related posts