Pasar Ritel Buru Ikan Patin Lokal - Impor Diperketat

NERACA

Karawang - Kebijakan pemerintah yang memperketat impor ikan membuat pasar ritel modern mengalihkan pasokan produk khususnya untuk ikan patin ke produk lokal. Sebelumnya, hampir sebagian besar produk-produk ikan patin didatangkan dari Vietnam. Hal tersebut seperti diungkapkan Senior Merchendiser Manager Fresh Food Lotte Mart Widya Sulaksono saat ditemui usai menghadiri panen Udang Vaneme Nusantara I di Kerawang, Jawa Barat, akhir pekan kemarin.

Ia menuturkan bahwa minat konsumen terhadap ikan patin cukup besar. Dalam sebulan, pihaknya mengaku telah berhasil menjual 400 kg vilet patin. \"Ikan patin memang belum termasuk 5 besar produk fresh good yang digemari masyarakat. Namun selalu ada peningkatan,\" tuturnya.

Pada Agustus nanti, pihaknya memastikan bahwa produk vilet ikan patin lokal sudah bisa ditemui di store Lotte Mart yang tersebar di 8 Lotte Mart. \"Saat ini baru ikan patin lokal yang telah kita jual. Namun kedepannya, kami juga akan menjual udang, ikan gurame, ikan nila lokal,\" ucapnya.

Sementara itu, salah satu distributor untuk produk fresh good yaitu PT Adib Food Supplies memastikan bahwa pihaknya telah siap untuk mendistribusikan vilet ikan patin untuk pasar-pasar ritel. Saat ini, pihaknya telah mendistribusikan beberapa produk segar seperti ikan patin, ikan lele, dan gurame kepada beberapa pasar ritel seperti Hypermart, Hero, Giant, Carefour dan Ranch Market.

General Manager PT Adib Food Supplies Ahmad Shodiq mengaku kapasitas produksi perusahaannya bisa mencapai 5 ton sehari. Namun, hingga saat ini baru mencapai 1,5 ton. \"Dengan bisa memasok ke Lotte Mart, tentunya akan bertambah lagi produksinya,\" katanya.

Hingga kini, pihaknya masih mengandalkan pasokan ikan patin dari Balai Layanan Umum Perikanan Budidaya (BLUPBB) Kerawang. Hal itu lantaran kualitas ikan dari tambak BLUPBB sudah terjamin. Bahkan pihaknya sudah merencanakan untuk diekspor menyusul serangan virus yang telah melanda salah satu negara ekportir terbesar ikan patin yaitu Vietnam.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto membenarkan bahwa pemerintah telah memperketat impor ikan patin pada tahun ini. Bahkan, menurut Slamet, kuota impor ikan patin pada tahun ini sudah habis. Akan tetapi kuota impor pada tahun lalu masih tersisa sehingga pengusaha masih memanfaatkan sis impor tahun lalu untuk tahun 2013. \"Izin impor untuk 2013 sudah habis. Namun jatah di tahun lalu masih ada. Makanya hal itu dimanfaatkan,\" lanjutnya.

Slamet menuturkan bahwa saat ini produksi ikan patin nasional bisa mencapai 1 juta ton. Namun, pada triwulan I, pihaknya mendapatkan laporan baru mencapai 250 ribu ton. \"Dengan diperketat impor dan serangan virus di Vietnam merupakan hal yang positif bagi produsen ikan patin nasional untuk bisa memproduksi lebih banyak sehingga bisa menjadi raja di rumah sendiri,\" ucapnya.

Target Produksi

Sebelumnya, Slamet juga menegaskan bahwa untuk mencapai target produksi ikan patin maka dibutuhkan pakan ikan sebesar 1,3 juta ton. Kebutuhan pakan ini terus meningkat menjadi 2,2 juta ton pada tahun 2014 karena target produksi patin juga meningkat menjadi 1,8 juta ton. Peningkatan kebutuhan pakan ikan seiring dengan peningkatan produksi ikan, tidak akan bisa dihindari. Untuk itu diperlukan adanya kerjasama antara pabrik pakan dan pemerintah, baik pusat dan daerah.

Menurut Slamet, pakan hingga saat ini masih menjadi kendala dalam budidaya perikanan. Pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha budidaya ikan, hingga mencapai 70% hingga 80%. Untuk itu ketersediaan pakan yang berkualitas, terutama dengan pendirian pabrik pakan ikan di dekat lokasi budidaya menjadi sangat penting.

Lebih lanjut lagi, Slamet menuturkan jenis daging patin Indonesia tidak ada masalah dan menunjukkan performance yang bagus. \"Ini yang saya kira menjadi kesempatan ke depan untuk diekspor. Kabar baiknya Amerika Serikat saat ini menerima daging putih, dengan distopnya impor Vietnam,\" lanjut dia.

Sementara itu, terkait dengan masih rendahnya serapan pasar dunia akan patin dan produk olahan Indonesia, ia mengakui masih kurang ada industrialisasi atau hilirisasi patin.

BERITA TERKAIT

Akademisi Lokal Juga Memiliki Kompetensi yang Baik - Polemik Saksi Ahli WN Asing

Akademisi Lokal Juga Memiliki Kompetensi yang Baik Polemik Saksi Ahli WN Asing NERACA Medan – Penunjukan saksi ahli dari kalangan…

Pasar Menunggu Aturan Papan Akselerasi

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan ada lima perusahaan dengan Net Tangible Assets (NTA) atau aset berwujud bersih kurang dari…

Debut Perdana di Pasar Modal - IPO Nusantara Properti Oversubscribed

NERACA Jakarta – Pada perdagangan Jum’at (18/1), saham perdana PT Nusantara Properti Internasional Tbk (NATO) akan resmi dicatatkan di Bursa…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Niaga Bilateral - Indonesia-Amerika Berkomitmen Tingkatkan Nilai Perdagangan

NERACA Jakarta – Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan Arlinda menyatakan Republik Indonesia dan Amerika Serikat berkomitmen meningkatkan…

Ada Kemajuan Dalam Pembahasan Penerapan GSP

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita menyatakan bahwa ada kemajuan dalam pembahasan mengenai penerapan pemberian fasilitas kemudahan perdagangan…

Data BPS - Ekspor Industri Pengolahan Turun 6,92 Persen di Desember 2018

NERACA Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melansir ekspor industri pengolahan pada Desember 2018 mengalami penurunan 6,92 persen jika dibandingkan…