Bappebti Ingin Petani Manfaatkan SRG - Alternatif Pembiayaan

NERACA

Bogor - Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan RI melakukan sosialisasi sistem resi gudang (SRG) kepada petani di Cariu, Bogor sebagai salah satu alternatif dalam mendapatkan pembiayaan. \"Kami mengharapkan petani dan kelompok tani dapat memanfaatkan sistem resi gudang sebagai alternatif pembiayaan,\" kata Kepala Bappebti Sutriono Edi dalam acara Sosialisasi SRG di Cariu, Bogor, Jawa Barat, Senin (8/7).

Dia menjelaskan sistem resi gudang merupakan suatu sarana alternatif pembiayaan bagi para petani, kelompok tani termasuk koperasi dan UKM. Para petani dapat menyimpan hasil pertaniannya di gudang yang telah mendapatkan izin oleh Kemendag, dan selanjutnya petani bersangkutan akan mendapatkan resi. Resi tersebut kemudian dapat dijadikan agunan oleh para petani untuk mendapatkan kredit atau pembiayaan perbankan.

Menurut dia sistem resi gudang menjawab permasalahan pembiayaan yang selama ini dihadapi petani. Selama ini untuk memenuhi kebutuhan hidupnya petani terpaksa menjual komoditasnya saat panen raya, ketika harga komoditas mengalami penurunan.

Di sisi lain petani juga tidak memiliki agunan untuk meminjam kredit di bank. Akibatnya petani menggadaikan komoditasnya ke tengkulak dengan harga jual rendah. \"Dengan adanya sistem resi gudang petani dapat melakukan tunda jual hingga harga komoditasnya membaik, namun tetap bisa mendapatkan pembiayaan bank. Petani tidak perlu jual komoditas ke tengkulak, karena dalam satu jam setelah resi hasil penyimpanan komoditas diserahkan ke bank, uang sudah bisa dicairkan,\" tuturnya.

Dia mengatakan implementasi SRG di daerah tidak bisa terwujud tanpa sinergi antara Bappebti, pemerintah daerah, dinas setempat, pengelola gudang, lembaga penilaian kesesuaian, bank dan petani. Dia mengharapkan bank juga dapat memberikan sosialisai secara proaktif terhadap petani terkait manfaat sistem resi gudang sebagai alternatif pembiayaan.

Sebelumnya, Kepala Biro Pasar Fisik dan Jasa Bappebti, Ismadjaja Tungkagi. menambahkan, berdasar data yang diperoleh, implementasi sistem resi gudang (SRG) yang terangkum volume penyimpanan komoditas mengalami peningkatan. Catatan kelompok tani (Poktan), gabungan kelompok tani (Gapoktan) serta Koperasi telah menyimpan barang di gudang SRG mencapai 28.736,12 ton gabah.

Hingga 25 Juni 2013, jumlah resi gudang yang telah diterbitkan sebanyak 931 resi dengan total volume komoditas sebanyak 37.250 ton yang terdiri dari 32.193 ton gabah, 3.737 ton beras, 1.084 ton jagung, 20 ton kopi, dan 215 ton rumput laut. \"Nilai dari seluruh komoditas tersebut Rp179.95 miliar,\" kata dia.

Sedangkan jumlah resi gudang yang diterbitkan dan diagunkan dari tahun ke tahun terus meningkat hingga 931 resi gudang. “Selanjutnya, komoditas yang diasuransikan meliputi, gabah, beras, jagung, kopi, rumput laut, kakao, lada, karet dan rotan serta garam,” jelasnya.

Implementasi SRG

Sementara itu, Asisten Deputi Ekonomi dan Keuangan Daerah, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Sartono menilai implementasi skema pembiayaan sistem resi gudang (SRG) terpadu terkendala kurangnya kesepahaman masyarakat, petani dan dunia usaha terhadap mekanisme SRG.

\"Hambatan lainnya karena minat terhadap pemanfaatan dan pengelolaan gudang termasuk komitmen pemerintah daerah terhadap keberlanjutan kebijakan pengembangan SRG. Ini yang belum optimal, sehingga menghambat minat dan komitmen masyarakat masih rendah,\" ujar Sartono.

Kendati demikian, SRG merupakan satu dari instrumen yang dapat membantu stabilitas harga, khususnya terkait komoditas hasil pertanian dan kelautan adalah sistem resi gudang. Sistem tersebut juga bisa digunakan dalam rangka menjaga suplai ketersediaan pasokan bahan pangan dan bahan baku. Dan sekaligus untuk mengontrol sistem distribusi dan sirkulasi hasil pertanian.

Meskipun bisa SRG bisa membantu dalam pembiayaan, namun Ketua Umum Gabungan Eksportir Indonesia (GPEI) Benny Soestrisno menyatakan lonjakan harga bawang merah dan bawang putih saat ini dipicu belum efektifnya sistem resi gudang. \"Harga bawang yang tinggi lantaran belum efektifnya sistem resi gudang. Petani pada saat musim panen raya, daripada harga jatuh, sebagian hasil panennya dijual, sebagian lagi disimpan di gudang. Nah ini yang belum dioptimalkan kalau sebenarnya mau membantu petani,\" kata Benny.

Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) harus mempromosikan sistem resi gudang ini. Dengan skema sistem resi gudang, kata Benny, komoditas yang dimiliki petani bawang yang disimpan di gudang akan diterbitkan resinya agar dapat dijadikan agunan. Pelaku usaha pun dapat menjaminkan resi gudang tersebut untuk memperoleh modal kerja dan kebutuhan pembiayaan.

Related posts